Contekan yang Membuat Masyarakat Turun ke Jalan

Cerita

by Taufik Nur Shidiq Pilihan

Taufik Nur Shidiq

Menulis dan menyunting di Pandit Football. Menulis untuk Tirto jika cuaca sedang bersahabat. Menulis kalimat pendek, membaca artikel panjang.

Contekan yang Membuat Masyarakat Turun ke Jalan

Tim nasional Jerman meraih empat kemenangan dari empat pertandingan pertamanya di Piala Dunia 2006 untuk mencapai perempat final. Jerman mencetak sepuluh gol dan hanya dua kali kebobolan. Lawan Jerman adalah Argentina – hanya tiga kali menang dan sekali bermain imbang, tapi juga mencetak sepuluh gol dan dua kali kebobolan saja.

Sejarah pertemuan Jerman dan Argentina di Piala Dunia adalah cerita tersendiri. Kedua negara dua kali berjumpa di dua final Piala Dunia berturut-turut: 1986 dan 1990. Argentina juara pada 1986; Jerman (saat itu masih bernama Jerman Barat) pada 1990. Pertandingan perempat final Piala Dunia 2006, walau demikian, besar karena alasan lain.

Sejak tahun 2000, Jerman selalu kesulitan melawan negara besar sepakbola. Dalam sepuluh pertandingan mereka kalah. Dalam enam pertandingan lainnya, bermain imbang. Pada gelaran Piala Dunia 2006, lawan-lawan Jerman bukan tim besar: Ekuador, Polandia, dan Kosta Rika di Grup A serta Swedia di 16 besar. Argentina adalah ujian. Argentina adalah pembuktian.

Di Olympiastadion Berlin, 30 Juni 2006, para pendukung Argentina besorak setelah Roberto Ayala menyundul masuk umpan sepak pojok Juan Roman Riquelme di menit ke-49. Untuk kali pertama di Piala Dunia 2006, Jerman tertinggal.

Jose Pekerman, pelatih kepala tim nasional Argentina, menarik keluar Riquelme pada menit ke-72. Penggantinya adalah Esteban Cambiasso yang lebih defensif. Pergantian yang masuk akal ini pada akhirnya terbukti salah besar. Klose mencetak gol penyeimbang delapan menit setelah Cambiasso masuk, namun bukan ini momen terburuk yang melibatkan Cambiasso.

Babak tambahan berjalan penuh kehati-hatian dan pertandingan berlanjut ke adu penalti. Pada jeda singkat antara 120 menit pertandingan dan tendangan-tendangan penentuan, Jens Lehmann (penjaga gawang Jerman) mendapat secarik kertas dari Andreas Kopke (pelatih penjaga gawang Jerman). Lehmann membacanya, menyimpannya di balik kaus kaki yang ia kenakan, dan membacanya lagi setiap para penendang Argentina maju untuk mengeksekusi penalti.

Secarik kertas yang Lehman bawa ke adu penalti kemudian dikenal sebagai contekan Lehmann. Kertas tersebut sekarang tersimpan di Haus der Geschichte, Bonn. Untuk mengerti bagaimana secarik kertas penentu kemenangan pertandingan sepakbola bisa berakhir di museum sejarah negara, kita harus mengerti bahwa kertas tersebut bukan sekedar penentu kemenangan pertandingan sepakbola, bahkan walau kemenangan itu sendiri mengakhiri rangkaian hasil buruk Jerman melawan negara-negara besar sepakbola.

Kemenangan atas Argentina membuat masyarakat Jerman turun ke jalan dan merayakan kejermanan mereka. Ini perayaan nasional yang bersejarah. Kebanyakan masyarakat Jerman menanggung malu atas tindakan keji negaranya pada Perang Dunia II. Menunjukkan patriotisme menjadi hal yang tabu karenanya. Kemenangan atas Argentina membuat masyarakat Jerman menemukan kembali alasan untuk bangga kepada negaranya, dan dengan sendirinya menentukan ulang apa yang tabu dan apa yang bukan.

“Tidak ada apa pun di kertas itu,” ujar Riquelme sebagaimana dikutip dari situs resmi FIFA. “Tidak tertulis apa pun di sana. Itu hanya untuk menunda tendangan sedikit lebih lama dan membuat penendang penalti kami berpikir ia (Lehmann) tahu arah sepakan mereka. Ia cerdas dalam menurunkan kepercayaan diri pemain-pemain kami.” Sampai batas tertentu, Riquelme benar.

“Saya menulis nama pemain-pemain Argentina di hari yang sama, pagi harinya,” ujar Lehmann mengonfirmasi kebenaran contekannya. “Kami bermain sore hari dan saya membuat catatan padapagi harinya.”

Data mengenai kecenderungan penalti para pemain Argentian Lehmann dapatkan dari DFB, federasi sepakbola Jerman. DFB sendiri mendapat data tersebut dari Huub Stevens, pelatih berkebangsaan Belanda, yang memiliki catatan mengenai 13 ribu tendangan penalti.

Entah siapa saja yang dicatat Lehmann pada pagi hari sebelum pertandingan, namun catatan yang ditulis dan diserahkan oleh Kopke berisi tujuh nama dengan catatannya masing-masing: Riquelme kiri atas; Crespo ancang-ancang panjang kanan, ancang-ancang pendek kiri; Heinze kiri bawah; Ayala tunggu lama, ancang-ancang panjang, kanan; Messi kiri; Aimar tunggu lama, kiri; Rodriguez kiri.

Dari tujuh nama yang ada dalam contekan Lehmann, hanya dua yang maju sebagai eksekutor. Lehmann menangkap sepakan Ayala. Lehmann juga menebak dengan tepat arah sepakan Maxi Rodriguez, namun tak mampu menggagalkannya. Contekannya sendiri, dengan demikian, tidak benar-benar berguna. Terlebih ketika penendang penentu tak ada dalam catatan.

Cambiasso maju saat kedudukan 4-2 untuk keunggulan Jerman. Jika ia mencetak gol, maka peluang Argentina tetap terbuka. Jika ia gagal, maka Jerman lolos ke semfinal. Lehmann membaca contekannya namun tak menemukan nama Cambiasso.

“Ia (bermain untuk Inter melawan Villarreal di Champions League,” ujar Lehmann. “Saya tidak tahu bagaimana ia menendangg penalti, namun dengan menyaksikan pertandingan itu saya bisa menebak ke sudut mana Cambiasso merasa nyaman mengarahkan tembakan.” Tebakan Lehmann benar. Jerman lolos ke semifinal.

Sonke Wortmann, sutradara yang membuat film dokumenter berdasar perjalanan tim nasional Jerman di Piala Dunia 2006, membenarkan teori Riquelme. “Lehmann tak dapat menemukan apa pun mengenai kebiasaan Cambiasso dalam contekannya. Walau demikian, secarik kertas itu memainkan peran karena Lehmann membacanya, menatap lawannya, dan mengangguk seolah ia tahu apa yang akan Cambiasso lakukan.”

Contekan Lehmann kemudian berpindah tangan ke Bild, dan pada 16 Desember 2006 Bild melelangnya dalam acara Ein Herz für Kinder (Satu Hati untuk Anak-anak). Contekan tersebut terjual kepada Utz Claasen, CEO Energie Baden-Württemberg, senilai satu juta euro. Semuanya disumbangkan kepada yayasan amal khusus anak-anak. Pada 2007, Claasen menyumbangkan contekan Lehmann ke museum.

Komentar