Melihat Duel Juventus vs AC Milan lewat Sosok Andrea Pirlo

Cerita

by Rio Rizky Pangestu

Rio Rizky Pangestu

Pembaca yang menulis.

Melihat Duel Juventus vs AC Milan lewat Sosok Andrea Pirlo

Jeda internasional telah berakhir. Kini, jadwal liga-liga Eropa kembali hadir menyuguhkan pertandingan-pertandingan menarik. Salah satunya adalah lanjutan Serie A 2017/2018 yang akan mempertemukan Juventus vs AC Milan, di Allianz Stadium, Turin, Minggu (1/4) dini hari WIB.

Kedua tim memang terpaut cukup jauh di klasemen sementara. Dengan selisih 25 poin, Juventus masih bertengger di peringkat pertama mengumpulkan 75 poin; Milan ada di peringkat keenam dengan 50 poin. Kendati demikian, ada beberapa alasan mengapa laga antara kedua tim ini tetap layak untuk ditunggu dan disaksikan.

Pertama, karena kedua tim sedang mengejar misi mereka masing-masing. Juventus sedang dalam misi memperlebar jarak dari kejaran Napoli di peringkat kedua yang saat ini hanya terpaut dua poin dengan mereka. Sementara AC Milan tentu ingin mempertahankan performa baik mereka yang dalam 10 pertandingan terakhir belum terkalahkan. Yang kedua, bagaimanapun, pertandingan ini merupakan pertandingan yang mempertemukan dua tim besar Italia yang memiliki sejarah panjangnya masing-masing.

Laga antara Juventus vs AC Milan memang tidak sebesar laga Juventus kontra Inter Milan misalnya, yang sampai diberi gelar “Derby d’Italia. Namun, siapa yang membutuhkan gelar derby tersebut, ketika keduanya, dengan sendirinya mampu menjadi besar lewat pencapaian-pencapaian yang mereka telah raih?

Juventus dan AC Milan merupakan dua tim yang telah meraih banyak gelar, baik di ajang dosmetik maupun Eropa. Tercatat sampai saat ini, Juventus dan AC Milan sudah mengoleksi 51 gelar Serie A (33 Juventus; 18 AC Milan), 9 UEFA Champions League (2 Juventus; 7 AC Milan), dan 17 Coppa Italia (12 Juventus; 5 AC Milan).

Berkat pencapaian-pencapaian tersebutlah kedua tim ini menjelma menjadi dua kesebelasan besar di Italia. Oleh karenanya, meskipun tidak memiliki tajuk derby, pertandingan antara Juventus vs AC Milan tetaplah dipandang sebagai salah satu pertandingan besar di Italia.

Terlebih lagi, baik Juventus maupun AC Milan pernah banyak dihuni oleh pemain-pemain bintang pada masanya masing-masing. Kita tidak perlu menyebutkan satu per satu siapa saja pemain tersebut di sini. Yang pasti, terlepas dari banyaknya pemain bintang yang pernah membela Juventus maupun Milan, ada satu pemain yang bisa dibilang sangat merepresentasikan gambaran rivalitas antara kedua tim ini. Gambaran rivalitas antara Juventus vs AC Milan tersebut terdapat dalam sosok Andrea Pirlo.

***

Tidak perlu diragukan lagi, Pirlo merupakan salah satu pesepakbola terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Ia merupakan pemain tengah yang jenius dengan visi permainan brilian. Pirlo bukan pemain yang bertipikal gesit dan cepat, sebaliknya ia bermain dengan sangat tenang dan terukur. Raut wajahnya yang datar semakin menegaskan karakter tersebut.

Pirlo bukanlah orang yang gemar berbicara apalagi meledak-ledak di lapangan. Pirlo menunjukkan kehebatannya melalui permainan yang ia tunjukkan. Dengan kreativitasnya, ia mampu membuka celah pertahanan lawan melalui pergerakan dan umpan yang ia lepaskan. Pirlo pun kerap menciptakan gol melalui tembakan jarak jauh; menunjukkan dirinya juga memiliki kejeniusan dalam melihat peluang gol.

“Pirlo adalah seorang pemain yang pendiam. Ia berbicara dengan kakinya,” ucap pelatih asal Italia, Marcelo Lippi. Bahkan Johan Cruyff pernah memuji Pirlo sebagai pemain jenius yang bisa melakukan apapun yang ia inginkan.

Karakternya yang pendiam di atas lapangan, namun di satu sisi sarat dengan aksi-aksinya yang mengundang decak kagum, justru semakin menunjukkan kebesaran serta sosoknya yang elegan. Berkat kehebatannya, Pirlo beberapa kali berhasil membawa klub yang dibelanya meraih gelar.

Di kariernya bersama Brescia musim 1996/97, ia berhasil menjuarai Serie B. Saat membela AC Milan selama 10 musim dari tahun 2001, Pirlo telah memenangkan dua kali gelar Serie A, satu Coppa Italia, dua kali gelar Liga Champions, dua kali UEFA Super Cup, dan satu gelar FIFA Club World Cup.

Ketika hengkang ke Juventus musim 2011/12, dan membela Juve selama empat musim, ia telah memenangkan tiga gelar Serie A, satu Coppa Italia, dan dan dua kali juara Supercoppa Italiana.

Bersama tim nasional Italia, Pirlo pun sarat dengan raihan gelar. Ia berhasil membawa Italia menjuarai Piala Dunia 2006, menjadi runner-up di Piala Eropa 2012, dan menjadi juara Piala Eropa U-20 pada tahun 2000.

Dengan kehebatan dan kemampuannya, Pirlo telah berhasil memberikan banyak gelar kepada klub-klub yang pernah dibelanya, juga kepada tim nasional Italia. Akan tetapi, dengan segala hal yang telah diberikannya itu, sampai dirinya pensiun Pirlo tidak pernah diberi gelar sebagai pemain terbaik dunia.

Lalu, apakah eks pemain AC Milan dan Juventus itu berkurang kebesarannya hanya karena hal tersebut? Jawaban Pirlo akan hal ini yang ia tuliskan dalam bukunya yang berjudul I Think Therefore I Play (2013), akan menjelaskan semuanya.

“Aku pikir trofi Piala Dunia dan Liga Champions lebih berharga daripada Bola Emas, tapi aku diam saja. Jika aku buka mulut, aku harus mengatakan bahwa aku telah memenangkan keduanya sementara Messi belum pernah menjuarai Piala Dunia. Aku pasti dianggap arogan dan itu bukan gayaku."

***

Agaknya kita setuju, bahwa tanpa diberi gelar sebagai pemain terbaik pun, Pirlo tidak akan berkurang kebesaran dan kehebatannya di mata kita semua. Begitupun dengan duel antara Juventus vs AC Milan—dua tim yang pernah dibela Pirlo.

Kendati tidak pernah diberi gelar sebagai derby seperti halnya pertandingan antara Inter Milan vs AC Milan, Juventus vs Inter Milan, atau Roma vs Lazio, pertandingan antara Juventus vs AC Milan tidaklah berkurang kebesarannya di mata kita semua. Karena, seperti halnya Pirlo, kedua tim yang akan bertarung ini justru menjadi tetap besar di mata kita karena koleksi trofi yang mereka pernah raih.

Jika Pirlo menganggap gelar Piala Dunia dan Liga Champions lebih berharga dibanding gelar Bola Emas, maka Juventus dan AC Milan pun tentunya akan menganggap koleksi trofi mereka jauh lebih berharga dibanding pemberian gelar berupa nama derby.

Komentar