Hikayat Kehilangan Klopp

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Menulis dan menyunting di Pandit Football. Menulis untuk Tirto jika cuaca sedang bersahabat. Menulis kalimat pendek, membaca artikel panjang.

Hikayat Kehilangan Klopp

Jürgen Klopp sudah malang-melintang di dunia kepelatihan sejak awal tahun 2001. Ia sudah menyaksikan, dan terlibat langsung dalam, kedatangan puluhan pemain. Pun kepergian. Beberapa tak cukup besar untuk diingat. Beberapa lainnya, sementara itu, menjadi perbincangan yang tak sudah-sudah.

Perbincangan yang tak sudah-sudah baru benar-benar dimulai oleh kepergian Shinji Kagawa ke Manchester United pada bursa transfer awal musim 2012/13. Kagawa terbang ke Manchester sementara di bursa transfer yang sama Marco Reus datang dari Mönchengladbach. Bayangkan Kagawa dan Reus bermain bersama.

Tak masalah. Reus menjalin kerja sama yang apik dengan Mario Götze dan Robert Lewandowski. Jika situasi sedang mendukung, Klopp tak mungkin tak memainkan ketiganya bersama-sama. Tanpa mengecilkan peran pemain-pemain lain, trio Reus-Götze-Lewandowski adalah kunci ketajaman Dortmund.

Mengandalkan ketiganya, Klopp mampu membawa Dortmund mencapai perempatfinal DFB-Pokal, menjadi runner-up Bundesliga, dan lolos ke final Champions League -- Dortmund menyingkirkan Real Madrid di semifinal; Lewandowski mencetak empat dari empat gol kemenangan Dortmund di leg pertama. Dortmund berhadapan dengan Bayern München, klub yang menghentikan laju mereka di Pokal, di Wembley.

Reus dan Lewandowski ambil bagian dalam pertandingan puncak Champions League. Götze absen karena cedera. Reus dan Lewandowski kalah bersama Klopp dan pemain-pemainnya; Götze tidak benar-benar kalah. Kepindahannya ke Bayern diumumkan sehari sebelum leg kedua semifinal melawan Madrid.

Götze menjadi bagian dari Bayern per awal musim 2013/14. Reus tinggal. Pun demikian dengan Lewandowski. Dengan dana transfer Götze, Dortmund belanja besar-besaran. Sokratis Papastathopoulos didatangkan dari Werder Bremen; Pierre-Emerick Aubameyang dari AS Saint-Étienne; Henrikh Mkhitaryan dari Shakhtar Donetsk.

Nama terakhir adalah pengganti langsung sang anak emas yang pergi. Klopp menempatkan Mkhitaryan di belakang Lewandowski. Reus utamanya bertanggung jawab di sisi kiri serangan, dengan Aubameyang di sisi seberang. Pertukaran posisi, walau demikian, sering terjadi.

Pada akhir musim, Dortmund kembali menduduki peringkat kedua Bundesliga. Bayern, dengan pelatih kepala barunya, kembali menjuarai liga dengan selisih angka yang sangat mencolok dari runner-up. Bayern pula yang mengalahkan Dortmund di final Pokal. Di Champions League, Madrid membalas kekalahan musim sebelumnya dengan menyingkirkan Dortmund di perempat final.

Lewandowski mengakhiri musim sebagai pencetak gol terbanyak. Torjägerkanone, piala untuk top skorer Bundesliga, menjadi penghargaan pribadi terakhir yang diraihnya bersama Dortmund. Kontrak Lewandowski habis per akhir musim. Ia memilih untuk tak memperpanjangnya. Lewandowski menyusul Götze ke Munchen.

Mencari pengganti Lewandowski bukan agenda utama. Klopp menggeser Aubameyang ke tengah, dan perkara selesai sudah. Pada bursa transfer awal musim 2014/15, walau demikian, Dortmund tetap merekrut banyak pemain.

Kedalaman lini serang ditambah dengan mendatangkan Ciro Immobile dari Torino, Adrián Ramos dari Hertha BSC, dan Kevin Kampl dari RB Salzburg. Lini tengah diperkuat dengan merekrut Matthias Ginter dari SC Freiburg dan membawa pulang Kagawa dari United. Nuri ?ahin, pemain yang digantikan Kagawa, juga pulang secara permanen dari Madrid setelah beberapa kali pulang-pergi Dortmund-Madrid sebagai pemain pinjaman.

Terlepas dari semua usaha untuk memperkuat diri, Dortmund menjalani salah satu musim terburuknya. Dortmund menghabiskan jeda musim dingin di zona degradasi, tepat di atas juru kunci. Tak banyak yang bisa Klopp perbuat. Dortmund mengakhiri musim di peringkat ketujuh, kalah di final Pokal dari VfL Wolfsburg, dan tersingkir di 16 besar Champions League. Klopp, dengan besar hati, mundur dari jabatannya.

Di Liverpool, Klopp relatif aman dari kehilangan. Alih-alih menyaksikan pemain kuncinya pergi, Klopp malah mendapat bantuan melengkapi tim idealnya, satu pemain per satu pemain. Namun kehilangan pemain tak terhindarkan. Hikayat kehilangan Klopp, di Liverpool, dimulai dengan kepergian Philippe Coutinho.

“Bukan rahasia bahwa Philippe sudah menginginkan kepindahan ini sejak Juli, ketika Barcelona pertama kali menyatakan ketertarikan mereka,” ujar Klopp sebagaimana dikutip dari situs resmi Liverpool. “Philippe berkeras kepada saya, pemilik klub, bahkan rekan-rekannya bahwa ia sangat ingin kepindahan ini terlaksana.”

Bahkan untuk Klopp yang sering kehilangan pemain kunci, Coutinho adalah pukulan yang terlalu telak. Kehilangan Götze dan Lewandowski tak kalah telak, namun Klopp punya cukup banyak waktu untuk mempersiapkan masa depan tanpa Götze dan Lewandowski. Berbisnis di musim panas lebih mudah ketimbang musim dingin.

Komentar