Menantikan Bab 21 dari Andrea Pirlo

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Menantikan Bab 21 dari Andrea Pirlo

Menjadi seorang maestro di olahraga sepakbola adalah hal yang luar biasa. Dari (sebenarnya) hanya sekian maestro sepakbola, Andrea Pirlo merupakan salah satu yang paling genius di dunia. Pada pertandingan antara New York City FC melawan Columbus Crew yang baru saja usai pagi ini (06/11/2017), pemain asal Italia itu memainkan pertandingan terakhirnya.

New York City memang berhasil menang 2-0, tapi mereka tersingkir di babak play-off semi-final Eastern Conference karena pada leg pertama mereka dihajar 4-1 di kandang Columbus Crew.

Tidak seperti perpisahan biasa, Pirlo baru bermain di menit ke-90 menggantikan Ronald Matarrita.

Biasanya untuk menandakan perpisahan kepada salah satu pemain, pemain tersebut justru ditarik keluar di menit tertentu digantikan dengan pemain lainnya, seperti yang terjadi pada saat John Terry ditarik keluar di menit ke-26 sebagai perpisahannya dengan Chelsea.

Itu tidak terjadi pada pertandingan terakhir Pirlo bersama New York City. Meski ia diberi kesempatan bermain di waktu yang sempit, banyak orang yang berharap ia bisa menunjukkan magisnya untuk terakhir kalinya.

Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu sebuah tendangan yang menimbulkan decak tawa. Ia terpeleset saat memberikan umpan pertamanya ke depan. Kemudian Patrick Vieira, manajer New York City, ikut-ikutan terpeleset setelahnya.

Mau apa setelah ini, Pirlo?

Mengakhiri karier di New York bisa jadi hal yang biasa-biasa saja. Tapi apapun itu, Pirlo tetap merupakan salah satu pemain genius. Kegeniusannya di atas lapangan ternyata bisa ia tuliskan juga di dalam bukunya yang berjudul I Think Therefore I Play (atau Penso quindi gioco dalam versi asli Bahasa Italia).

Buku tersebut ia tulis bersama dengan Alessandro Alciato yang merupakan seorang jurnalis. Buku ini sudah terbit pada 2013 namun terjemahan versi Bahasa Indonesianya baru beredar pada Juli 2016.

Pirlo biasa menunjukkan sepakbola elegannya di atas lapangan terutama melalui visi permainannya. Semuanya ia lakukan dengan sunyi, tanpa berkata-kata, seolah semua yang ia lakukan (tanpa harus ia katakan) adalah hasil dari pemikiran geniusnya.

Sebuah konsep berpikir ini tentunya membuat kita sangat penasaran untuk membaca bukunya. Tidak heran kenapa bukunya memiliki judul yang sangat sesuai dengan gaya permainannya: Aku berpikir maka aku bermain. Karena tanpa konsep pemikiran geniusnya, Pirlo bukanlah Pirlo.

Tidak ada statistik yang bisa menggambarkan kegeniusan dan keindahan permainan seorang pemain sepakbola. Bahkan rekaman video juga mungkin tidak menunjukkan itu. Tidak seperti, misalnya, bagaimana kita mendefiniskan keindahan gocekan-gocekan Ronaldinho. Meski Pirlo mungkin pernah menunjukkannya pada sepakan penalti Panenka-nya saat melawan Inggris.

Pemain yang pernah menjadi juara dunia pada 2006 ini menyebut bahwa tendangan cungkilannya (Panenka) pada penalti saat melawan Inggris di perempat-final Piala Eropa 2012 adalah murni kalkulasi yang pada saat itu merupakan pilihan paling aman dan paling produktif. Sulit dipercaya.

Kamu mungkin pernah mendeskripsikan sesuatu sebagai “hal yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata” (padahal mungkin bisa dilukiskan dengan kuas cat dan kanvas, ya?). Tapi buku I Think Therefore I Play ini adalah semua yang saya harapkan dari permainan Pirlo yang dilukiskan melalui kata-kata.

Dari bab pertama sampai ke bab 20, ia bersama dengan Alciato berhasil melukiskan keindahan tersebut melalui kata-kata. Ia bahkan menjelaskan kenapa ia berhenti pada bab 20, bukan bab 21, padahal angka 21 adalah angka favoritnya.

“Ayahku lahir tanggal 21. Itu juga tanggal pernikahanku sekaligus tanggal debutku di Serie A. Angka tersebut menjadi nomor punggungku sejak awal dan aku tidak akan pernah melepaskannya. Nomor itu membawa keberuntungan untukku, dan itulah alasan mengapa buku ini berhenti di bab 20,” tulis Pirlo.

Kemudian fakta bahwa ia mengawali bab pertama bukunya itu dengan kalimat “sebuah pulpen” juga membawa keindahan tersendiri. Sebuah pulpen yang ia maksud adalah pulpen mahal bermerek Cartier berlogo AC Milan.

Di bab pertama tersebut, “pulpen” tersebut ia gunakan untuk menggambarkan kontraknya yang habis di Milan. Meski ia masih ingin bermain di Milan, namun Massimiliano Allegri (pelatih Milan saat itu) menganggapnya sudah tidak bisa memberikan kontribusi yang besar, sehingga hal tersebut adalah yang membawanya menuju Juventus.

“Aku senang beranggapan jika bab berikutnya (bab 21) terdiri dari halaman-halaman kosong, menunggu untuk diisi dengan kisah dan pengalaman lainnya yang akan datang. Dan satu hal yang pasti – aku sudah punya pulpen sendiri,” tutupnya di buku tersebut.

Addio, Pirlo. Kami semua menantikan bab 21 dari kisahmu yang selanjutnya. Bagi yang menerka-nerka, bisa jadi ia akan diboyong menjadi salah satu staf pelatih Antonio Conte di Chelsea. Kita tunggu saja.

Selengkapnya: Keindahan Sepakbola yang Berhasil Pirlo Lukiskan Melalui Kata-kata

Komentar