Manuchekhr Dzhalilov, Matang di Rusia dan Bertaji di Istiklol

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Manuchekhr Dzhalilov, Matang di Rusia dan Bertaji di Istiklol

Pergerakan Sriwijaya FC di bursa transfer menjelang bergulirnya kompetisi Liga 1 Indonesia 2018 tampaknya belum menemui akhir. Setelah mendapatkan beberapa pemain bintang seperti Makan Konate, Esteban Vizcara, Adam Alis, hingga Alfin Tuasalamony, klub berjulukan Laskar Wong Kito itu dikabarkan telah merampungkan kesepakatan untuk memboyong pemain asal Tajikistan, Manuchekhr Dzhalilov.

Sosok Dzhalilov mungkin masih terdengar asing bagi publik sepakbola nasional. Maklum, musim kompetisi 2018 mendatang bakal menjadi musim perdananya berkiprah di sepakbola Indonesia. Meski begitu, pemain berusia 27 tahun itu memiliki prospek yang cukup menjanjikan untuk mengangkat performa Sriwijaya FC lebih baik pada musim depan.

Matang Setelah Ditempa di Kompetisi Rusia

Melihat rekam jejaknya, Dzhalilov banyak menghabiskan kariernya di Rusia, karena ia lahir di Rusia. Tercatat ia merupakan pemain yang dibina oleh kesebelasan raksasa Rusia, Lokomotiv Moskow. Pada tahun 2009 ia masuk dalam tim Lokomotiv-2 Moskow yang berkompetisi di level tiga liga Rusia. Hingga tahun 2010 ia bermain untuk tim kedua Lokomotiv dengan torehan delapan gol dari 45 penampilan.

Catatan tersebut belum membuat tim utama Lokomotiv yang bermain di Liga Primer Rusia tertarik pada bakat Dzhalilov. Gagal bergabung bersama tim utama Lokomotiv, ia kemudian menerima pinangan Neftekhimik Nizhnekamsk yang bermain di divisi dua Rusia pada musim 2011/2012.

Selama empat musim membela Neftekhimik, kariernya tak berkembang karena mentok sebagai pemain lapis dua. Setelah musim 2014/2015 rampung digelar, Dzhalilov memilih hijrah ke Tajikistan, negara kedua orang tuanya, untuk membela Istiklol.

Tempaan selama kurang lebih enam musim bermain di Rusia membuat Dzhalilov hadir sebagai pilar utama Istiklol di lini depan. Musim perdananya di kompetisi Tajikistan ditandai dengan prestasi gemilang. Selain mampu membawa Istiklol meraih kampiun, ia juga diberi penghargaan sebagai pemain terbaik Tajikistan tahun 2015.

Selain itu pada musim 2015/2016, Dzhalilov juga berhasil meraih gelar pencetak gol terbanyak, dengan torehan 22 gol. Hebatnya, jumlah gol tersebut dicetak hanya dalam 13 pertandingan saja. Sepanjang musim tersebut, Dzhalilov membukukan 30 penampilan di semua ajang, dengan catatan 30 gol. Jadi, rataan produktivitas golnya pada musim tersebut adalah satu gol per satu pertandingan.

Kegemilangan Dzhalilov berlanjut pada musim 2016/2017, lagi-lagi ia berhasil membawa Istiklol menjadi jawara Liga Tajikistan. Gelar top skor juga berhasil ia sandang dengan torehan 22 gol dalam 17 penampilan. Total, dari 30 pertandingan yang dilakoni di semua ajang, pemain yang bisa bermain sebagai penyerang, winger, dan gelandang serang ini mencatatkan 31 gol selama semusim.

Sementara pada musim 2017, lagi-lagi Istiklol berhasil Dzhalilov bawa sebagai kampiun kompetisi domestik. Hanya saja, pada musim lalu ia gagal meraih gelar pencetak gol terbanyak. Produktivitas Dzhalilov pada musim lalu di kompetisi domestik terbilang menurun, dari 17 laga hanya 15 gol yang berhasil dicetak.

Meski begitu, pada musim 2017 ada pencapaian lebih baik yang sukses diukirnya. Ia tercatat sebagai salah satu aktor keberhasilan Istiklol mencapai babak final Piala AFC 2017. Di laga final, The Lions kandas dari wakil Irak, Al-Quwa Al-Jawiya, dengan skor tipis 0-1. Meski gagal membawa timnya juara, setidaknya Dzhalilov bisa berbangga hati karena pada akhir turnamen, pemain timnas Tajikistan itu didaulat sebagai pemain terbaik Piala AFC 2017.

Penampilan gemilang tidak hanya ditunjukkan Dzhalilov di level klub, di timnas Tajikistan ia juga merupakan tumpuan tim. Sejak tahun 2007 ia sudah terbiasa bolak-balik Tim Nasional. Kiprahnya di level timnas juga diawali secara berjenjang di mulai dari kelompok usia U-17 hingga akhirnya mendapat tempat di timnas senior.

Debut Dzhalilov bersama timnas Tajikistan terjadi di laga melawan Uzbekistan pada 2 September 2011, dalam pertandingan tersebut ia tampil sejak menit pertama. Sayang, debutnya berakhir tragis karena Tajikistan kalah 0-1 dari Uzbekistan. Sejak saat itu Dzhalilov bisa dibilang sebagai langganan timnas Tajikistan. Total ia memiliki 23 caps dengan torehan 15 gol. Torehan golnya itu menyamai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Tajikistan, Yusuf Rabiev.

Berpotensi Membuat Lini Depan Sriwijaya FC Lebih Mematikan

Melihat rekam jejak Dzhalilov yang gemilang selama tiga musim bermain di kompetisi Tajikistan, besar kemungkinan bahwa dirinya akan membuat lini depan Sriwijaya FC lebih bertaring. Melalui kemampuannya yang bisa bermain di berbagai posisi seperti winger, gelandang serang, dan striker, Rahmad Darmawan sebagai pelatih tentu tidak harus dipusingkan dalam menentukan posisi yang tepat bagi pemain kelahiran 27 September 1990 itu.

Dzhalilov biasa berperan sebagai winger kanan, pos tersebut biasa diperankan saat ia aktif bermain di Rusia bersama Neftekhimik Nizhnekamsk. Melihat gaya permainannya dari tayangan video, Dzhalilov merupakan tipikal pemain yang memiliki kemampuan dribel yang cukup baik. Melalui sokongan kecepatan yang juga dimilikinya, ia bisa dimanfaatkan untuk mengeksploitasi lini pertahanan lawan melalui sisi lapangan.

Rahmad Darmawan juga bisa menempatkan Dzhalilov sebagai penyerang untuk mendampingi Alberto Goncalves yang dalam beberapa musim terakhir menjadi mesin gol Laskar Wong Kito. Pos penyerang sering Dzhalilov mainkan saat membela Istiklol. Melalui catatan golnya selama tiga musim membela Istiklol, rasanya cukup untuk menggambarkan betapa tajamnya ia saat bermain sebagai ujung tombak. Kemungkinannya duet Beto dan Dzhalilov bisa dimanjakan dengan suplai bola dari Konate Makan atau Esteban Vizcara sebagai pemain tengah.

Kelebihan lain yang dimiliki Dzhalilov adalah kemampuan tembakan jarak jauhnya, beberapa kali dalam tayangan video diperlihatkan ia mampu mencetak gol melalui sepakan jarak jauh. Selain itu, ia pun memiliki kemampuan untuk mengambil set-piece tendangan bebas.

Berpotensi Menjadi Pemicu Kehadiran Pemain Tajikistan di Sepakbola Indonesia

Dzhalilov merupakan pemain asal Tajikistan pertama yang berkiprah di pentas sepakbola nasional. Namun ia bukan pemain asal Asia Tengah pertama yang pernah berkiprah di Liga Indonesia.

Sebelumnya ada sosok Mekan Nasyrov, pemain asal Turkmenistan yang cukup lama melanglang buana di pentas sepakbola Indonesia. Tercatat kurang lebih selama tujuh tahun (2009-2016) ia berkiprah di Indonesia dan membela beberapa klub seperti Persik Kediri, Persibo Bojonegoro, hingga Barito Putera.

Selain Nasyrov, ada juga sosok Ahmet Atayev yang saat ini merupakan penggawa Arema FC. Atayev didatangkan Singo Edan di jeda kompetisi menuju putaran dua Liga 1 Indonesia 2017. Perannya begitu sentral di lini tengah Arema musim lalu, menjelang bergulirnya Liga 1 2018, Arema memperpanjang kontrak Atayev.

Melihat kiprah Nasyrov dan Atayev di sepakbola Indonesia, sedikit banyaknya bisa menjadi acuan bahwa gaya permainan pemain-pemain asal Asia Tengah terbilang cocok dengan kultur sepakbola Indonesia. Dzhalilov mungkin bisa mengikuti kiprah Nasyrov atau Atayev yang permainannya mampu memikat publik sepakbola nasional.

Lebih dari pada itu, kehadiran Dzhalilov juga kemungkinan besar bisa menjadi pemicu bagi para pemain asal Tajikistan lainnya berkompetisi di sepakbola Indonesia. Selain Dzhalilov ada beberapa pemain Tajikistan yang juga punya kualitas mumpuni yang bisa diboyong oleh tim-tim Indonesia untuk melengkapi slot kuota pemain asing Asia.

Beberapa nama yang mungkin berpotensi di antaranya adalah Parvizdzhon Umarbayev, saat ini ia bermain di kompetisi Bulgaria bersama Lokomotiv Plovdiv. Kiprahnya mirip dengan Dzhalilov yang memulai karier sejak usia junior di Rusia. Bedanya Umarbayev merupakan produk binaan Rubin Kazan. Dari tahun 2009 sampai 2014, ia berkiprah di Rusia bersama beberapa kesebelasan seperti Rubin Kazan, Neftekhimik dan Khimik Dzerzhinsk.

Pada tahun 2015, Umarbayev bermain untuk Istiklol, namun hanya semusim saja ia bermain untuk The Lions. Pada tahun 2016 ia diboyong Plovdiv dan menjadi pemain utama di klub tersebut. Dua musim berkiprah di Bulgaria, pemain berposisi gelandang serang itu mencatatkan 51 penampilan dengan torehan lima gol.

Mungkin agak sulit bagi tim-tim Indonesia untuk memboyong Umarbayev karena ia masih terikat kontrak hingga 2018 mendatang. Meski begitu Umarbayev merupakan pemain potensial, usianya masih 23 tahun namun sejak tahun 2015 ia sudah dipercaya menjadi langganan tim nasional. Total, 16 penampilan dibukukan bersama timnas Tajikistan, dengan torehan enam gol.

Selain itu salah satu pemain yang Sievush Asrorov, pemain asal Istiklol itu terbilang sebagai salah satu bek tangguh di kompetisi Tajikistan. Ia juga merupakan andalan lini belakang timnas Tajikistan, sejak tahun 2014 hingga 2017 Asrorov membukukan 26 caps di level tim nasional.

Selain andal mengawal pertahanan, Asrorov juga dikenal sebagai salah satu pemain belakang yang cukup produktif, dari 104 penampilannya bersama Istiklol di semua ajang pemain berusia 25 tahun itu mampu mengemas sedikitnya 10 gol­.

Yang jelas, jika Dzhalilov bersedia bermain di Indonesia, ini berarti Liga Indonesia mulai dipandang sebagai liga yang kompetitif bagi para pemain Asia Tengah, khususnya Tajikistan. Karena Dzhalilov yang masih berusia 27 tahun tersebut bisa dibilang merupakan pemain terbaik Tajikistan saat ini. Klub-klub Indonesia lain bisa menjadikan pemain timnas Tajikistan untuk memenuhi kuota pemain asing asal Asia yang kemungkinan masih akan diberlakukan pada Liga 1 2018 nanti.

Foto: Fox Sports Asia

Komentar