Tinjauan Paruh Musim Ligue 1 2017/18

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Tinjauan Paruh Musim Ligue 1 2017/18

Dominasi Paris Saint-Germain terusik musim lalu. Menduduki peringkat kedua di tabel klasemen akhir Ligue 1 2016/17 berarti gagal menjuarai divisi tertinggi Perancis untuk kali kelima secara beruntun. Kemunduran kecil tersebut tak berlanjut. Musim ini memang baru sampai separuh jalan, namun PSG tampak terlalu jauh untuk dikejar.

Setelah sembilan belas pertandingan, PSG mantap di puncak. Jarak Les Parisiens dengan saingan-saingan terdekat sembilan poin.

PSG tidak menempati puncak klasemen hanya dua pekan – hanya dalam dua pekan pertama. Kemenangan kandang dua gol tanpa balas atas SC Amiens di pekan pembuka menempatkan PSG di peringkat kelima. Kemenangan tandang tiga gol tanpa balas melawan En Avant de Guingamp di pekan berikutnya mengangkat PSG ke peringkat kedua. Barulah pada pekan ketiga, berkat kemenangan 6-2 atas FC Toulouse, PSG menempati peringkat teratas. Enam belas pertandingan kemudian, PSG masih di posisi yang sama.

Bahkan kekalahan tandang dari SC Strasbourg pada pekan ke-16 tidak menggoyahkan posisi PSG sebagai pemuncak klasemen. Catatan hasil pertandingan-pertandingan PSG secara keseluruhan adalah enam belas kali menang, dua kali imbang, dan hanya satu kali kalah. Di kandang, PSG sama sekali tidak kehilangan poin. Dari sepuluh pertandingan di Parc des Princes, PSG mengumpulkan tiga puluh poin.

Liga kecil

Juara bertahan musim lalu, kesebelasan yang secara mengejutkan mampu menyudahi dominasi Paris Saint-Germain, menempati peringkat kedua di tabel klasemen sementara Ligue 1 2017/18. Raihan AS Monaco setelah sembilan belas pertandingan “hanya” 41 poin. Jumlah ini sama banyak dengan milik Olympique Lyonnais di peringkat ketiga.

Monaco menempati posisi yang lebih tinggi karena memiliki selisih gol yang lebih baik dari Lyon. Produktivitas keduanya, sebenarnya, sama banyak: Monaco dan Lyon sama-sama mencetak 46 gol. Namun Lyon kebobolan 20 gol, satu gol lebih banyak dari Monaco, sehingga selisih golnya hanya +26 sementara Monaco +27.

Bukan hanya di sana bedanya. Monaco meraih 41 poin dari tiga belas kemenangan dan dua hasil imbang. Monaco empat kali kalah, sementara Lyon hanya dua kali. Namun jumlah kemenangan Lyon juga lebih sedikit (dua belas) dan lebih sering bermain imbang (lima).

Tepat tertinggal tiga poin di belakang keduanya adalah Olympique de Marseille, yang baru mampu mengumpulkan 38 poin sejauh ini. Sedikit, memang, namun raihan poin Marseille adalah yang terbanyak yang dapat dikumpulkan klub penghuni posisi empat dalam separuh musim pertama Ligue 1 sepanjang sejarah.

Monaco, Lyon, dan Marseille berada dalam liga kecil yang jumlah pesertanya hanya tiga, hanya mereka bertiga. Selain cukup jauh ke puncak, ketiganya juga cukup jauh dari posisi empat. Jarak antara Marseille dengan FC Nantes saja lima poin.

Pemain-pemain produktif

Paris Saint-Germain tidak hanya menduduki peringkat pertama di tabel klasemen sementara, tetapi juga di daftar pencetak gol dan pencetak asis terbanyak. Dengan sembilan belas gol, Edinson Cavani adalah pencetak gol terbanyak sementara Ligue 1. Neymar menjadi yang paling produktif dalam urusan asis: sembilan.

Dalam tiga besar pencetak asis terbanyak, Neymar bukan satu-satunya pemain PSG. Dengan tujuh asis, Kylian Mbappe menduduki peringkat ketiga. Posisi dua ditempati oleh Florian Thauvin dari Olympique de Marseille dengan delapan asis.

Dominasi PSG di daftar pencetak gol terbanyak tak sampai seperti itu, namun Cavani memimpin cukup jauh. Pencetak gol terbanyak kedua sejauh ini, Radamel Falcao (AS Monaco), baru mencetak lima belas gol. Peringkat ketiga ditempati Mariano Diaz (Olympique Lyonnais) dengan tiga belas gol, sama banyak dengan Nabil Fekir, rekan satu timnya, yang menempati peringkat keempat.

Pemain PSG dengan jumlah gol terbanyak dengan Cavani adalah Neymar, dengan sebelas gol. Mbappe sejauh ini baru mencetak delapan gol. Jumlah gol yang sudah dicetak PSG sejauh ini adalah 58 gol; jumlah gol trio penyerang utamanya 38.

Tidak aman dari zona degradasi

FC Metz menempati peringkat terbawah. Raihan poin mereka hanya sebelas. Bahkan dari Angers SCO di peringkat ke-19 saja, Metz berjarak tujuh poin. Tepat di atas Angers, di posisi teratas zona degradasi, adalah Lille OSC. Lille mampu mengumpulkan sembilan belas poin sejauh ini, sama banyak dengan Toulouse di peringkat ke-17.

Amiens SC, Troyes AC, Girondins de Bordeaux, dan AS Saint-Étienne berada di posisi yang tidak aman dari ancaman degradasi. Keempatnya bisa dilampaui Lille dan Toulouse dalam satu pertandingan.

OGC Nice, tim kejutan musim lalu (peringkat ketiga di tabel klasemen akhir Ligue 1 2016/17), saat ini berada di peringkat keenam dengan 27 poin.

Komentar