Balas Budi Beto Pada Indonesia

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Balas Budi Beto Pada Indonesia

Penantian panjang Alberto ‘Beto’ Goncalves menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) tuntas sudah. Melalui surat yang diterbitkan Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Republik Indonesia pertanggal 6 Februari 2018, Beto dinyatakan resmi menyandang status sebagai WNI.

Keinginan Beto berpindah status kewarganegaraan menjadi WNI sebenarnya sudah ada sejak 2010 lalu. Bahkan, bersama Cristian Gonzales, Beto telah menjalani proses pengajuan naturalisasi. Namun mimpinya menjadi WNI kala itu sirna karena ia mengalami cedera parah. Cedera tersebut mengakibatkan Beto pulang ke Brasil untuk menjalani proses pemulihan yang memakan waktu selama 10 bulan lamanya. Kepulangan Beto ke Brasil pun membuat proses naturalisasi yang telah diajukan sebelumnya terhambat hingga akhirnya batal.

Tujuh tahun berselang, hasrat Beto menyandang status WNI masih menggebu. Hingga pada akhir 2017 lalu, Beto kembali mengajukan proses naturalisasi.

Kurang lebih selama tiga bulan Beto menjalani proses pengalihan status kewarganegaraannya hingga titik terang pun muncul di awal Februari 2018. Beto akhirnya resmi menjadi WNI. Saat ini ia hanya tinggal mengikuti prosesi sumpah untuk mendapat tanda kependudukan Indonesia.

Keinginan Beto menjadi WNI ditunjang dengan perasaan cinta yang terlampau dalam kepada Indonesia. Cinta Beto kepada Indonesia tumbuh karena berbagai hal, salah satunya peran besar Indonesia yang membuat kehidupannya berubah 180 derajat.

***

Di Brasil, karier sepakbola Beto tak terlalu gemilang. Namanya kurang dikenal lantaran sejak tahun 1999 hingga 2007 ia lebih banyak berkarier di kesebelasan kecil, penghuni divisi bawah kompetisi Brasil. Saat usianya semakin bertambah tua, Beto menyadari bahwa kesempatan untuk berkembang di Brasil tak ia miliki lagi.

“Di Brasil, pemain yang punya kualitas bagus itu banyak sekali. Di sana, kalau kamu mau cari pemain bagus itu ibaratnya hanya tinggal tutup mata saja, dan kamu pasti akan dapat pemain bagus. Selain itu, di Brasil, kalau pemain sudah umur 25 tahun ke atas kamu sudah bisa dibilang tua. Klub sudah tidak mau lagi merekrut pemain seperti itu. Bahkan, untuk main di Eropa pun sudah sangat susah,” terang Beto saat kami wawancarai.

Ketika kesempatan merumput di klub papan atas Brasil dan terbang ke Eropa telah tertutup, Beto pun memilih pergi ke Indonesia tepatnya di tahun 2007. Pada saat itu Beto mendapat tawaran dari salah satu rekannya yang berprofesi sebagai agen ,Ricardo, untuk bermain di Indonesia. Tanpa berpikir dua kali, ia pun menerima tawaran tersebut dan terbang ke Indonesia.

"Tiba di Indonesia, saya dan Ricardo bertemu dengan Pak Eko. Saat itu Pak Eko adalah orang yang menghubungkan saya untuk bisa bermain di Persipura. Hingga akhirnya, saya pun memperkuat Persipura di musim pertama saya bermain di Indonesia," sambungnya.

Di musim pertamanya bermain di sepakbola Indonesia, Beto langsung menunjukkan tajinya. Kualitasnya sebagai juru gedor andal langsung diperlihatkannya. Di musim pertamannya berseragam Persipura, ia tidak hanya mengantar klub berjuluk Mutiara Hitam itu menjadi runner-up di Piala Indonesia, namun ia pun berhasil meraih gelar pencetak gol terbanyak di ajang tersebut.

Setelah itu, nama Beto melambung di kancah sepakbola Indonesia. Banyak kesebelasan yang meminatinya, namun Beto memilih bertahan hingga tiga musim lamanya di Persipura. Selama tiga tahun menjadi bagian dari skuat Mutiara Hitam Beto berperan juga membawa Persipura meraih gelar juara Liga Super Indonesia (LSI) musim 2008/09. Sayang pada musim berikutnya, ia gagal mengantar Persipura juara. Di LSI musim 2009/10, prestasi Persipura mentok sebagai runner-up kompetisi musim tersebut.

"Bagi saya, pengalaman paling indah dalam karier sepakbola saya itu ketika saya berhasil membawa Persipura juara di kompetisi. Itu adalah gelar pertama saya di sepakbola Indonesia. Selain itu, beberapa gelar top skor yang pernah saya dapatkan pun menjadi pengalaman paling manis selama saya bermain di Indonesia," terangnya.

Namun kisah Beto selama merumput di Indonesia tak melulu diliputi kebahagiaan. Pada akhir 2009, Beto mengalami cedera tendon achilles. Cedera tersebut didapatkannya kala membela Persipura di laga melawan Arema. Butuh waktu pemulihan yang cukup lama. Bahkan ia sampai harus pulang ke Brasil untuk menjalani perawatan.

Selama kurang lebih 10 bulan Beto menjalani masa pemulihan. Baginya, itu merupakan momen terburuk sepanjang perjalanan kariernya sebagai pesepakbola. Tak hanya itu, cedera tersebut pun yang membuatnya batal menjalani proses naturalisasi pada 2010 lalu. Namun Beto cukup beruntung, karena ia tidak mengalami trauma akibat cedera tersebut. Setelah pulih, karena masih ingin berkarier di Indonesia, ia pun tak ragu kembali ke Indonesia.

“Ya, itu adalah salah satu kenangan terburuk dalam karier sepakbola saya. Tapi saya tidak menyerah dan setelah pulih saya bergabung dengan Persijap Jepara. Selama setengah musim di Jepara, saya kembali ke Persipura pada musim berikutnya. Tahun 2012 saya top skor bersama Persipura. Setelah itu saya dua musim membela Arema. Di Arema saya hanya main satu musim lalu pindah ke Penang, Malaysia. Saya kembali ke Indonesia pada 2016 dengan membela Sriwijaya FC. Sekarang, saya sudah mau tiga musim membela Sriwijaya,” katanya.

Selain cedera, Beto juga membagi beberapa pengalaman pahitnya selama berkarier di sepakbola Indonesia. Salah satunya menyangkut kepemimpinan wasit di sepakbola Indonesia. Dalam satu momen, ia sampai pernah menangis setelah pertandingan usai karena kecewa dengan kepemimpinan wasit di pertandingan.

"Pernah juga saya dapat pengalaman karena kecewa dengan keputusan wasit di pertandingan. Tidak semua, hanya sebagian wasit yang keputusannya kurang tepat. Tapi, pernah saya sampai menangis setelah pertandingan karena sakit hati dengan keputusan wasit. Saya lupa kejadiannya, tapi yang jelas waktu itu saya sangat sakit hati. Sebab, kita (pemain) kerja keras di lapangan. Panas hujan kita berlatih, tapi saat pertandingan kita mendapat perlakuan yang tidak enak dari wasit dan itu sangat sakit hati," tuturnya.

"Tapi itu terjadi dari 2006 sampai 2008. Setelah itu, saya lihat kualitas wasit di Indonesia sudah semakin bagus. Saya apresiasi juga kepada Federasi yang serius meningkatkan kualitas wasit di sepakbola Indonesia. Saya pikir, bila terus dilakukan akan semakin baik untuk perkembangan sepakbola Indonesia."

***

Sudah 10 tahun lamanya Beto tinggal di Indonesia. Kesan mendalam pun dirasakannya hingga hasrat menjadi WNI pun kembali . Beto mengakui bahwa Indonesia telah memberikan segala yang ia inginkan. Tak hanya materi, ia pun dipertemukan dengan sang pujaan hati, Rosmala Dewi, yang kini telah menjadi ibu bagi kedua putrinya yang juga lahir di Indonesia.

Alasan terbesar Beto mengubah status menjadi WNI lantaran ingin membalas budi kepada Indonesia yang telah memberikan semua kenikmatan dalam kehidupannya saat ini.Ia akan berupaya semaksimal mungkin mengembangkan sepakbola Indonesia. Tampil bersama timnas Indonesia pun menjadi impiannya.

“Dulu, ketika di Brasil saya bermain di beberapa klub, dapat gaji lumayan untuk menghidupi saya di sana. Tapi itu belum cukup untuk bisa beli rumah atau mobil. Setelah itu saya pergi ke Indonesia, dan saya cukup sukses di sini. Jadi saya sangat bangga sekali dengan Indonesia, karena apapun yang saya punya sekarang ini, saya dapatkan dari Indonesia.”

“Saya bersyukur sekali dalam hidup saya saat ini, karena Indonesia yang kasih semua kenikmatan dalam hidup saya. Saya sangat berhutang besar kepada Indonesia dan saya mau balas budi,karena Indonesia yang ubah kehidupan saya. Saya mau bantu sepakbola Indonesia. Kalau misal saya punya kesempatan main untuk timnas, pasti saya mau main untuk Indonesia,” sambungnya.

Beto melanjutkan, setelah resmi menyandang status sebagai WNI, ia bisa lebih fokus bermain bersama Sriwijaya. Menurut Beto, Sriwijaya FC bisa dibilang sebagai tim yang menyelamatkan kariernya. Ia bercerita, setelah menghabiskan satu musim di Malaysia ia berhasrat kembali ke Indonesia. Namun kondisinya kala itu ia banyak mendapat penolakan. Hingga akhirnya Sriiwjaya pun datang untuk memberikan kesempatan baginya berkarier di Indonesia.

“Waktu itu banyak tim Indonesia yang tidak kasih saya kesempatan lagi, karena mereka pikir mungkin saya sudah habis karena usia atau karena cedera. Tapi Sriwijaya beda, mereka mau kasih kesempatan untuk saya. Selain itu, mereka juga bantu saya dalam proses pengajuan naturalisasi saya,” tandasnya.

Status WNI yang disandang Beto memang penting untuk Sriwijaya FC. Karena jika ia masih berstatus pemain Brasil, maka ia kemungkinan akan terdepak dari skuat Sriwijaya lantaran skuat asuhan Rahmad Darmawan tersebut sudah memenuhi kuota pemain asing untuk Liga 1 2018. Sekarang Sriwijaya FC masih menunggu satu pemain lain, yakni Esteban Vizcarra, yang juga masih menunggu proses naturalisasi.

Komentar