Auckland City: Kisah Dominasi Selandia Baru di Liga Champions Oseania

Cerita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Auckland City: Kisah Dominasi Selandia Baru di Liga Champions Oseania

Apa yang paling kita ingat jika mendengar sepakbola Oseania? Apakah para pemain paruh waktu Fiji yang berhasil menahan tim nasional Indonesia, Australia yang sudah pindah ke AFC tapi belum kunjung ikutan Piala AFF, atau hal lainnya?

Sama seperti konfederasi sepakbola lainnya di dunia, OFC (Oseania) juga memiliki kompetisi sekelas Liga Champions, sekaligus mengirimkan wakilnya ke Piala Dunia... Piala Dunia Antarklub maksudnya; karena kalau Piala Dunia FIFA, negara-negara Oseania masih "dianaktirikan".

Auckland City merupakan kesebelasan yang paling sering mengikuti Piala Dunia Antarklub FIFA atau FIFA Club World Club. Tercatat sudah 9 kali (2006, 2009, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016 dan 2017) Auckland menjadi kontestan Piala Dunia Antarklub.

Ini terjadi lantaran mereka adalah wakil dari Oseania (OFC) karena berhasil menjuarai Liga Champions Oseania (nama resminya adalah OFC Champions League) secara rutin. Dominasi Auckland dimulai sejak kesebelasan dari Australia pindah dari Liga Champions Oseania ke Liga Champions Asia (AFC) pada 2006.

Sebelumnya, juara Liga Champions Oseania lebih didominasi oleh kesebelasan-kesebelasan dari Australia seperti Adelaide City, South Melbourne, Wollongong Wolves, dan Sydney FC.

Dominasi Selandia Baru di Liga Champions Oseania

Liga Champions Oseania diikuti total 18 peserta yang kemudian mengerucut menjadi 16 kesebelasan setelah kualifikasi (empat kesebelasan melakukan pertandingan play-off). Sebanyak 16 kesebelasan itu akan dibagi ke dalam empat grup (satu grup berisi empat kesebelasan) dari grup A sampai D. Para kesebelasan itu disaring dari 12 negara kepulauan di Zona Oseania.

Setelah Australia pindah kontingen, Selandia Baru adalah negara yang bisa dibilang paling maju di antara negara-negara lainnya di Oseania. Maka dari itu, kesebelasan dari Selandia Baru paling sering memenangkan Liga Champions Oseania, yaitu sebanyak 11 kali, 9 oleh Auckland City dan dua oleh Waitakere United.

Baca juga: Mumpung Belum Ada Australia

Hanya satu kesebelasan dari Papua Nugini, Hekari United, yang pernah menjuarai kompetisi itu selain dari Selandia Baru meski cuma satu kali pada 2010.

Papua Nugini sebetulnya lebih luas daripada Selandia baru. Papua Nugini merupakan negara seluas 462.840 kilometer persegi (terluas ke-54 di dunia), sementara Selandia Baru seluas 268.680 km2. Namun, Selandia Baru lebih memiliki koneksi dengan Australia yang menjadi kunci kemajuan sepakbola di negara-negara Oseania.

Banyak pemain Selandia Baru yang berkiprah di Liga Australia dan kemudian diorbitkan ke Eropa, seperti Andre Durante, Chris Wood, Marco Rojas, Winston Reid, dan masih banyak lagi saat ini.

Lebih majunya kondisi negara Selandia Baru atas koneksinya dengan Australia, membuat kesebelasan dari negara lain cuma puas menjadi runner-up di Liga Champions Oseania. Kesebelasan lain yang pernah menjadi runner-up Liga Champions Oseania itu mewakili Vanuatu, Tahiti, Fiji, Kepulauan Solomon, dan Kaledonia Baru.

Liga Champions Oseania sendiri mengalami banyak pembaruan setelah pindahnya Australia. Paling kentara bisa dilihat dari jumlah peserta yang semula cuma disediakan dua grup saja yang mengerucut ke semifinal dalam fase gugur. Kemudian bertambah menjadi tiga grup dan sampai menjadi empat grup yang mulai diterapkan sejak Liga Champions Oseania 2017.

Dua kesebelasan tertinggi di klasemen grupnya masing-masing akan masuk ke fase semifinal. Kemudian sampai ke final seperti yang dimenangkan Auckland pada musim lalu. Auckland berhasil menjaga dominasi sepakbola Selandia Baru di Liga Champions Oseania. Auckland sendiri merupakan dominasi juara di New Zealand Football Championship (Kejuaraan Sepakbola Selandia Baru).

Liga Champions yang kurang kompetitif adalah cerminan dari Liga Selandia Baru juga

Auckland City sudah memenangkan delapan gelar New Zealand Football Championship, yang paling banyak di kompetisi tersebut, sementara enam gelar lagi mereka dapatkan melalui play-off. Terbanyak kedua diemban Waitakere United dengan koleksi lima gelar juara secara reguler maupun play-off. Kemarin pun baru terjadi pertandingan besar di Liga Selandia Baru musim ini antara Auckland melawan Waitakere United.

Baca juga: Agar Tidak Salah Kaprah Tentang Liga Kompetitif

Hanya ada 10 kesebelasan pada kompetisi tersebut dan tidak ada promosi maupun degradasi. Wajar karena jika dipandang secara luas, Selandia Baru adalah negara kecil meski ukuran wilayahnya lebih besar dibandingkan negara kepulauan lain di Oseania. Jumlah penduduk mereka cuma sekitar 4 juta orang dari enam kota. Empat musim pertama sejak kompetisi penuh pada 2004 (sebelumnya format turnamen), satu kesebelasan bertanding sebanyak tiga pertemuan.

Tapi hal itu membuat beberapa kesebelasan mengalami kesulitan keuangan sehingga format pertandingan hanya dua putaran saja. Kompetisi dijalankan selama musim panas sejak Oktober sampai April di setiap musimnya. Ada dua tahap pada kompetisi sepakbola di Selandia Baru itu sendiri, yaitu kompetisi reguler dan babak play-off.

Kompetisi reguler dijalankan terlebih dahulu dan empat peringkat teratas pada klasemen akhir akan melaju ke babak play-off bernama final series. Di fase itulah gelar juara akan diberikan sekaligus mendapatkan jatah lolos ke Liga Champions Oseania secara langsung atau kualifikasi.

Empat kesebelasan teratas klasemen akhir fase reguler akan dipertandingkan sejak babak semifinal. Kemudian pemenang dari semifinal akan dipertemukan pada partai puncak bernama grand final.

Selain dominasi Auckland dan Waitakere yang menguntit di belakangnya, dua gelar juara sempat dikoleksi oleh Team Wellington FC. Dua gelar itu diraih setelah kesebelasan itu menjalani fase play-off. Padahal dua fase regulernya dimenangkan Auckland sebagai pemuncak klasemen. Tapi Auckland harus dikalahkan Wellington di laga grand final dalam dua gelar itu.

Di samping Auckland, Waitakere, dan Team Wellington, tidak pernah ada kesebelasan lain yang menjuarai Liga Selandia baru, baik secara musim reguler maupun play-off.

***

Sepakbola Selandia Baru terus berada di bawah bayang-bayang Australia, bahkan sejak Australia meninggalkan OFC sekali pun. Tidak heran, saat ini di A-League (Liga Australia) masih terdapat kesebelasan dari Selandia Baru, yaitu Wellington Phoenix. Namun sekarang ini, Selandia Baru adalah rajanya Oseania.

Mengingat Selandia Baru, kita biasanya teringat kejutan mereka pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Mereka tidak terkalahkan di Grup F melawan Italia, Paraguay, dan Slovakia. Seluruh pertandingan mereka saat itu berakhir imbang sehingga Selandia Baru duduk di peringkat tiga klasemen akhir Grup F Piala Dunia 2010. Peringkat itu berada di atas Italia yang berada di posisi paling bawah grup tersebut.

Saat kompetisi itulah Selandia Baru membuat Shane Smeltz dan Winston Reid menjadi lebih dikenal oleh dunia, sekaligus membuat negara dari Oseania tersebut lebih terkenal daripada Australia, meski sebetulnya pada saat itu sudah ada beberapa pemain Selandia Baru yang berkiprah di Liga Inggris seperti Chris Killen, Wood, Rory Fallon, Ryan Nelsen, dan Tommy Smith.

Jika dahulu Selandia Baru berada di bawah bayang-bayang Australia, sekarang seluruh negara Oseania yang berada di bawah bayang-bayang Selandia Baru, baik di level klub (Liga Champions Oseania) maupun tim nasional (Piala Oseania dan kualifikasi Piala Dunia). Sementara itu, Auckland City adalah cerminan dominasi Selandia baru di Liga Champions Oseania yang berhasil mendunia, tapi justru menunjukkan betapa kerdilnya OFC dibanding konfederasi lainnya.

Jadi, apakah Indonesia tertarik untuk pindah konfederasi ke Oseania?

Komentar