Mengenang Masa Emas PSIS Semarang di Kompetisi Utama Sepakbola Indonesia

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Mengenang Masa Emas PSIS Semarang di Kompetisi Utama Sepakbola Indonesia

Kurang lebih sudah sembilan tahun PSIS Semarang absen meramaikan ingar-bingar pentas kompetisi utama sepakbola Indonesia. Kali terakhir klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar itu tampil di kompetisi level utama Indonesia adalah pada tahun 2008, di ajang Liga Super Indonesia (LSI).

Kenyataan pahit harus ditelan PSIS karena pada musim tersebut mereka terpaksa terdegradasi ke Divisi Satu setelah mengakhiri kompetisi di posisi juru kunci. Setelah itu, nama PSIS tenggelam dalam kurun waktu yang cukup lama.

Namun pada tahun 2017, penantian panjang masyarakat Semarang untuk kembali menyaksikan PSIS berlaga di kompetisi level utama Indonesia akhirnya berakhir. Pada akhir kompetisi Liga 2 2017 Laskar Mahesa Jenar memastikan tiket promosi ke Liga 1. Mereka tercatat sebagai kesebelasan ketiga asal Liga 2 yang promosi ke Liga 1 pada musim depan, menyusul Persebaya Surabaya dan PSMS Medan yang lebih dulu memastikan lolos setelah meraih kemenangan di laga semifinal.

Di babak empat besar, PSIS kalah dua gol tanpa balas dari PSMS, hingga penentuan satu tiket promosi ke Liga 1 harus digapai melalui babak perebutan tempat ketiga melawan Martapura FC. Martapura berhasil ditumbangkan dengan skor ketat 6-4, dan Laskar Mahesa Jenar berhak berkompetisi di Liga 1 pada musim depan.

Tantangan berat menanti PSIS di Liga 1 musim depan, mereka harus bisa bersaing dengan tim-tim kuat seperti juara bertahan Bhayangkara FC, Bali United, Madura United, Persipura Jayapura, hingga Arema FC. Selain itu, tantangan juga akan mereka dapatkan dari tim-tim besar alumnus Perserikatan lainnya seperti PSM Makassar, Persija Jakarta, dan Persib Bandung.

Perjalanan mungkin akan terasa berat bagi PSIS untuk setidaknya bertahan di Liga 1, tapi yang patut diketahui bahwa tim yang juga memiliki julukan Si Jago Becek itu bukanlah klub kemarin sore di kompetisi teratas Indonesia. Apalagi sejak dulu mereka juga dikenal sebagai kesebelasan penuh kejutan.

PSIS tercatat sebagai salah satu kesebelasan legendaris di pentas sepakbola nasional. Mereka pernah merasakan gelar juara Liga Indonesia musim 1999. Bisa dibilang, itu merupakan musim terbaik PSIS selama mentas di kompetisi utama Indonesia, sebab gelar juara tersebut diraih saat tim tengah dalam kondisi kalut karena masalah finansial.

Selain itu materi pemain PSIS juga pada saat itu terbilang biasa saja, sehingga mereka sebenarnya bukanlah kesebelasan favorit juara pada saat itu. Namun skuat asuhan Edy Paryono itu berhasil membuktikan diri bahwa mereka adalah tim kuat dan layak juara. Di partai final yang berlangsung di Stadion Klabat, Manado, PSIS mengunci kemenangan tipis 1-0 atas persebaya Surabaya. Gol semata wayang PSIS dicetak Tugiyo, striker mungil yang dijuluki Maradona dari Purwodadi.

Kemenangan atas Persebaya khusus dipersembahkan para penggawa PSIS bagi 11 suporter mereka yang tewas akibat tertabrak Kereta Api di perlintasan Kereta kawasan Lenteng Agung, Jakarta, saat hendak menyaksikan tim kesayangannya itu tampil di babak delapan besar yang berlangsung di Stadion Utama Senayan (Stadion Utama Gelora Bung Karno).

Era Keemasan Kedua

Setelah menjuarai Liga Indonesia musim 1999, PSIS malah melempem di musim berikutnya. Mereka kemudian terdegradasi ke Divisi Satu. Setelah kembali ke Liga Indonesia pada musim 2001, performa mereka terlihat mulai stabil meski dalam empat tahun kiprahnya banyak dihabiskan di papan tengah.

Pada musim 2005 Manajer PSIS, Yoyok Sukawi, menerapkan kebijakan baru dalam hal pembelian pemain. Yoyok menginstruksikan agar PSIS lebih banyak mengandalkan pemain-pemain asli Semarang yang padukan dengan pemain asing yang punya rekam jejak mentereng di sepakbola Indonesia.

Salah satu pemain asing terbaik yang didatangkan PSIS pada musim 2005 adalah Emanuel De Porras yang pada musim sebelumnya tercatat sebagai juru gedor utama Persija Jakarta. Kehadiran De Porras membuat lini serang PSIS lebih bertaji. Sebanyak 13 gol berhasil dicetak pemain asal Argentina itu di musim pertamanya bersama Laskar Mahesa Jenar.

Sosok De Porras seolah mengingatkan memori para pendukung PSIS pada sosok Julio Lopez yang pada musim 2003 pernah menjadi pencetak gol terbanyak PSIS. Namun pada tahun 2004, Lopez memilih hengkang ke Persib Bandung. Sempat ada German Osorio, tapi penampilannya tak secemerlang Lopez.

Prestasi PSIS pada musim 2005 terbilang meningkat pesat, mereka berhasil menduduki posisi tiga besar di klasemen akhir Wilayah Barat. Pencapaian tersebut membuat PSIS yang kala itu ditukangi oleh Bambang Nurdiansyah berhak melaju ke babak delapan besar.

Sayang misi melaju ke final gagal dicapai PSIS setelah mereka hanya menempati posisi dua di klasemen akhir Grup Barat delapan besar Liga Indonesia. Si Jago Becek kemudian harus puas menempati posisi tiga di akhir kompetisi setelah mengalahkan PSMS Medan dalam laga perebutan tempat ketiga.

Pada musim berikutnya, posisi Bambang Nurdiansyah diganti Sutan Harhara. Tidak banyak memang perombakan skuat yang dilakukan PSIS pada saat itu, namun tetap beberapa pemain anyar didatangkan.

Paling menyita perhatian tentunya kedatangan Gustavo Hernan Ortiz dan Greg Nwokolo untuk menambah daya gedor. Ortiz didatangkan dari PSPS Pekanbaru, kehadirannya diharapkan mampu membuat produktivitas De Porras meningkat, karena Ortiz dan De Porras sama-sama pernah berduet di Persija Jakarta.

Selain itu, dari jajaran pemain lokal yang paling menyita perhatian tentunya kehadiran tiga mantan pemain Persib Bandung: Suwita Patha, Yaris Riyadi, dan Imral Usman. Ketiga mantan penggawa Maung Bandung itu saling bahu membahu bersama pemain lokal PSIS lainnya seperti Maman Abudurrahman, Indrianto Nugroho, Harry Salisbury, Muhammad Ridwan, hingga Khusnul Yakin.

Komposisi skuat PSIS kala itu bisa dibilang sangat ideal untuk mendongkrak prestasi yang jauh lebih baik pada musim sebelumnya. PSIS kembali menapak ke babak delapan besar setelah menempati posisi tiga di klasemen akhir wilayah barat. Perjalanan mereka di babak delapan besar juga terbilang mulus, hingga sampailah PSIS di babak semifinal.

Namun terjadi perubahan mengejutkan, sebelum pertandingan semifinal menghadapi Persekabpas Pasruan, posisi Sutan Harhara sebagai pelatih kepala diganti Bonggo Pribadi yang sebelumnya menjabat sebagai asisten pelatih. Namun pergantian pelatih di tengah jalan, tak memengaruhi performa PSIS. Persekabpas ditumbangkan dengan skor 1-0, dan Laskar Mahesa Jenar melangkah ke babak final.

Sayang, menghadapi Persik Kediri di partai puncak, PSIS tumbang dengan skor tipis 0-1 yang membuat ambisi mereka meraih gelar juara keduanya di era Liga Indonesia terkubur dalam-dalam. Setelah tampil impresif di musim 2005 dan 2006, lambat laun performa PSIS mulai menunjukkan penurunan. Puncaknya pada musim 2008, saat mereka akhirnya terdegradasi.

Komentar