Sepakbola Curacao Berutang Banyak kepada Belanda

Cerita

by redaksi

Sepakbola Curacao Berutang Banyak kepada Belanda

Federasi sepakbola Curaçao (FFK) diresmikan pada 9 Februari 2011, tujuh tahun yang lalu. Sama seperti federasi sepakbola yang berasal dari negara kepulauan, Curaçao adalah federasi sepakbola yang tidak besar-besar amat, tapi mereka bisa dibilang beruntung.

Curaçao adalah sebuah negara yang berada di wilayah Kepulauan Karibia, di sebelah utara Venezuela, dan merupakan bagian dari Kerajaan Belanda (anggota persemakmuran Belanda). Negara ini memiliki ikatan yang kuat dengan Belanda, campur tangan Belanda pun cukup kuat dalam perkembangan Curaçao sebagai negara.

Hampir sama seperti Indonesia (meski Indonesia berstatus sebagai negara terjajah), cukup banyak bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur Belanda yang tersebar di Curaçao, termasuk di ibukotanya, Willemstad. Bahasa Belanda pun menjadi salah satu bahasa resmi dari negara ini, selain Bahasa Inggris dan Papiamentu (bahasa lokal).

Selain dari segi bangunan dan bahasa, campur tangan Belanda pun cukup terasa kuat dalam perkembangan sepakbola Curaçao, termasuk dalam segi federasinya.

Sejarah Federasi Sepakbola Curaçao

Setelah terjadinya geliat sepakbola di Curaçao, yang dibawa oleh para masyarakat Curaçao yang sempat belajar di Belanda, federasi sepakbola Curaçao yang pertama pun dibentuk, beberapa tahun setelah kesebelasan sepakbola pertama di Curaçao dibentuk pada 1909. CVB (Curaçao Voetbal Bond) adalah nama dari federasi tersebut, didirikan pada 1921.

CVB membawahi dan mengatur kegiatan sepakbola yang dilangsungkan di Curaçao saat itu, termasuk mengadakan liga sepakbola Curaçao yang pertama pada 1926 silam. CVB pun mulai berafiliasi dengan FIFA pada 1932.

Dilihat dari penggunaan nama CVB ketika itu, terlihat pengaruh Belanda yang begitu kuat dalam pemilihan nama federasi sepakbola Curaçao. Untuk menjalin persahabatan dengan sesama pulau dan negara yang merupakan anggota persemakmuran di Kepulauan Karibia, CVB mengajak federasi negara Aruba untuk bergabung dan membentuk federasi sepakbola persemakmuran Belanda.

Kelak beberapa negara persemakmuran Belanda yang lain juga ikut bergabung. Pada 1958 semua negara persemakmuran Belanda tersebut membentuk NAVU, yaitu Persatuan Sepakbola Persemakmuran Belanda, yang bertujuan untuk merangkul semua negara persemakmuran Belanda yang ada di kepulauan Karibia.

Akhirnya pada 9 Februari 2011, NAVU dibubarkan, dan nama federasi sepakbola Curaçao berubah menjadi FFK (Federashon Futbòl Kòrsou, menggunakan Bahasa Papiemento). Memerhatikan perkembangan dari federasi sepakbola Curaçao, tampak campur tangan (atau bantuan?) dari Belanda begitu kuat terhadap sepakbola Curaçao.

Bantuan dari Belanda, Menguntungkan Atau Merugikan?

Membandingkan dengan negara Indonesia, ketika sepakbola di sini digunakan sebagai alat perlawanan untuk melawan penjajahan Belanda, sehingga kerap terjadi bentrokan antara pemerintah kolonial dan warga pribumi terkait sepakbola, lain hal dengan yang terjadi di Curaçao.

Berkat afiliasi mereka dengan Kerajaan Belanda (dalam bentuk persemakmuran), banyak hal positif yang didapat oleh negara anggota CONCACAF tersebut. Pada 1946 silam, Feyenoord Rotterdam bisa didatangkan untuk ikut turnamen internasional yang ada di Curaçao, melibatkan negara Suriname, Aruba, dan klub Atletico Juniors dari Kolombia.

Selain itu, banyak juga pemain asal Curaçao yang berkesempatan untuk bermain dan merasakan atmosfer Liga Belanda berkat afiliasi baik mereka dengan Kerajaan Belanda, dari dulu hingga sekarang. Pelatih-pelatih kenamaan seperti Patrick Kluivert dan Pim Verbeek pun pernah menjadi pelatih tim nasional Curaçao.

Bantuan-bantuan dari Belanda ini, dengan mendatangkan tim asal Belanda secara langsung, serta mengirimkan pemain-pemain dari Curaçao untuk berkompetisi di Belanda, adalah hal yang positif. Namun, tak serta merta bisa langsung disebut bahwa bantuan dari Belanda ini disebut menguntungkan bagi Curaçao.

Memang benar mendatangkan kesebelasan dari luar negeri dapat menjadi sarana pembelajaran untuk pembenahan pengelolaan sepakbola. Benar juga adanya dengan mengirimkan pemain ke luar negeri dapat menjadi bekal dan keuntungan tersendiri, baik bagi si pemain maupun bagi negara yang mengirimkan.

Akan tetapi dalam kasus Curaçao ini, bantuan dari Belanda tersebut bisa dibilang memberikan keuntungan, tapi di sisi lain masih memberikan kerugian bagi Curaçao.

Ditambah lagi banyak juga pemain-pemain yang notabene adalah pemain-pemain yang memiliki keturunan Curaçao ataupun lahir di Curaçao, namun pada akhirnya memilih untuk membela negara Belanda seperti Riechedly Bazoer, Vurnon Anita, dan Jetro Willems.

Meski demikian, Curaçao pun tidak perlu risau. Beberapa talenta yang ada di negeri orang masih ada yang mau membela Curaçao, seperti Eloy Room di PSV, Charlison Benschop di Hannover 96, Leandro Bacuna di Reading, dan kapten Curaçao saat ini, Cuco Martina, yang sekarang bermain di Liga Primer bersama Everton, walau mereka pun belum bisa mengantarkan prestasi yang positif untuk Curaçao sampai saat ini.

Kondisi Sepakbola Curaçao Sekarang

Sejak tidak lagi tergabung di NAVU dan menjadi organisasi mandiri kembali, seperti halnya ketika masa CVB, federasi sepakbola Curaçao bisa dibilang tidak melakukan sebuah gebrakan brilian selain pemisahan diri dengan NAVU. Dari segi prestasi, Curaçao hanya pernah menjuarai Piala Karibia 2017.

Meski pernah ditangani Patrick Kluivert selama setahun (2015 sampai 2016), Curaçao belum pernah masuk ke Piala Dunia (dari 1930 sampai sekarang) meski pernah mencicipi mengikuti Piala Emas CONCACAF.

Sementara timnas mudanya, timnas U20 Curaçao sempat hampir masuk ke putaran final Piala Dunia U20, tapi mereka kemudian gagal karena kalah dari Meksiko dan El Salvador.

Apa yang diraih oleh Curaçao ini sama seperti apa yang diraih oleh timnas-timnas yang berasal dari federasi sepakbola yang kecil, semacam Gibraltar, San Marino, Malta, Kepulauan Faroe, dan federasi-federasi sepakbola di wilayah Karibia. Mereka belum mampu mencatatkan prestasi, merusak dominasi negara-negara besar di dunia.

Ketimpangan pun menjadi masalah tersendiri yang harus diselesaikan oleh Curaçao. Masalah yang menjadi universal, khusus bagi negara-negara kecil dan federasi sepakbola yang kecil pula.

***

Memang benar jika timnas Curaçao belum bisa berprestasi di kancah sepakbola internasional. Tidak salah juga mengatakan bahwa Curaçao adalah tim lemah, sama seperti Gibraltar, San Marino, Malta, atau Kepulauan Faroe, karena memang federasi sepakbola mereka tidak sebesar federasi sepakbola negara yang lain.

Namun, Curaçao adalah negara yang beruntung. Bantuan dari Belanda membuat mereka mampu mengenal dunia lebih cepat. Bantuan dari Belanda juga yang membuat Curaçao dapat menyusun federasi sepakbola mereka sampai seperti sekarang ini.

Sekarang ini bahkan Curaçao berada pada peringkat ke-84 FIFA (Januari 2018). Mereka pernah meraih peringkat ke-68 pada Juli 2017 yang merupakan peringkat terbaik mereka sepanjang sejarah.

Oleh karena itu, jangan heran jika di masa depan Curaçao akan menjadi negara yang berprestasi, karena berkat Belanda di masa lalu, sepakbola sekarang menjadi salah satu olahraga yang cukup digemari di Curaçao.


Tulisan ini mengalami sedikit perubahan yang seperlunya dari yang pernah naik di About the Game pada situs web detikSport, pada Februari 2017.

Komentar