Kisah di Balik Bromance Azpilicueta dan Morata

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Kisah di Balik Bromance Azpilicueta dan Morata

Chelsea berhasil mengalahkan Manchester United pada lanjutan Liga Primer 2017/2018 pekan ke-11. Berlangsung di Stamford Bridge, Minggu (5/11), gol tunggal Alvaro Morata memastikan Chelsea meraih tiga poin. Menariknya, gol Morata kembali dihasilkan berkat asis dari kompatriot senegaranya (Spanyol), yakni Cesar Azpilicueta.

Kombinasi Azpilicueta-Morata seolah menjadi ancaman bagi setiap lini pertahanan lawan. Karena saat ini, 5 dari 8 gol yang sudah dicetak Morata bersama Chelsea berasal dari umpan Azpilicueta. Lebih spesifik, total 5 asis yang diciptakan Azpilicueta di Liga Primer sejauh ini, semuanya tercipta saat melayani Morata. Kombinasi terbanyak di Liga Primer, mereka unggul dari kombinasi Kieran Trippier-Harry Kane yang telah mengoleksi 4 gol.

Banyak yang menyebut kombinasi Azpilicueta-Morata ini sebagai Spanish Connection karena keduanya berasal dari Spanyol. Tak sedikit juga yang menyebut bahwa keduanya seperti bisa berkomunikasi lewat "telepati".

Khusus untuk laga melawan MU, Morata sendiri mengakui bahwa sebelumnya ia memang meminta secara khusus pada Azpilicueta untuk memberikan umpan matangnya lagi. Mantan penyerang Real Madrid dan Juventus itu memang membutuhkan gol karena sudah enam laga ia tak mencetak gol.

"Saya berbicara padanya [pada Azpilicueta] sebelum pertandingan, saya butuh (umpan) seperti itu, saya sangat senang dia melakukannya," kata Morata pada SkySports. "Tapi yang paling penting saya merasa bahagia sekarang (setelah kembali mencetak gol). Tentu ini gol terpenting dalam karier saya."

Pada laga melawan MU, terlepas dari keberhasilan Tiemoue Bakayoko dan Marcos Alonso yang membebaskan Morata dari pengawalan, Morata berhasil mencetak gol lagi-lagi lewat sundulan. Golnya itu pun lagi-lagi lewat umpan silang Azpilicueta. Padahal perlu diingat, Azpilicueta merupakan pemain yang ditempatkan sebagai bek tengah kanan dalam skema tiga bek yang diterapkan Antonio Conte.

Dalam praktiknya di lapangan, meski menjadi barisan terakhir pertahanan, Chelsea memang menekan lawan hampir dengan 10 pemain lapangan mereka. Karena itulah Azpilicueta bisa berada di daerah permainan lawan yang kemudian memberikan umpan matang pada Morata, dan itu dilakukan tidak hanya saat melawan MU.

Agak tak lazim sebenarnya ketika seorang bek tengah bisa berkombinasi dengan baik dengan penyerang untuk menciptakan gol, berbeda jika penyerang dengan gelandang atau bek sayap dengan penyerang sayap. Nyatanya, ini terkait strategi dan peran khusus yang diemban oleh Azpilicueta.

Jika diperhatikan, umpan silang dari Azpilicueta terhadap Morata memiliki satu kecenderungan; umpan silang dilepaskan dari sisi kanan dan dikirimkan secara diagonal, bukan horizontal. Perbedaan umpan silang diagonal dan horizontal ini punya keterkaitan terhadap situasi saat pemain menyambut umpan silang.

Jika dikirim lewat diagonal, maka pemain yang menerima bola harus punya kecepatan karena bola di kirim ke area di antara penjaga gawang dan pemain penerima. Pemain yang menerima bola harus melakukan sprint, walau sedikit, sebelum berduel atau menyambut bola, entah itu dengan kepala atau dengan kakinya. Sprint juga akan dilakukan oleh pemain belakang lawan yang hendak menghalau umpan.

Sementara itu jika dikirimkan secara horizontal, seperti yang dilakukan winger-winger tradisional, pemain penerima lebih jarang melakukan sprint terlebih dahulu untuk menyambut bola. Karena kemungkinan, bola akan diarahkan ke dekat pemain yang jadi target langsung. Tinggal sang pemain tersebut harus siap menyambut bola dan memenangi duel dengan bek yang sudah berada di tempatnya untuk menghalau bola.

Dari sini terlihat jelas keunggulan Morata. Ia punya kecepatan, dan tandukannya cukup akurat. Perlu diketahui, mayoritas bek tengah punya postur tinggi menjulang yang seringkali tidak dibarengi dengan kecepatan. Karenanya para bek tengah lebih kuat saat berduel udara ketika mereka sudah berada di kotak penalti tanpa perlu melakukan sprint terlebih dahulu.

Umpan-umpan silang seperti ini lebih sering dilakukan Azpilicueta (di sisi kanan) karena bek tengah kiri Chelsea, Gary Cahill atau Antonio Ruediger, tidak punya umpan silang sebaik Azpilicueta. Sementara kemampuan umpan silang pemain berusia 28 tahun itu lebih baik karena sebelum menjadi bek tengah ia biasa ditempatkan sebagai bek sayap kanan.

Selain soal strategi, sebenarnya Morata juga bisa tampil cemerlang sejauh ini tak lepas dari peran Azpilicueta. Sejak awal bergabung, Azpilicueta mengakui bahwa ia selalu berusaha membantu Morata agar cepat beradaptasi di skuat Chelsea, khususnya dengan lingkungan baru di Inggris.

"Saya pikir dia cepat beradaptasi dengan tim, dengan cara bermain kami sejak ia datang ke sini," kata Azpilicueta pada Football London usai ia menjadi pelayan pada gol Morata ke gawang Stoke City pada September lalu. "Ambisinya untuk tampil, menjadi bagian penting untuk tim, sangat besar. Saya tahu kerja keras yang ia lakukan."

"Sejauh ini ia sudah mendapatkan hasil yang diinginkan setiap penyerang: mencetak gol. Saya sendiri sudah membantunya (beradaptasi) sejak ia datang ke London, baik itu di dalam maupun di luar lapangan. Dan saya senang dengan usaha yang berikan. Ia mencetak gol, itu yang paling untuknya," sambung mantan bek Marseille dan Osasuna tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, sejak awal musim, sudah cukup sering beredar cuplikan kebersamaan Morata dan Azpilicueta. Maka tak heran keduanya seolah punya hubungan khusus (bromance), karena di mana ada Azpilicueta, di situ pasti ada Morata. Walaupun secara adaptasi sendiri, sebenarnya Morata dimudahkan dengan adanya pemain Spanyol lain seperti Marcos Alonso, Pedro Rodriguez dan Cesc Fabregas.

Komentar