Achraf Hakimi, Pemain Masa Depan Real Madrid yang Pernah Menyandang Status Pemain Ilegal

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Achraf Hakimi, Pemain Masa Depan Real Madrid yang Pernah Menyandang Status Pemain Ilegal

Achraf Hakimi menjadi salah satu pemain yang penampilannya menyita perhatian saat Real Madrid menghajar Sevilla lima gol tanpa balas di Santiago Bernabeu, Sabtu (9/12). Pemain berusia 19 tahun itu tampil menggantikan Dani Carvajal, yang terpaksa absen lantaran akumulasi kartu kuning, di sektor kanan pertahanan Madrid.

Tugas sulit diemban Hakimi kala itu, karena ia harus berduel dengan Nolito yang ditempatkan Pelatih Eduardo Berrizo sebagai winger kiri dalam formasi dasar 4-3-3. Meski harus sering berduel dengan winger timnas Spanyol itu, Hakimi tak ciut nyali.

Hakimi tampil tanpa kompromi. Aksi bertahannya cukup baik untuk membendung serangan Sevilla dari sayap kiri. Total ada lima tekel sukses yang dicatatkan Hakimi, jumlah tersebut terhitung tekel sukses terbanyak di antara para pemain Madrid.

Aksi bertahan Hakimi membuat Nolito sangat kesulitan mencecar sisi kanan Madrid, Hakimi benar-benar membuat Nolito tak berkutik. Minimnya pergerakan Nolito membuat Eduardo Bizarro tampaknya berang. Pada menit ke-57 mantan pemain Manchester City itu digantikan Pablo Sarabia. Namun perubahan tersebut tak menghasilkan apa-apa, Sarabia juga tetap kesulitan melewati Hakimi.

Selain aksi bertahan yang menyulitkan Nolito dan Sarabia, kegemilangan Hakimi dalam pertandingan tersebut ditutup dengan sebuah gol yang dibukukan menjelang pertandingan berakhir. Saat itu Hakimi sukses mengonversi umpan terobosan Vazquez yang akhirnya memaksa penjaga gawang Sergi Rico memungut bola dari gawangnnya untuk kali kelima.

Gol yang dibukukan Hakimi di laga melawan Sevilla menjadi gol debutnya bersama tim senior Madrid. Selain itu ia menjadi satu-satunya pemain asal Maroko dan pemain keenam Afrika yang mampu menyumbangkan gol untuk Madrid. Selain Hakimi, pemain asal Afrika lain yang pernah mencetak gol bagi Madrid adalah Emmanuel Adebayor (Togo), Javier Balboa (Guinea), Mohamadou Diarra (Mali), Michael Essien (Ghana) dan Geremi (Kamerun.)

"Pertandingan yang tidak akan pernah saya lupakan, gol pertama saya bersama Real Madrid dan kemenangan besar bagi tim. Sangat senang," kata Hakimi dalam sebuah cuitan di akun Twitter pribadinya, beberapa jam seusai pertandingan.

Sempat Masuk Dalam Daftar Cekal FIFA

Mengenal lebih jauh sosok Hakimi, pemuda kelahiran 4 November 1998 itu sejak kecil memang sudah memperlihatkan bakat olah bola yang menawan. Pada usia tujuh tahun, Hakimi sudah memutuskan untuk serius menggeluti sepakbola, dengan bergabung bersama La Fabrica yang merupakan akademi sepakbola Real Madrid pada tahun 2006.

Selama kurang lebih 10 tahun mengenyam pendidikan sepakbola di La Fabrica, potensi Hakimi semakin terlihat. Pada tahun 2016 ia dipromosikan untuk bermain di Real Madrid Castila. Namun pada saat itu, Hakimi harus menelan kenyataan pahit karena FIFA menganggapnya sebagai pemain ilegal.

Pada saat itu, FIFA mengungkap perekrutan 39 pemain muda di bawah usia 18 tahun oleh beberapa klub Spanyol. Hakimi beserta Enzo Zidane masuk dalam daftar 39 pemain muda ilegal.

Akibat pengungkapan tersebut, Real Madrid mendapatkan sanksi tegas berupa larangan melakukan aktifitas transfer pada jendela transfer musim panas 2016 dan musim dingin 2017. Sementara para 39 pemain rekrutan ilegal itu masuk dalam daftar cekal dan tak bisa bermain di kompetisi manapun.

Merasa hukuman yang dijatuhkan FIFA terlalu berat, Madrid kemudian mengajukan banding ke Badan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS). Angin segar menerpa karier Hakimi, karena CAS menerima banding tersebut dan merevisi hukuman, dengan memperbolehkan pemain-pemain yang sebelumnya masuk dalam daftar cekal itu kembali bermain di klubnya masing-masing.

Pada September 2016, FIFA merevisi daftar pemain-pemain ilegal yang mereka ungkap sebelumnya. Federasi Sepakbola Dunia itu mereduksi jumlah pemain illegal itu menjadi delapan. Nama Hakimi masuk dalam pencoretan list pemain ilegal yang dilakukan FIFA kala itu, bersama Enzo Zidane.

Setelah statusnya sebagai pemain ilegal itu dicabut, Hakimi bisa lebih fokus bermain untuk Real Madrid Castilla yang berkompetisi di Divisi Segunda pada musim 2016/2017. Sosoknya bisa dibilang sebagai figur penting di skuat Castilla. Selama semusim, ia tampil dalam 34 penampilan dengan catatan dua gol dan 10 asis.

Zinedine Zidane yang melihat potensi Hakimi langsung menariknya ke tim senior Madrid pada musim 2017/2018. Hakimi mulai bergabung bersama Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan sejak melakukan tur pra musim ke Amerika Serikat. Awalnya Hakimi masuk dalam daftar pemain yang akan dipinjamkan. Deportivo Alaves, menjadi kesebelasan yang siap menampungnya kala itu.

Namun Zidane akhirnya menolak meminjamkan Hakimi ke Alaves dengan berbagai pertimbangan. Salah satu faktor pemicu pelatih asal Prancis itu enggan meminjamkan Hakimi ke Alaves adalah hengkangnya Danilo ke Manchester City.

Kalau Hakimi juga ikut hengkang, maka hanya tinggal Dani Carvajal pemain yang berposisi bek sayap kanan di Los Blancos. Mengandalkan Carvajal seorang tentu sangat berisiko, sehingga Hakimi pun diproyeksi Zidane di tim utama sebagai pelapis Carvajal.

Calon Pemain Kunci di Sisi Kanan Pertahanan

Keputusan Zidane untuk tidak meminjamkan Hakimi ke Alaves terbukti tepat. Pada awal musim 2017/2018, Carvajal absen dalam beberapa pertandingan karena masalah jantung. Penyakit jantung Carvajal seolah menjadi jalan bagi Hakimi unjuk gigi bersama tim senior Madrid. Hakimi memulai debutnya bersama Madrid di ajang La Liga pada 1 Oktober.

Saat itu Hakimi tampil saat Madrid mengalahkan Espanyol dua gol tanpa balas. Meski berstatus debutan, Zidane menaruh kepercayaan penuh kepadanya dengan memasang Hakimi selama 90 menit pertandingan. Dalam pertandingan melawan Espanyol, Hakimi mencatatkan rekor sebagai pemain termuda yang tampil di La Liga.

Selain laga melawan Espanyol, Zidane juga mempercayakan Hakimi tampil dalam dua pertandingan Liga Champions menghadapi Tottenham Hotspur. Total sepanjang musim ini Hakimi telah membukukan delapan penampilan di semua ajang dengan torehan satu gol. Catatan bermainnya itu memang masih terbilang minim. Tapi untuk ukuran seorang pemain 19 tahun yang bermain di klub sebesar Madrid, jumlah tersebut terbilang cukup mengagumkan.

Masih banyak waktu bagi Hakimi untuk berkembang, apalagi kompetisi musim 2017/2018 masih terbentang panjang. Masih ada banyak hal yang bisa ia perbuat untuk meningkatkan level permainannya itu. Apalagi, pada pekan ini ia akan tampil membela Madrid di ajang Piala Dunia Antarklub.

Permainan gemilang tak hanya Hakimi tunjukkan di level klub. Di level tim nasional dirinya memiliki catatan penampilan yang tak kalah bagusnya. Hakimi yang lahir di Madrid, memiliki kedua orang tua yang berasal dari Maroko, yang bermigrasi ke Spanyol. Saat dewasa, ia lebih memilih menjadi warga negara Maroko ketimbang Spanyol.

Bersama timnas senior Maroko, ia mencatatkan enam penampilan dengan torehan satu gol. Kesan paling besar yang ia rasakan bersama timnas Maroko adalah keberhasilan membawa Singa Atlas ke Piala Dunia 2018.

Boleh dibilang, Hakimi menjadi salah satu sosok yang memiliki andil besar dalam meloloskan Maroko ke Piala Dunia 2018. Perannya di sektor kanan pertahanan Maroko seakan tak tergantikan, dari empat penampilan yang dilakoni di babak kualifikasi ia selalu bermain penuh.

Komentar