Sensory Room: Karena Penyandang Autisme Berhak Menikmati Sepakbola

Cerita

by Taufik Nur Shidiq Pilihan

Taufik Nur Shidiq

Penyunting dan penulis. Penanggung jawab rubrik Cerita, PanditSharing, dan Backpass.

Sensory Room: Karena Penyandang Autisme Berhak Menikmati Sepakbola

Belum semua stadion sepakbola memiliki ruang khusus untuk penyandang Autism Spectrum Disorder atau autisme. Para penyandang autisme membutuhkan ruang khusus untuk dapat menyaksikan pertandingan sepakbola. Banyak stadion masih belum ramah kepada semua golongan. Kabar baiknya, klub-klub Premier League perlahan menyadari keharusan menyediakan ruang khusus tersebut.

Kesadaran tersebut dimulai oleh keluarga Shippey yang beranggotakan Peter dan Kate serta tiga putra mereka: Nathan, Owen, dan Callum. Ketiganya penyandang autisme. Di antara ketiganya, Nathan yang paling menggilai sepakbola. Sebagai penyandang autisme, Nathan kesulitan jika berada dalam kebisingan dan keramaian.

Namun tidak menonton pertandingan sepakbola -- tidak menonton Sunderland AFC -- bukan pilihan bagi Nathan. Kondisi Nathan membuat Peter dan Kate menggagas The Shippey Campaign, untuk memperkenalkan gagasan mengenai sensory room di stadion-stadion sepakbola. Pada 15 Agustus 2014, Sunderland membuka Nathan Shippey Sensory Room di kandangnya, Stadium of Light.

“Menyaksikannya luar biasa -- kita tidak bisa meremehkan arti penting hal ini bagi anak-anak dan orang tuanya,” kata Kate. “Jika kau memiliki anak yang menyandang autisme dan mereka meminta datang ke pertandingan, kau akan menghadapi keadaan yang tidak terduga karena banyak kesulitan sensorik di sana, dari persiapan hingga pertandingan itu sendiri. Tapi sepakbola olahraga yang dinikmati banyak orang, dan ini membuka pintu untuk banyak orang.”

Butuh lebih dari dua tahun hingga klub Premier League berikutnya membuka sensory room. Watford FC membuka sensory room di satu sudut Vicarage Road pada 18 Desember 2016. Dengan dibukanya ruang khusus yang kondusif untuk penyandang autisme, para orang tua yang sebelumnya tak dapat membawa anak-anaknya ke pertandingan bisa merasakan pengalaman yang sama dengan kebanyakan orang tua lain.

“Kami biasanya membutuhkan setidaknya tiga orang dewasa agar kami bisa membawa Joe menonton pertandingan bersama kami,” ujar Christine (nama belakang tidak disebutkan), salah satu orang tua yang dimudahkan oleh keberadaan sensory room. “Selain sensory overload yang Joe alami karena kebisingan, bau, dan keramaian pertandingan sepakbola, kami juga khawatir ia hilang. Satu detik saja cukup untuk membuat perhatiannya teralihkan dan ia bisa keluyuran di keramaian. Dan jika ia hilang, tidak ada jaminan ia akan mendengar namanya disebut lewat pengeras suara -- juga tidak ada jaminan ia akan mendatangi bagian informasi.”

“Jika kami menonton di tribun, Joe sering berteriak atau bernyanyi di saat yang tidak pas, sehingga orang-orang akan menatapi kami -- tentu karena Joe tidak terlihat berkebutuhan khusus. Seringkali kami harus bangkit dan membawanya ke toilet, dan itu mengganggu orang-orang. Hal-hal yang sederhana untuk kebanyakan orang, misalnya anak bisa pergi ke toilet sendiri, rumit bagi Joe. Akses ke toilet tepat di sebelah sensory room, tanpa keramaian, rasanya luar biasa. Karena ruangan ini, Joe berubah dari tidak komunikatif menjadi percaya diri dengan para orang dewasa dan anak-anak lain di ruangan. Dapat hadir di sensory room dan tahu bahwa Joe aman dan kami semua bisa menikmati pertandingan tanpa khawatir memberi perbedaan yang sangat berarti.”

Calming area di sensory room Vicarage Road dilengkapi dengan tabung gelembung, karpet serat optik, tempat duduk yang empuk, proyektor dinding, dan bola berkilau dengan roda warna. Juga sistem pengeras suara agar para orang tua dapat memainkan musik penenang jika pertandingan terlalu bising bagi anak-anaknya.

Pada 15 Maret 2017, Middlesbrough “dengan bangga membuka Sensory Room pertama di Riverside Stadium, untuk penggemar muda penyandang autisme dan kondisi sejenis. ” Pada 8 September 2017, giliran Southampton yang mengumumkan pembukaan sensory room-nya. Pertandingan pertama yang bisa disaksikan di sensory room St Mary’s Stadium adalah pertandingan antara Southampton dan Watford. Arsenal FC membuka sensory room Emirates Stadium di bulan yang sama, pada tanggal 30.

“Ini tak ternilai. Saya sebelumnya tak pernah bisa membawa Reggie ke pertandingan,” ujar Carly, (nama belakang tidak disebutkan), sang ibu. “Ia selalu mendapat dukungan dari Arsenal lewat Arsenal in the Community dan The Arsenal Foundation, namun sekarang ia bisa benar-benar merasakan pengalaman pertandingan bersama saya. Saya dulu biasa datang ke Highbury bersama ayah saya, tapi saya tidak pernah bisa melakukannya bersama putra saya karena autisme menjadi penghalang besar bagi kami, tapi sekarang tidak lagi.”

Dua klub lain yang menyediakan fasilitas sensory room di kandang mereka adalah Crystal Palace (dibuka pada 20 Oktober 2017) dan Liverpool FC (diumumkan pada 17 November 2017). Cepat atau lambat semua klub Premier League akan memiliki sensory room di stadionnya masing-masing, karena Premier League sendiri menyediakan fasilitas bantuan dana untuk pembangunan fasilitas tersebut.



Komentar