Dukungan Suporter Darul Huda di Balik Beras Dua Kuintal

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Dukungan Suporter Darul Huda di Balik Beras Dua Kuintal

Kadang, dukungan sebuah suporter bagi tim yang mereka dukung dapat memiliki banyak wujud di dalamnya, seperti dalam bentuk koreografi maupun nyanyian yang dilantunkan kala pertandingan berlangsung. Namun bagi suporter Darul Huda, dukungan itu dibalut dalam beras dua kuintal.

Darul Huda adalah salah satu tim yang berkompetisi dalam ajang Liga Santri Nusantara 2017. Setelah melalui perjalanan panjang dari babak regional sampai akhirnya masuk ke putaran final yang diadakan di Bandung, sekarang tim yang berasal dari daerah Ponorogo, Jawa Timur ini masuk ke babak final LSN 2017 menghadapi Darul Hikmah dari Cirebon. Masuknya tim Darul Huda ke babak final ini pun disambut oleh gegap gempita para suporter Darul Huda yang sudah selama satu minggu ini mendampingi tim Darul Huda.

Suporter Darul Huda ini, selain fanatik dalam mendukung, ternyata memiliki kisah unik yang mereka balut dalam beras dua kuintal.

***

Siang itu, Darul Huda menghadapi Pondok Pesantren Al-Kahfi dalam lanjutan babak semifinal Liga Santri Nusantara 2017. Cuaca tampak mendung, dan awan-awan tampak tebal memadati langit Stadion Arcamanik pada Sabtu (28/10/2017) siang itu, seolah menunjukkan bahwa hujan akan turun dengan segera (walaupun akhirnya hujan tidak turun sampai pertandingan selesai).

Walau cuaca mendung, dan memang hujan kerap turun beberapa kali pada Oktober 2017 ini di Bandung (hal ini pun dikeluhkan oleh suporter Darul Huda), hal tersebut tidak memengaruhi semangat dari para pemain yang bermain di atas lapangan. Saling serang terjadi di antara kedua tim, dan tensi pertandingan, di tengah cuaca mendung itu, cukup ketat. Semua pemain di atas lapangan mengerahkan kemampuan terbaik, dengan tujuan untuk memenangkan pertandingan dan merebut tiket ke final.

Bukan hanya para pemain saja yang bersemangat. Para suporter Darul Huda yang datang memadati Stadion Arcamanik juga tidak kalah hebatnya dalam memberikan semangat kepada para pemain Darul Huda yang berjibaku di atas lapangan. Dengan tetabuhan yang mereka bawa, sembari mengibar-ngibarkan bendera warna hijau mereka tak henti menyanyikan yel-yel pembakar semangat bagi para pemain Darul Huda. Tak jarang mereka juga melantunkan sholawat beberapa kali, sebagai upaya do`a sekaligus dukungan bagi tim Darul Huda.

Di balik segala keseruan yang ditunjukkan oleh para suporter Darul Huda ini, ternyata mereka menyimpan sebuah kisah yang unik. Dukungan-dukungan yang mereka tunjukkan di atas tribun, diberikan berbarengan dengan pengorbanan yang mereka lakukan agar bisa menonton dan mendukung secara langsung Darul Huda di Bandung. Jarak jauh Ponorogo-Bandung tidak menjadi halangan bagi mereka untuk memberikan dukungan langsung kepada Darul Huda.

"Penuh perjuangan mas (soal memberikan dukungan). Soalnya kan Ponorogo sama Bandung itu jaraknya jauh. Dan kendaraannya cuma dua. Jadi yang ingin ikut itu banyak. Pengorbanan untuk pondok itu banyak dan untuk teman-teman yang enggak ikut ke sini itu sangat kecewa. Kami dari perwakilan kawan-kawan di sana ingin memberikan yang terbaik untuk tim disini," ujar mas Nuris, salah satu koordinator suporter Darul Huda.

Nuris, yang ditemani oleh Choerudin dalam mengkoordinasikan dukungan para suporter di atas tribun, mengucapkan bahwa ada cukup banyak kisah-kisah menarik yang dijalani oleh para suporter ini selama memberikan dukungan bagi Darul Huda di Bandung. Karena keterbatasan dana yang mereka alami, mereka bahkan membawa logistik untuk mereka makan selama seminggu di Bandung dari Ponorogo. Tak tanggung-tanggung, beras sebanyak dua kuintal mereka bawa.

"Banyak mas (pengalaman di Bandung). Cuacanya itu loh, dingin. Tiap sore hujan, hujan-hujanan di Bandung. Nginep juga kami tidak bareng tim di barak. Pengorbanan, kami tidur di masjid, di mobil, pokoknya tempat buat tidur," ujar Nuris.

"Kami dari Ponorogo juga bawa bekal sendiri. Beras, minyak, brambang (bawang merah), sayuran, tabung gas kosong, dan makanan juga. Beras kami bawa dua kuintal buat suporter, pemain, dan alumni yang datang. Makannya rame-rame itu, di halaman. Alhamdulillah udah biasa seperti itu. Sampai disini kita kenalkan sama yang belum tahu kehidupan ala santri dan pesantren," tambahnya.

Di tengah segala kesulitan yang mereka hadapi, termasuk harus memasak sendiri beras dua kuintal yang mereka bawa dari Ponorogo, hal ini tak mengurangi semangat mereka dalam mendukung Darul Huda menjalani putaran final Liga Santri Nusantara 2017 ini. Seperti yang tampak pada laga semifinal LSN 2017 yang dihelat di Arcamanik tersebut, mereka begitu semangat dan berapi-api dalam memberikan dukungan kepada Darul Huda.

Dukungan yang ternyata berbalas manis bagi Darul Huda yang berprestasi dalam ajang LSN 2017 ini.

***

Rasa cinta memang memiliki banyak bentuk. Salah satu bentuknya tampak dari apa yang dilakukan oleh suporter Darul Huda ini. Di balik dukungan mereka yang penuh semangat, ada balutan beras dua kuintal yang merupakan cermin dari perjuangan mereka dalam mendukung Darul Huda dalam ajang Liga Santri Nusantara 2017 ini.

Meski terlihat sederhana, hal ini menunjukkan bahwa ada semacam kegilaan yang terbentuk karena sebuah hal bernama sepakbola. Kegilaan berwujud pengorbanan dalam beras dua kuintal, yang memperlihatkan bahwa sepakbola punya magnet kuat yang dapat menggerakkan semua kalangan, tak terkecuali para santri.

Komentar