Pencetak Sejarah Islandia, Harapan Terbesar Tiongkok

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Menulis dan menyunting di Pandit Football. Menulis untuk Tirto jika cuaca sedang bersahabat. Menulis kalimat pendek, membaca artikel panjang.

Pencetak Sejarah Islandia, Harapan Terbesar Tiongkok

Sigurður Ragnar Eyjólfsson akrab disapa Siggi. Pria berkebangsaan Islandia ini sekarang di Tiongkok untuk menjalani pekerjaan barunya sebagai pelatih tim nasional perempuan Tiongkok. Siggi bersemangat.

“Saya sangat bersemangat dan, secara khusus, saya merasa sangat terhormat karena Asosiasi Sepakbola Tiongkok menawari saya pekerjaan ini,” ujar Siggi sebagaimana dikutip dari situs resmi FIFA. “Penghargaan terbesar yang bisa didapat seorang pelatih adalah menangani tim nasional, dan ini adalah kesempatan kedua saya.”

Tim nasional pertama yang Siggi tangani adalah tim nasional negaranya sendiri. Siggi mengemban jabatan pelatih kepala tim nasional perempuan Islandia dari 2006 hingga 2013. Selama rentang waktu tersebut, Siggi membawa timnya lolos ke Piala Eropa 2009 dan 2013. Pada 2011, tim nasional perempuan Islandia menjadi runner-up Algarve Cup, kalah dari Amerika Serikat, negara besar sepakbola perempuan.

“(Algarve) pencapaian bersejarah,” ujar Siggi mengenang 2011. “Kami berhasil mengalahkan tim-tim seperti Swedia, Denmark, dan Tiongkok untuk mencapai final. Kami berakhir di peringkat kedua, di depan Jepang yang menduduki peringkat ketiga. Itu pencapaian yang membantu sepakbola perempuan kami mendapat lebih banyak pengakuan dan tim kami menarik perhatian global.”

Pencapaian tim nasional Islandia di Algarve 2011 terhitung istimewa mengingat pada 2009, mereka adalah juru kunci Grup B Piala Eropa (di bawah Norwegia, Perancis, dan pemuncak klasemen sekaligus pemenang kejuaraan: Jerman). Tim asuhan Siggi, walau demikian, tetap tim bersejarah. Belum pernah ada tim sepakbola Islandia mana pun, laki-laki atau perempuan, yang mampu lolos ke kejuaraan besar sepakbola internasional. Islandia-nya Siggi adalah yang pertama.

Pada 2013, Islandia yang kembali berada di grup yang sama dengan Jerman dan Norwegia menempati peringkat yang lebih baik: peringkat ketiga Grup B. Empat poin yang Islandia kumpulkan lebih banyak dari juru kunci, Belanda (satu poin) dan sama banyak dengan runner-up grup, Jerman. Norwegia meraih tujuh poin.

Islandia lolos ke perempat final sebagai salah satu dua peringkat ketiga terbaik. Islandia gugur karena kalah empat gol tanpa balas dari Swedia.

Siggi mundur dari jabatannya pada Agustus 2013, namun tetap bekerja untuk Asosiasi Sepakbola Islandia sebagai kepala pendidikan. Jabatan tersebut sudah Siggi emban sejak 2002. Selama menjadi pelatih kepala, ia mengemban jabatan ganda.

Pada Januari 20014, Siggi menjadi pelatih kepala ÍBV Vestmannaeyjar, klub Islandia. Jabatan tersebut ia tinggalkan pada Oktober tahun yang sama. Sejak Januari 2015 hingga Desember 2016, Siggi mengemban jabatan asisten pelatih di Lilleström SK, klub Norwegia. Memasuki tahun 2017, Siggi dipercaya menjadi pelatih kepala oleh klub Liga Super Perempuan Tiongkok, Jiangsu Suning.

Pada musim terakhir sebelum dilatih Siggi, Jiangsu nyaris terdegradasi. Pada musim pertama bersama Siggi, Jiangsu mengakhiri musim di tiga besar Liga Super Perempuan Tiongkok dan menjuarai Piala Asosiasi Sepakbola Tiongkok. Tawaran untuk melatih tim nasional perempuan Tiongkok pun datang.

“Pelatih bagus bisa berasal dari mana saja, sama seperti pemain bagus,” ujar Siggi. “Populasi Islandia memang kecil namun itu tidak berarti kami negara kecil dalam pengembangan sepakbola. Baik tim nasional perempuan atau laki-laki kami berada di 20 besar peringkat dunia FIFA. Saya memiliki 13 tahun pengalaman bekerja dengan Asosiasi Sepakbola Islandia dan saya melatih tim nasional perempuannya selama tujuh tahun. Saya merasa bangga punya bagian dalam keberhasilan kami.”

Siggi akan menjalani ujian pertamanya pada April nanti, di ajang Piala Asia AFC Perempuan 2018. Gagal di kejuaraan ini bukan pilihan, karena lima peringkat teratas akan lolos ke Piala Dunia Perempuan 2019.

“Harus berani bermimpi dan bekerja keras jika ingin mencapai tujuan,” ujar Siggi. “Saingan-saingan kami kuat. Kami kalah dari Australia dalam pertandingan persahabatan baru-baru ini dan baik Jepang maupun Korea Utara berada di atas kita di peringkat dunia FIFA. Selisih kemampuan antar tim tidak bisa diabaikan. Kami harus meningkatkan kemampuan untuk bersaing dengan mereka.”

Siggi, walau demikian, cukup optimis. “Tim ini punya potensi yang sangat besar. Para pemain berlatih keras setiap hari dan mereka memiliki kemauan berkembang,” ujarnya.

“Kami harus mengorganisir skuat kami dengan pemain-pemain terbaik. Baru kemudian kami dapat perlahan mencapai target kami, yaitu lolos ke Piala Dunia Perempuan terdekat, meningkatkan posisi kami di peringkat dunia FIFA, dan membangun tim kompetitif untuk Olimpiade 2020 di Tokyo.”

Komentar