Sengitnya Rivalitas Lechia Gdansk dan Arka Gdynia dalam Derbi Tricity

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Sengitnya Rivalitas Lechia Gdansk dan Arka Gdynia dalam Derbi Tricity

Dalam 10 tahun terakhir, rivalitas antara Lechia Gdansk dan Arka Gdynia dikenal sebagai salah satu yang terpanas di ranah sepakbola Polandia. Lechia dan Arka bukan kesebelasan besar di Polandia seperti halnya Legia Warsawa atau Lech Poznan. Namun, duel antara Lechia melawan Arka tetap menarik atensi tinggi publik. Maklum, laga kerap berlangsung dalam tensi tinggi, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Sejatinya, Lechia dan Arka merupakan dua kesebelasan yang berasal dari dua kota berbeda. Namun, laga antara Lechia melawan Arka masuk dalam kategori derbi. Gdansk dan Gdynia merupakan dua kota yang berada dalam wilayah pantai utara Polandia. Kedua kota tersebut pun hanya berjarak 10 kilometer.

Bersama Sopot, Gdansk dan Gdynia masuk dalam wilayah metropolitan Tricity. Mengingat Lechia dan Arka merupakan dua kesebelasan besar nan sukses dari wilayah pantai utara Polandia, maka sebutan Derbi Tricity pun disematkan dalam duel Lechia melawan Arka.

Bentrokan pertama Lechia dan Arka terjadi pada 2 September 1954, dalam laga lanjutan Liga II Polandia. Dalam bentrokan tersebut, Lechia meraih kemenangan tipis 2-1 atas Arka. Hingga November 2017, tercatat kedua kesebelasan sudah 38 kali bertanding di semua ajang. Dari jumlah tersebut, Lechia memenangi 13 pertandingan, 14 imbang, dan 11 kalah.

Bentrokan antara Lechia melawan Arka memang telah berlangsung sejak tahun 1954, atau sudah lebih dari 50 tahun partai derbi tersebut berlangsung. Namun faktanya, sebelum memasuki tahun 2008, pertandingan antara Lechia melawan Arka belum menyuguhkan rivalitas panas di dalam lapangan, khas partai derbi.

Baca juga: Gdansk, Kota Pelabuhan Primadona Para Imigran

Baru pada 3 Oktober 2008 percik-percik rivalitas Lechia dan Arka mulai tumbuh. Hal tersebut dikarenakan untuk kali pertama dalam sejarah, bentrokan kedua kesebelasan terjadi di Ekstraklasa, atau kompetisi level utama Polandia. Dalam Derbi Tricity pertama di Ekstralaksa, Lechia meraih kemenangan tipis 1-0 atas Arka.

"Dalam beberapa tahun terakhir, Lechia menjadi klub terbesar dalam derbi ini. Lechia memenangi 7 dari 9 pertandingan di Ekstraklasa pada abad XXI atas Arka, sementara dua pertandingan lainnya berakhir imbang. Ini adalah salah satu derbi terbaik dalam sepakbola Polandia," tambah Michal Galezewski dari Sportowefakty.

Lechia memang dominan, tapi bukan berarti Arka tidak punya cara untuk meredam kesombongan Lechia. Pada akhir musim 2016/17, secara mengejutkan Arka berhasil menjadi jawara Polish Cup. Prestasi berlanjut setelah gelar Polish Super Cup 2017 pun sukses mereka raih. Pencapaian tersebut membuat Lechia meradang. Maklum, kondisinya pada saat itu Lechia sudah 34 tahun mengalami puasa gelar. Kali terakhir mereka mengangkat trofi juara adalah tahun 1983 di ajang Polish Cup dan berlanjut di Super Polish Cup.

Pada awal November 2017, saat Arka dan Lechia bertemu dalam lanjutan pertandingan Ekstraklasa di Stadion GOSIR, para pendukung Arka membentangkan spanduk bertuliskan, “Klub Paling Terkenal di Tricity” di salah satu sudut tribun penonton Stadion GOSIR. Tentu saja spanduk tersebut ditujukan untuk merendahkan Lechia yang lama mengalami puasa gelar. Tapi, Lechia membalas ‘ejekan’ tersebut dengan cara yang elegan – mengalahkan Arka di hadapan pendukungnya sendiri.

Biar bagaimanapun, ada gengsi yang dipertaruhkan dalam Derbi Tricity. Sentimen prestasi begitu kental memengaruhi rivalitas Lechia dan Arka. Kedua kesebelasan selalu berlomba menunjukkan dominasinya sebagai kesebelasan terbaik di wilayah pantai utara Polandia.

"Derbi antara Lechia dan Arka selalu panas. Selalu ada prestise soal dominasi sepakbola di daerah itu (pantai utara),” kata jurnalis Przeglad Sportowy, Piotr Wisniewski, saat dihubungi melalui pesan singkat.

Rivalitas yang disuguhkan dalam Derbi Tricity tak hanya terjadi di dalam lapangan, namun mengular ke luar lapangan yang melibatkan suporter dari kedua kesebelasan. Hal tersebut yang membuat petugas keamanan bersiaga penuh setiap kali Derbi Tricity berlangsung. Sebab, kericuhan antara suporter Lechia dan Arka kerap terjadi.

Salah satu kejadian yang menggambarkan panasnya rivalitas dalam Derbi Tricity di luar lapangan terekam saat derbi tersebut berlangsung di Stadion GOSIR, 30 Oktober 2016 lalu. Dalam pertandingan yang berakhir imbang 1-1 itu, pendukung Lechia dan Arka terlibat dalam kerusuhan yang membuat suasana kala itu mencekam. Suporter kedua kesebelasan tidak hanya saling melempar ejekan, namun juga saling serang dengan melemparkan suar (flare) ke arah tribun masing-masing.

Baca juga: Lechia Gdansk dan Kekuatan Sepakbola yang Mengubah Polandia Selamanaya

***

Soal rivalitas suporter Lechia dan Arka, dilansir dari berbagai sumber, itu telah berlangsung lama, bahkan sebelum tensi Derbi Tricity memanas di dalam lapangan. Konon, rivalitas ini bermula saat timnas Polandia melakoni pertandingan persahabatan melawan Slovakia, Oktober 1995. Saat itu, pendukung Arka yang bergabung bersama suporter Lech dan Cracovia terlibat dalam kerusuhan bersama Legia dan Zaglebie Sosnowiec di Bratislava. Saat itu pasukan gabungan Arka berhasil memukul mundur pendukung Lechia dan koloninya dari stadion.

Tak lama kemudian, suporter Arka, Lech, dan Cracovia membentuk aliansi suporter yang kesohor dengan nama The Great Triad. Selama sekitar delapan tahun lamanya The Great Triad menjadi aliansi suporter terkuat di Polandia.

Setelah itu, kelompok pendukung Lechia bersama Slask Wroclaw, Wisla Krakow membentuk aliansi dengan nama The Three Kings of Great Cities. Kemudian, aliansi tersebut berkembang setelah masuknya kelompok suporter Legia Warsawa. Pogon Szczecin dan Zaglebie Sosnowiec hingga aliansi suporter dikenal dengan nama The Great Coalition.

Meski begitu, rivalitas yang lebih dikenal antara aliansi suporter di Polandia adalah perseteruan antara The Three Kings of Great Cities dengan The Great Triad. Salah satu bentrokan terkenal antara dua aliansi suporter tersebut terjadi Pada 30 Maret 2003. Saat itu digelar pertandingan divisi dua Polandia antara Slask Wroclaw melawan Arka Gdynia di Stadion Oporowska.

Sebelum pertandingan, semua anggota The Great Triad terlibat bentrokan dengan The Three Kings of Great Cities di Grabiszynska Street, sekitar 500 meter dari stadion. Saat itu suporter terlibat tawuran dengan senjata seperti pisau, parang, tongkat kayu, dan batu. Triad berhasil dikalahkan dan melarikan diri dari tempat pertempuran.

Beberapa hari kemudian, Kepolisian Wroclaw menangkap 229 orang terlibat dalam kerusuhan tersebut. 100 orang di antaranya mendapat sanksi larangan menonton pertandingan sepakbola di Polandia selama tiga tahun.

Musim ini, Arka (peringkat ke-9) berada di atas Lechia (peringkat ke-15). Pertandingan malam ini (07/04) adalah pekan terakhir kompetisi reguler Ekstraklasa yang terdiri dari 16 kesebelasan peserta. Setelah itu, kompetisi akan terbagi ke dalam dua bagian, yaitu delapan kesebelasan teratas akan bermain di babak play-off gelar juara, sementara delapan kesebelasan terbawah akan bermain di babak play-off degradasi.

Jika Arka bisa mengalahkan Lechia, Arka memiliki peluang untuk masuk ke play-off gelar juara, yang artinya adalah mereka akan 100% bertahan di Ekstraklasa musim depan. Sementara Lechia sudah dipastikan akan mengikuti play-off degradasi di sisa musim ini. Jika kedua kesebelasan bisa bertahan di Ekstraklasa, terutama Lechia, maka musim depan Egy Maulana Vikri kemungkinan bisa merasakan sendiri panasnya Derbi Tricity.

Komentar