Kontroversi Bhayangkara FC ke Puncak Klasemen Lewat Hasil Komdis

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Kontroversi Bhayangkara FC ke Puncak Klasemen Lewat Hasil Komdis

Bali United ke puncak klasemen Liga 1 2017 setelah berhasil mengalahkan PSM Makassar pada Senin (6/11). Tapi beberapa hari berselang, tanpa ada pertandingan yang dijalani, Bhayangkara FC kembali ke puncak klasemen, punya poin sama dengan Bali United, 65 poin. Bhayangkara FC, yang unggul head-to-head atas Bali United, ke puncak klasemen lewat hasil putusan Komisi Disiplin.

Awalnya, Bhayangkara berada di posisi kedua dengan torehan 63 poin, terpaut dua poin dari Bali United. Tapi putusan Komdis membuat Bhayangkara memiliki 65 poin karena hasil banding pada Komdis usai bermain imbang 1-1 melawan Mitra Kukar di pekan ke-33 (ke-32 bagi Bhayangkara). Protes Bhayangkara terhadap Mitra Kukar yang mempertanyakan keabsahan Mohamed Sissoko berbuah kemenangan 3-0 untuk mereka, menganulir hasil 1-1.

Usai laga melawan Mitra Kukar, Bhayangkara melayangkan surat protes pada Komdis karena menganggapi Sissoko seharusnya tidak boleh bermain. Pemain kelahiran Prancis tersebut, menurut klaim Bhayangkara, sedang dalam masa larangan bertanding dua pertandingan setelah mendapatkan kartu merah langsung di laga melawan Borneo FC.

Tapi pihak Mitra Kukar merasa tidak melakukan kesalahan dalam memainkan Sissoko. Menurut mereka, tidak ada nama Sissoko dalam daftar pemain yang dilarang bertanding pada laga Mitra Kukar vs Bhayangkara, hanya ada nama Herwin Tri Saputra dan Indra Kahfi. Bahkan ketika mereka menyerahkan DSP (Daftar Susunan Pemain) yang menyertakan Sissoko, tak ada teguran dari pengawas pertandingan.

***

Pada 2014 lalu, Legia Warsawa harus menerima kenyataan gagal lolos kualifikasi Liga Champions. Hal itu dikarenakan mereka dinyatakan kalah 3-0 oleh UEFA setelah kedapatan memainkan pemain yang sedang menjalani hukuman larangan bertanding. Kemenangan 4-1 di leg pertama, yang dilanjut dengan kemenangan 2-0 pada leg kedua, tak berarti apa-apa karena agregat pertandingan akhirnya 4-4 (2-0 diganti 0-3), dan Celtic menang agresivitas gol tandang.

Ketika itu, UEFA menyatakan Legia bersalah karena memainkan Bartosz Bereszynski, yang sebelumnya mendapatkan hukuman larangan tiga kali bertanding.

Pihak Legia jelas berang. Apalagi menurut mereka, Bereszynski sudah tiga kali tidak dimainkan oleh Legia, yakni pada leg pertama melawan Celtic dan dua leg menghadapi St. Patrick. Hanya saja UEFA berdalih dua pertandingan melawan St. Patrick tidak dihitung karena Bereszynski baru masuk daftar 25 pemain Liga Champions Legia jelang melawan Celtic (setelah mengalahkan St. Patrick).

Jika mengacu apa yang dilakukan UEFA, maka hukuman yang didapat Mitra Kukar saat ini bisa dibilang masuk akal. Karena Legia pun ketika itu didakwa pasal 18 regulasi UEFA Champions League dan pasal 21 regulasi disiplin UEFA. Beruntung bagi Mitra Kukar tidak didiskualifikasi dari Liga 1 atau absen pada Liga 1 musim depan, karena Legia pun mendapatkan hukuman tambahan yakni absen di kompetisi UEFA musim berikutnya.

Namun pertanyaannya, apakah Mitra Kukar benar bersalah seperti yang didakwakan Komdis PSSI?

Dalam surat putusan Komdis yang kami dapat, surat bernomor 116/L1/SK/KD-PSSI/X/2017 itu menyebutkan Mitra Kukar dihukum kalah 3-0 dan denda 100 juta rupiah karena mengacu pasal 31 Kode Disiplin PSSI, dinyatakan melanggar pasal 55 Kode Disiplin PSSI. Hukuman tersebut terkait dimainkannya Sissoko pada laga melawan Bhayangkara pada 3 November lalu.

Kita perlu dulu melihat hukuman apa yang menimpa Sissoko. Saat melawan Borneo, mantan gelandang Liverpool tersebut mendapatkan kartu merah langsung. Menurut pasal 57 ayat 3 pada regulasi Liga 1, hukuman kartu merah langsung adalah satu pertandingan. Maka sudah pasti, Sissoko diwajibkan absen pada laga berikutnya, yakni melawan Persib Bandung (27/10), dan Mitra Kukar pun tidak memainkannya.

Namun Komdis PSSI menyatakan pelanggaran Sissoko cukup fatal, sehingga masuk dalam bahasan sidang Komdis (kartu merah langsung dianggap pelanggaran fatal dan hukumannya memang bisa dibahas lebih lanjut di Komdis). Hasilnya hukuman larangan bertanding Sissoko diubah menjadi dua pertandingan. Keputusan itu tertuang dalam surat putusan bernomor 112/L1/SK/KD-PSSI/X/201 tertanggal 28 Oktober, sehari setelah match melawan Persib.

Jika mengacu putusan tersebut, benar Sissoko adalah pemain ilegal di laga melawan Bhayangkara. Tapi yang menjadi pertanyaan, pihak Mitra Kukar tidak mendapatkan salinan surat tersebut, sehingga mereka berani memainkan Sissoko. Maka bisa jadi Mitra Kukar tidak tahu akan adanya hukuman tambahan untuk Sissoko.

Dalam putusan Komdis, surat putusan sendiri memang akan mampir dulu ke pihak operator liga. Dari situ, salinan surat tersebut akan disampaikan ke klub-klub Liga 1. Oleh karena itu Bhayangkara mengetahui hukuman untuk Sissoko, yang seharusnya diketahui juga oleh Mitra Kukar.

Mitra Kukar jelas bersalah karena melanggar putusan Komdis. Tapi yang perlu digarisbawahi di sini adalah klaim pihak Mitra Kukar yang tidak menerima putusan tersebut, dan pada hari pertandingan mereka tidak ditegur meski mendaftarkan Sissoko dalam DSP. Maka wajar pada akhirnya Sissoko dimainkan karena hukumannya satu kali absen (sebagaimana biasanya hukuman kartu merah langsung).

Maka di sini PT Liga-lah yang seharusnya menjelaskan situasi sebenarnya (kami sudah mencoba mengonfirmasi hal ini pada PT Liga tapi belum mendapatkan respons). Jika memang PT Liga sudah mengirim surat tersebut pada Mitra Kukar dan Mitra Kukar tidak menerima surat tersebut karena kelalaian mereka sendiri, maka Mitra Kukar layak dihukum kalah 3-0 sesuai regulasi yang ada.

Tapi jika sebaliknya, ternyata kelalaian ada di pihak PT Liga yang tidak mengirim surat tersebut pada Mitra Kukar, apalagi tidak adanya nama Sissoko dalam daftar pemain yang dilarang bertanding pada laga Mitra Kukar vs Bhayangkara, maka Mitra Kukar tidak layak dihukum karena Sissoko sudah absen di laga melawan Persib dan ia pemain sah di laga melawan Bhayangkara.

***

Atas hasil putusan Komdis ini, selain memuncaki klasemen sementara, Bhayangkara FC semakin punya kans besar untuk juara. Hal ini dikarenakan mereka masih memiliki satu laga tunda melawan Madura United. Ditambah lagi jika poin yang mereka raih tetap sama dengan Bali United di akhir musim, Bhayangkara akan tetap menempati posisi pertama karena dua kali pertemuan menghadapi Bali selalu mereka menangkan.

Foto: liga-indonesia.id

Komentar