Young dan Valencia, Winger Tradisional yang Mampu Beradaptasi dengan Sepakbola Modern

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 30960 Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Young dan Valencia, Winger Tradisional yang Mampu Beradaptasi dengan Sepakbola Modern

Antonio Valencia dan Ashley Young adalah dua pemain yang direkrut Manchester United untuk posisi sayap menyerang. Namun beberapa tahun belakangan, keduanya mulai lebih akrab bermain di sayap pertahanan. Meski begitu, dibanding bermain di posisi sayap menyerang, Young dan Valencia tampil lebih berguna di posisi full-back atau wing-back.

Bisa dibilang, Valencia dan Young berhasil menyesuaikan diri dengan keinginan setiap manajer United. Karena seperti yang kita tahu, pemain top datang dan pergi di skuat United, namun keduanya tetap bisa bertahan dan kini menjadi dua pemain loyal untuk United. Untuk pemain sayap, yang tersisih justru pemain-pemain dengan kualitas top seperti Angel Di Maria, Memphis Depay, dan Luis Nani, atau pemain-pemain sayap berpotensi seperti Adnan Januzaj, Wilfried Zaha, Gabriel Obertan, Bebe, hingga Zoran Tosic.

Semakin menua usia Valencia dan Young (padahal "young" artinya "muda") pun tak membuat keduanya lebih sering duduk di bangku pemain pengganti. Justru sekarang, bersama Jose Mourinho, keduanya semakin diandalkan, di posisi sayap pertahanan. Bisa dibilang, keduanya merupakan winger tradisional yang bisa beradaptasi dengan tuntutan sepakbola modern.

Intelejensia Antonio Valencia

Pada awal kariernya, Antonio Valencia adalah pemain sayap menyerang yang menakutkan bagi lini pertahanan lawan. Ia merupakan winger tradisional yang masih bisa bertahan di tengah perubahan peran seorang pemain sayap. Sejak masih muda, pemain timnas Ekuador ini berusaha mereplika gaya permainan idolanya yang juga dari Ekuador, Edison Mendez.

Edison bukan pemain sayap yang rajin mencetak gol. Di timnas Ekuador, dari total 111 penampilan, hanya 18 gol saja ia ciptakan. Sering juga ditempatkan sebagai gelandang serang di belakang penyerang, Edison lebih berperan sebagai penyuplai bola. Maka dari itu Valencia pun memaksimalkan kemampuannya sebagai pemain sayap penyuplai bola untuk penyerang. Pada debutnya di timnas Ekuador (19 tahun), Valencia ditempatkan di sayap kanan sementara Edison di sayap kiri dalam formasi 4-4-2.

Saat hijrah ke Eropa untuk pertama kali, Valencia begitu kesulitan. Terbukti ia gagal di Villarreal juga di Recreativo Huelva. Namun Valencia adalah pemain yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk tim. Hal itulah yang membuatnya mulai bersinar di Wigan Athletic.

Manajer Wigan pada 2006, Paul Jewell, melihat Valencia sebagai pemain dengan intelejensia tinggi. Kemampuannya itu sudah terlihat di usia muda, termasuk ketika Jewell memantaunya pada laga uji tanding timnas Ekuador.

"Saya sedang memantau pemain di laga Polandia vs Ekuador, saya pikir saya bisa melihat beberapa pemain Polandia yang menarik. Karena sebagai manajer Wigan, tak terpikir oleh saya untuk memantau pemain Ekuador," kata Jewell pada Mirror. "Tapi Ekuador menang 2-0 dan ada satu pemain yang paling menonjol; Valencia."

"Saya suka kemampuannya membaca permainan," sambung Jewell. "Saya lebih kaget lagi ketika mengetahui usianya masih 20 tahun, sementara permainannya sudah sangat dewasa." Valencia kemudian bergabung ke Wigan dengan status pinjaman.

Hijrah ke Inggris, Valencia tak mau kariernya gagal seperti di Spanyol. Maka yang ia lakukan adalah berusaha beradaptasi. Collin Young, kolumnis Daily Mail, menjelaskan jika upaya keras Valencia menyesuaikan diri dengan kultur sepakbola Inggris adalah dengan langsung belajar Bahasa Inggris di musim pertamanya, bersama pemain Amerika Selatan di klub Inggris lainnya seperti Maynor Figueroa, Wilson Palacios, Felipe Caicedo, dan Segundo Castillo. Adaptasinya berhasil karena berhasil mencuri perhatian Steve Bruce, manajer Wigan pengganti Jewell.

"Dia (Valencia) adalah pemain yang pertama kali saya permanenkan ketika saya menjadi manajer Wigan," ujar Steve Bruce. "Ia sangat profesional dan sangat kuat seperti kerang. Ia sangat mudah untuk dilatih karena ia sangat fokus pada sepakbola, karena lewat sepakbola juga ia menghidupi keluarganya (Valencia memiliki lima saudara laki-laki dan satu saudara perempuan)."

Valencia saat masih membela Wigan Athletic (via: Reuters)

Soal attitude, Valencia bisa dibilang merupakan contoh terbaik bagi pemain lain. Di Manchester United saat ini pun ia mulai sering menjadi kapten. Bahkan soal attitude-nya tersebut ia pernah dipuji setinggi langit oleh Chairman Wigan, Dave Whelan. "Jika semua pesepakbola seperti Antonio, hidup akan lebih indah. Ia sangat tenang, rajin, dan punya manner yang baik sebagai seorang pria."

Bersama Bruce, Valencia makin menunjukkan potensinya. Saat itulah Manchester United tertarik untuk mendatangkannya. Tak hanya United, Real Madrid juga berminat pada Valencia. Namun Whelan menyarankan Valencia untuk bergabung dengan United karena adanya sosok Sir Alex Ferguson.

Bersambung ke halaman berikutnya

Komentar