Mimpi Buruk Kehidupan Richarlison Telah Berakhir

Cerita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Mimpi Buruk Kehidupan Richarlison Telah Berakhir

Richarlison sedang menikmati karier pertamanya di Liga Primer Inggris bersama Watford di bawah kepelatihan Marco Silva. Pemain multi posisi itu langsung mencetak tiga gol dan dua asis dari delapan pertandingan Liga Primer Inggris 2017/2018.

Penampilannya sejauh itu mendapatkan pujian dari Jamie Redknapp yang merupakan pengamat sepakbola dari Sky Sports. Bahkan ia membandingkan Richarlison dengan Cristiano Ronaldo sewaktu muda. Atau bahkan bisa lebih baik dari pemain Real Madrid tersebut.

Perbandingan itu karena Richarlison memiliki kemampuan-kemampuan kecil yang dilakukan sedikit sama dengan Ronaldo sewaktu muda. Richarlison dianggap mampu melakukan hal-hal khusus pada bola yang hanya bisa dilakukan beberapa pemain saja. Salah satunya seperti melayang ketika menggiring bola hingga melewati lawan-lawannya.

"Ada sedikit ketidaksabaran dalam permainannya, tapi jika manajernya bisa memolesnya, intan itu ada di sana dan dia akan menjadi sesuatu. Anda bisa memiliki bakat super dan saya ingat pernah bertemu dengan Ronaldo dan berpikir bahwa anak ini sangat spesial. Dia punya banyak potongan kecil yang perlu dipolesnya," kata Redknapp seperti dikutip dari Daily Mail.

Kemampuan itu memberikan permata kepada Silva setelah tiba di Watford dengan transfer 11,2 juta paun dari Fluminense pada Agustus lalu. "Sudah menjadi impian untuk berada di Inggris. Di sebuah klub sebesar Watford. Ini adalah mimpi dari masa kecil saya. Saya selalu ingin bermain di Liga Primer yang merupakan salah satu liga terbaik di dunia," ujar Richarlison seperti dikutip dari Goal.

Biasanya membutuhkan banyak waktu dalam menyesuaikan diri dengan sepakbola di Inggris. Tapi Richarlison sudah terlihat seperti benar-benar berada di rumahnya sendiri, meskipun ia masih harus mengatasi kendalanya soal bahasa. Tapi Richarlison dimentori Heurelho Gomes yang sama-sama berasal dari Brasil di Watford untuk belajar kebudayaan di Inggris.

Di Brasil, Richarlison lahir dari ayah yang berprofesi sebagai tukang batu dan ibunya sebagai karyawan kebersihan. Mereka menjadikan Richarlison menjadi anak pertamanya di Nova Venecia pada 1997 silam. Di kawasan itulah ilmu sepakbola Richarlison diasah untuk pertama kalinya.

Ia dibesarkan dengan lingkungan yang indah, tapi harus sambil bekerja selama masa mudanya karena hidup dalam kemiskinan. Menjadi penjual es krim adalah pengorbanan Richarlison demi mendapatkan uang tambahan untuk keluarganya. (Baca selengkapnya: Richarlison di Antara Chelsea dan Todongan Senjata Api)

Sejauh ini, Richarlison terus memperbaiki Bahasa Inggrisnya. Apalagi para pendukung Watford sudah menciptakan lagu untuknya. "Richarlison, Richarlison, dia bermain untuk Watford di dalam pasukan Silva," begitulah nyanyian para pendukung Watford yang dikhususkan untuk pemain yang biasa dijadikan sayap kiri di Watford itu.

"Pendukung di sini luar biasa. Saya ingin belajar bernyanyi untuk dinyanyikan bersama mereka. Kasih sayang mereka memotivasi saya untuk bermain lebih baik lagi, berlari sedikit lebih jauh. Saya terkejut dengan penerimaan dari mereka. Saya tidak punya kata-kata untuk menggambarkan apa yang telah penggemar lakukan untuk saya," respons Richarlison mengenai nyanyian dari para pendukungnya itu.

Mulai dipantau dua kesebelasan besar Liga Primer Inggris

berkat penampilan gemilang Richarlison, ia langsung dijadikan target Tottenham Hotspur untuk direkrut. Kabar dari ESPN FC itu muncul setelah ia mencetak satu gol meskipun dikalahkan Everton dengan skor 3-2 pada 5 November lalu. Gol yang dicetaknya itu membuktikan Richarlison bisa beradaptasi dengan Liga Primer Inggris dalam waktu tiga bulan saja.

Selain adaptasi, fleskibilitas posisi serba gunanya, semakin membuat minat Tottenham untuk merekrutnya. Kemudian Chelsea juga dikabarkan ikut-ikutan mengincar pemain 20 tahun tersebut. Ketertarikan dua kesebelasan besar Liga Primer Inggris itu tidak membuat Silva terkejut.

"[Ketertarikan] itu tidak benar-benar mengejutkan. Dia seorang yang fantastis yang memberikan dampak untuk klub kami dan Liga Primer. Itu situasi yang normal ketika setiap orang mulai membicarakan tentang dia, tapi yang terpenting adalah dia tetap pergi untuk berkembang," katanya.

Terakhir, Richarlison menghancurkan optimisme yang dibangun David Moyes sejak ditunjuk menjadi Manajer West Ham United. Richarlison terus merepotkan pertahanan West Ham di Stadion Vincarage Road, Minggu (19/11). Ia selalu terlihat beredar di area kotak penalti kesebelasan berjuluk The Hammers tersebut.

Sampai pada akhirnya Richarlison berhasil mencetak gol kedua Watford pada menit ke-64 setelah menerima umpan dari Will Hughes. Gol itu menjadi yang ke lima pemain bernomor punggung 11 itu di Liga Primer Inggris musim ini. Torehan itu menjadikan Richarlison sebagai pencetak gol terbanyak di Watford setelah empat gol yang dikoleksi Abdoulaye Doucore.

"Tuhan telah membuat segalanya menjadi sempurna untuk saya. Saya tidak berpikir dua kali ketika ada tawaran dari Inggris datang. Karena itu selalu menjadi tujuan profesional saya. Saya ingin membuat sejarah di Watford dan mencetak banyak gol," seperti yang pernah diungkapkan Richarlison.

Hal paling penting adalah gol itu membantu kemenangan Watford setelah mengalami kekalahan beruntun pada tiga pertandingan Liga Primer Inggris sebelumnya. Kemenangan itu juga membantu Watford naik ke peringkat delapan klasemen sementara Liga Primer Inggris 2017/2018.

Catatan buruk Watford dalam tiga pertandingan sebelumnya secara beruntun pun telah ditutup melalui gol Richarlison. Sementara bagi ia sendiri adalah mimpi buruk dari kehidupan pribadinya pun kini sudah berakhir. Di sisi lain, atas gol dan asis Richarlison, tentunya tidak sedikit yang memasukannya ke dalam skuat Fantasy Premier League musim ini.

Sumber lain: Mirror, Independent, The Sun

Komentar