Sangar di Lapangan Membuat Vinnie Jones Sukses Sebagai Penjahat di Dunia Film

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Sangar di Lapangan Membuat Vinnie Jones Sukses Sebagai Penjahat di Dunia Film

Sosok Vinnie Jones mungkin tidak asing di mata penikmat film Hollywood. Ia adalah seorang aktor yang telah membintangi lebih dari 60 judul film Hollywood seperti Gone in 60 Seconds (2000), Swordfish (2001), X-Men: The Last Stand (2006), hingga Madness in the Method (2017). Selain itu, Jones juga pernah berperan di beberapa serial televisi seperti The Musketters (2014), Arrow, Galavant (2015-2016), hingga Deception (2017).

Namun melalui rekam jejak hidupnya, Jones pun cukup dikenal di kalangan pecinta sepakbola. Sebelum berkarier di dunia seni peran, pria kelahiran 5 Januari 1965 itu pernah berkarier sebagai pesepakbola profesional. Sepanjang kariernya dari tahun 1984 hingga 1999, delapan kesebelasan seperti Wimbledon, Leeds United, Chelsea, hingga Queens Park Rangers (QPR) pernah ia bela.

Karier Jones di dunia sepakbola mulai menanjak ketika bergabung bersama Wimbledon pada 1986. Di klub berjulukan The Dons itu Jones sukses membawa Wimbledon meraih gelar juara piala FA 1998. Keberhasilan menjadi jawara Piala FA 1998 membuat Wimbledon dijuluki media Inggris sebagai The Crazy Gang. Julukan tersebut disematkan karena Wimbledon mampu mematahkan dominasi klub-klub besar Inggris di piala FA.

Secara umum, julukan The Crazy Gang diberikan sebagai gambaran dari ciri permainan Wimbledon yang kala itu mengedepankan gaya permainan keras nan agresif. Jones menjadi ikon dalam skuat The Crazy Gang pada saat itu. Maklum, ia merupakan pemain berwatak keras, temperamen, dan tak bisa menahan emosi saat di lapangan. Bahkan di luar lapangan, ia juga kerap berurusan dengan pihak kepolisian karena sering berkelahi di bar.

Jones, yang di film X-Men berperan sebagai tokoh antagonis yaitu Juggernaut, merupakan sosok dengan perangai yang penuh sensasi dan kontroversi. Selain temperamen dan emosinya yang meletup-letup di lapangan, Jones juga kadang tak bisa menjaga ucapannya. Pada 1992 di periode keduanya bermain bersama Wimbledon, Federasi Sepakbola Inggris (FA) memberikan sanksi larangan bermain selama enam bulan kepadanya setelah mengeluarkan komentar mendukung budaya kekerasan dan penggunaan permainan kotor dalam sepakbola. Komentar tersebut dikeluarkannya dalam tayangan video berjudul Soccer`s Hard Men.

Termasuk sanksi larangan bermain selama enam bulan dari FA, total Jones telah terlibat dalam 40 kasus disiplin pada musim 1992/93. Sikap bengal Jones membuat pimpinan Wimbledon, Sam Hammam, berang bukan kepalang. Hanya saja kemurkaan Hammam tak menggoyahkan posisi Jones yang kala itu baru saja kembali ke Wimbledon yang pada musim sebelumnya merumput bersama Chelsea.

Pada periode keduanya bersama Wimbledon, Jones bertahan enam musim. Hingga pada akhir musim 1997/98 Jones memutuskan hengkang ke QPR. Saat masih berkostum QPR, Jones mulai merambah karier di dunia akting. Jones yang masih terikat kontrak dengan QPR menerima tawaran sutradara Guy Ritchie, bermain dalam film bergenre komedi; Lock, Stock and Two Smoking Barrells (1998).

Dalam film tersebut, Jones berperan sebagai seorang penjahat. Sikap bengalnya di lapangan hijau menjadi salah satu alasan Ritchie memberikan peran penjahat kepada Jones dalam film garapannya itu. Setelah gantung sepatu pada 1999, Jones semakin fokus menekuni karier di dunia film.

Di tahun 2000, Ritchie kembali mengajak Jones tampil dalam film berjudul Snatch. Lagi-lagi peran sebagai penjahat dimainkan Jones dalam film tersebut. Selesai berperan dalam dua film garapan Ritchie, aktor yang berulang tahun hari ini tersebut semakin memantapkan diri berkarier di layar perak.

Penghargaan dalam nominasi Best British Actor di ajang Empire Awards berkat perannya di film Snatch membuat Jones semakin percaya diri menggeluti karier di dunia film. Tak tanggung-tanggung Jones langsung melebarkan sayap menggeluti seni peran di Hollywood.

Film pertama Jones di Hollywood adalah Gone in 60 Seconds, film garapan sutradara Dominic Sena. Dalam film yang dibintangi Nicolas Cage dan Angelina Jolie itu, Jones berperan sebagai penjahat dengan karakter pria bernama The Spinx. Selang setahun kemudian, Dominic Sena kembali mengajak Jones berperan di film Swordfish. Dalam film tersebut lagi-lagi Jones berperan sebagai seorang penjahat.

Karier Jones di dunia seni peran menanjak dengan cepat. Pada 2001, dalam film Mean Machine peran utama akhirnya didapatkannya. Di film tersebut, ia kembali beradu akting dengan Jason Statham. Sebelumnya Jones dan Jason pernah terlibat di film Lock, Stock and Two Smoking Barrells.

Sepanjang kariernya di dunia film, Jones dikenal sebagai aktor spesialis peran penjahat. Mungkin karena perangainya yang temperamen dan mimik wajah yang terkesan sangar membuat Jones lebih menjiwai peran tersebut.

Vinnie Jones saat memerankan Juggernaut dalam film X-Men: The Last Stand

Masalah hukum dan penyakit kanker

Menjalani karier sebagai aktor membuat Jones semakin nyaman menikmati kehidupannya. Namun bukan berarti tidak ada cobaan atau masalah yang pernah ia hadapi setelah menjadi aktor. Kehidupannya sebagai aktor tak selamanya diliputi kebahagiaan.

Pada Desember 2003, Jones terlibat dalam kasus kriminal setelah melakukan penyerangan penumpang di pesawat. Saat itu Jones menampar seorang penumpang dan mengancam membunuh salah satu petugas kabin pesawat. Aksi tersebut dilakukan Jones di bawah pengaruh minuman keras. Akibatnya, Jones didenda 1100 paun dan diperintahkan untuk melakukan 80 jam pelayanan masyarakat.

Pada 2013 cobaan kembali menghantam kehidupan Jones, setelah dokter menyatakan ia mengidap penyakit kanker kulit. Tak hanya Jones, Istrinya, Tanya Terry, didiagnosis penyakit serupa. Jones enggan menyerah dengan keadaan melalui pengobatan khusus, bersama istrinya ia berusaha melawan kanker yang ia diderita.

Pada 2016, Jones dinyatakan sembuh dari penyakit mematikan tersebut. Jones mengungkapkan bahwa kanker merupakan lawan paling berat yang harus ia hadapi dalam hidupnya. “Kanker adalah kata yang buruk. Saya pernah menghadapi tantangan berat dan buruk, saat saya masih menjadi pesepakbola. Namun kanker adalah lawan yang paling kuat dan paling menakutkan dalam hidup saya.

Setelah dinyatakan sembuh dari penyakit kanker, Jones terus menjalani karier sebagai aktor. Pada 2017 Jones telah membintangi tiga film Hollywood berjudul Cross Wars, Madness in the Method, dan Life Outside.

Komentar