Menjadi Menteri atau Presiden Bukan Hal Mustahil bagi Pensiunan Lapangan Hijau

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Menjadi Menteri atau Presiden Bukan Hal Mustahil bagi Pensiunan Lapangan Hijau

George Weah tengah menanti keputusan resmi terkait pencalonannya sebagai Presiden Liberia. Dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Liberia 2017 ini, priia 51 tahun itu memang mencalonkan namanya untuk menjadi Presiden baru menggantikan Ellen Johnson Sirleaf.

Beberapa laporan mengatakan bahwa Weah telah menangkan pemilihan, karena unggul elektabilitas. Namun belum bisa dipastikan karena hasil resmi baru akan dirilis Kamis, waktu setempat. Kabarnya meningkatnya elektabilitas Weah juga dipengaruhi dengan nama besarnya sebagai pesepakbola.

Weah tercatat sebagai satu-satunya pesepakbola asal Afrika yang pernah memenangi trofi Balon d’Or sebagai lambang supremasi tertinggi pesepakbola terbaik dunia. Selama menjadi pesepakbola, mantan pemain Paris Saint-Germain (PSG) itu juga memiliki karier cemerlang, terlebih saat ia membela AC Milan, di mana ia berhasil mencetak 58 gol dari total 147 penampilannya.

"George merasa baik dan sangat tajam. Orang di mana-mana mengatakan kepadanya bahwa mereka ingin melihat perubahan. Dia berdiri untuk pemilihan pada tahun 2005, dan kemudian mereka mengatakan bahwa dia tidak memiliki pengalaman," Kata salah seorang juru Kampanye Weah seperti dikutip dari Nigeria Gistreel.

"Namun kenyataannya dia sekarang seorang senator memainkan peran besar. Karier sepakbolanya sangat membantu dia. Ini mengingatkan banyak orang Liberia akan hal yang baik," sambungnya.

Sejak memutuskan pensiun dari dunia sepakbola pada 2002 lalu, Weah memang sudah menaruh minat untuk meniti karier sebagai politisi di negara asalnya, Liberia. Pada tahun 2005 mantan bintang AC Milan itu semakin serius terjun di dunia politik. Keseriusan itu dibuktikannya dengan menantang Ellen Johnson Sirleaf, dalam bursa pemilihan Presiden. Namun karena kalah pengalaman, dan yang jelas kalah suara, Weah gagal terpilih sebagai Presiden kala itu.

Namun hal tersebut tak membuat Weah patah arang, ia terus menekuni bidang politik hingga pada 2014 lalu, pencalonannya sebagai Senator untuk wilayah Montserrado membuahkan hasil. Dalam pemilihan, Weah berhasil mengalahkan Robert Sirleaf, yang merupakan putra dari Presiden Sirleaf, yang merupakan lawannya di Pilpres 2005 lalu.

Dalam pemungutan suara, Weah unggul telak, dengan 99.226 suara, sementara Sirleaf, saingan terdekatnya menerima 13.692 suara. Setelah tiga tahun menjabat sebagai Senator, Weah kemudian kembali mengajukan pencalonannya di bursa pemilihan Presiden, seperti ang sudah disebutkan di atas bahwa Weah kini tengah menunggu keputusan resmi dari hasil pemungutan suara.

Bila Weah benar-benar terpilih, maka ia bisa Emmanuel Macron, mantan pesepakbola yang terpilih sebagai Presiden Prancis. Mungkin tidak ada yang tahu dengan masa lalu Macron di arena lapangan hijau, namun Presiden termuda Perancis itu nyatanya tercatat pernah menjadi pesepakbola di kesebelasan amatir, Ecole Nationale d`Administration (l`ENA), yang bermain Liga Regional Paris atau La Ligue de Paris Ile-de-France de football (La LPIFF) yang berafiliasi pada Federasi Sepak Bola Prancis (FFF).

Buffon dijagokan sebagai menteri olahraga Italia

Sementara kabar dari Italia juga menyebutkan bahwa Gianluigi Buffon tengah di gadang-gadang sebagai calon Menteri Olahraga Italia. Buffon sudah tidak muda lagi, usianya pada tahun depan akan menginjak 40 tahun. Hal yang mengindikasikan bahwa kariernya sebagai pesepakbola tak lama lagi akan usai.

Saat gagal membawa Juventus meraih gelar Liga Champions musim 2016/2017, Buffon menyatakan bahwa dirinya akan bermain setidaknya untuk satu tahun lagi, hal yang menyiratkan bahwa musim 2017/2018 ini akan menjadi musim terakhirnya sebagai pesepakbola. Melihat peluang tersebut, salah satu partai baru Italia bernama, Partai Rinascimento, menawarinya untuk berkiprah di dunia politik.

Pemimpin Partai Rinascimento, Vittorio Sgarbi, menyatakan bahwa jika partainya memenangkan Pemilihan Umum (Pemilu) pada 2018 mendatang, maka Buffon akan mereka jadikan sebagai Menteri Olahraga Italia. Sgarbi mengatakan bahwa Buffon masuk dalam kualifikasi untuk menjadi seorang Menteri Olahraga karena pengalaman dan pengetahuannya terhadap dunia olahraga.

Maklum, sejak memulai karier sebagai pesepakbola Buffon tidak pernah meninggalkan Italia. Hanya Parma dan Juventus, kesebelasan yang ia bela selama karier sepakbolanya. Selain itu sejak tahun 1993, Buffon sudah menjadi langganan tim nasional Italia, yang dirintis secara linear dari berbagai jenjang usia yang dimulai dari U-16 hingga U-23.

Baru pada tahun 1997 Buffon masuk ke timnas senior hingga saat ini. Meski memang kariernya banyak dihabiskan dalam dunia sepakbola, namun setidaknya Buffon paham betul bagaimana kondisi olahraga, khususnya sepakbola di Negeri Pizza itu. Mungkin ini yang membuat Sgarbi menaruh keyakinan kepada Buffon untuk menjadikannya sebagai Menteri Olahraga Italia.

"Buffon adalah sosok yang seimbang, merepresentasikan timnas Italia dan sebentar lagi dia akan pensiun. Selain sepakbola, dia juga sangat tertarik dengan seni dan politik. Dia juga memberikan respons positif saat kami menyodorkan proposal dari Rinascimento dan menuliskannya tentang itu," katanya seperti dikutip dari Football Italia.

Selain menjadi politisi, Buffon juga berpeluang untuk melanjutkan karier sebagai pelatih. Melatih sudah ada dalam rencana masa pensiun Buffon. Ia menargetkan bahwa setelah pensiun dirinya ingin menjadi staff pelatih di timnas Italia. Menrutnya menjadi pelatih di Tim Nasional tekanannya tidak akan terlalu besar seperti halnya di klub.

Pilihan yang cukup logis bagi Buffon ketika dirinya memilih karier lanjutan sebagai pelatih setelah gantung sepatu. Sebab bagi pesepakbola, itu adalah jalur sering diambil. Jadi kenapa tidak bila Buffon yang sudah kenyang pengalaman itu menginginkan untuk membagi semua kemampuannya kepada kiper-kiper masa depan Italia.

"Saya tidak ingin menjadi pelatih klub, dengan setiap hari menjalani rutinitas itu. Tapi saya tidak mencoret kemungkinan menjadi pelatih tim nasional; Anda masih bisa merasakan emosi dalam lapangan tapi Anda masih bisa punya waktu untuk melakukan hal-hal lainnya,” kata Buffon seperti dilansir dari Soccerway, beberapa waktu lalu.

Foto: South The African, Football Whisper

Komentar