Walters Memilih Irlandia Karena Mendiang Ibu

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Walters Memilih Irlandia Karena Mendiang Ibu

Jonathan Walters terenyuh mendengar pertanyaan Tony Livesey’s, reporter BBC Radio. Saat itu, Tony melontarkan pertanyaan mengenai Helen Brady – ibu Jonathan Walters. Walters memejamkan mata, mengingat memori tentang Helen yang masih tersimpan di kepalanya. Ia mulai menjawab, namun kemudian berhenti bercerita, dan lantas memalingkan wajah dari hadapan Tony sambil terisak. Air mata mulai menetes deras dari dua bola matanya, Walters menangis sejadi-jadinya di hadapan Tony.

Pertanyaan Tony sebenarnya terkesan biasa saja. Namun bagi Walters, pertanyaan tersebut amat tak biasa, karena menguak kembali kenangan pahit dalam kehidupannya yang lama ia kubur dalam-dalam. Bagi Walters, sosok Helen amat berarti dalam kehidupannya. Hingga ketika Helen pergi menghadap Tuhan, Walters sangat terpukul. Kepergian Helen menjadi momen terburuk dalam kisah hidupnya.

***

Walters mengenang saat-saat terakhir bersama Helen. Kala itu, Walters yang masih berusia 11 tahun tengah menikmati sisa liburan sekolahnya. Di penghujung masa liburan, Walters dan keluarga berencana berlibur ke Spanyol. Luapan kegembiraan dirasakan Walters, karena baginya rencana liburan kali ini akan menimbulkan kesan berbeda dari biasanya. Saat musim liburan tiba, Walters dan keluarga biasanya bertandang ke Irlandia, mengunjungi kampung halaman Helen.

Namun, sepekan sebelum keberangkatan ke Spanyol, pil pahit ditelan Walters. Luapan kegembiraan yang sebelumnya dirasakan, berganti duka mendalam. Kondisi kesehatan Helen yang mengidap kanker semakin memburuk. Walters, terpaksa menghabiskan sisa liburannya di rumah sakit, merawat ibunya yang kritis.

Sampai pada suatu hari, ayahnya, James Walters, mengajaknya ke ruangan tempat ibunya dirawat. Sesaat kemudian, James berkata kepada Walters bahwa dirinya telah diberitahu tim dokter, hidup Helen takkan lama lagi.

“Ayah berkata kepadaku: `lihat, ibumu tidak akan lama lagi.` Seketika, aku melepaskan diri dan mungkin menangis sekitar enam atau tujuh jam,” terang Walters, dilansir dari BBC.

Walters berupaya tak mengindahkan prediksi tim dokter mengenai peluang hidup Helen yang disampaikan James. Ia masih memiliki optimisme besar bahwa Helen bisa pulih dan melanjutkan hidup seperti sedia kala. Namun, takdir berkata lain. Harapan Walters melihat Helen pulih pun sirna, setelah Helen dinyatakan meninggal dunia.

Dalam suasana hati yang mendung, Walters mencoba tegar. Menutupi kesedihan dengan bersikap bahwa semua baik-baik saja. Ia tidak mau orang lain tahu kesedihan yang dirasakannya. Bahkan, sehari setelah kepergian ibunya, Walters tetap datang ke sekolah, menjalani aktivitas seperti biasanya. Walters juga tidak pernah mau membahas soal Helen kepada semua orang, termasuk istrinya sendiri. Karena baginya, membicarakan Helen akan membuat hatinya semakin terkoyak.

"Aku bersikap seolah semuanya berjalan baik-baik saja, tapi, itu hanya kepura-puraan. Aku juga tidak pernah mau membahas soal ibuku kepada semua orang. Aku menguncinya rapat-rapat. Begitulah caraku mengatasinya, aku menguncinya. Mungkin aku melakukannya sejak dia meninggal dunia.”

Bagi Walters, mungkin itu adalah cara terbaik baginya untuk melepaskan diri dari duka. Walters, tak mau menyia-nyiakan kehidupannya dengan larut dalam kesedihan.

Sejak kecil, Walters telah menaruh minat yang besar di bidang sepakbola. Setiap hari, ia berlatih keras untuk menggapai kesuksesan di lapangan hijau. Setelah menimba ilmu sepakbola di akademi Shaftesbury, potensi besar Walters tercium Blackburn Rovers yang kemudian merekrutnya bergabung bersama akademi mereka pada 1998.

Dua tahun kemudian, Walters naik kelas ke tim senior. Sayang, di awal kiprahnya sebagai pesepakbola, karier Walters tak terlalu mentereng. Saat membela tim utama Blackburn statusnya tak lebih dari pemain pelapis yang sering dipinjamkan ke klub lain. Bahkan Walters sempat bergabung bersama kesebelasan divisi bawah Inggris seperti Crewe Alexandra, Barnsley, Wrexham, hingga Ipswich Town.

Pada 2010, karier Walters mulai menunjukkan kemajuan tat kala ia diboyong Stoke City dari Ipswich di awal musim 2010/11. Kariernya mulai menanjak setelah membela Stoke. Selama enam musim di Stoke, ia mencatatkan 226 penampilan dengan torehan 46 gol di semua ajang. Pada musim 2017, Burnley kemudian meminangnya.

Catatan karier Walters di level klub sejatinya tak secemerlang di level timnas. Sejak usia muda, Walters telah menjadi langganan timnas Republik Irlandia. Dari 2010, ia sudah memiliki lebih dari 50 caps bersama Timnas Irlandia. Pada 2016, ia bahkan dinobatkan sebagai pemain terbaik Irlandia menyusul performa impresifnya di kualifikasi Piala Eropa 2016.

Perjalanan karier Walters di level Timnas Irlandia cukup unik. Ia merupakan pesepakbola kelahiran Moreton, Merseyside, Inggris, kehidupannya pun lebih banyak dihabiskan di Inggris. Bahkan sepanjang kariernya, belum ada kesebelasan Irlandia yang ia bela. Namun Walters lebih memilih membela Timnas Irlandia ketimbang Inggris. Sepeninggal ibunya, Walters telah berjanji bahwa ia hanya akan membela Timnas Irlandia, yang merupakan negara asal ibunya.

"Bila kamu lebih muda kamu ingin melakukan semuanya untuk membuat ibumu bangga, atau orang tuamu bangga. Itulah yang aku lakukan saat masih muda. Semua yang kuakukan untuk ibuku. Itu sebabnya ketika aku berusia 16 atau 17 tahun, aku ingin sukses sebagai pemain sepakbola. Aku hanya ingin bermain untuk Irlandia, karena ibuku orang Irlandia," tukasnya.

Foto: Twitter @TweetMoreUKNews

Komentar