Para Pemain Bintang yang Menaruh Hati Kepada Liverpool

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Para Pemain Bintang yang Menaruh Hati Kepada Liverpool

Sudah lima tahun Liverpool tidak meraih trofi apapun di berbagai ajang, ditambah Liverpool sudah 26 tahun puasa gelar di kompetisi domestik Inggris. Namun The Reds tetaplah kesebelasan besar dan cukup berprestasi di Inggris. Tercatat ada 18 gelar yang bisa mereka raih di kompetisi domestik. Hal yang membuat Liverpool duduk di posisi dua tim dengan koleksi piala terbanyak Liga Inggris.

Liverpool juga tercatat sebagai kesebelasan Inggris yang paling berprestasi di kompetisi Eropa, khususnya Liga Champions. Tercatat ada lima gelar juara yang berhasil mereka raih, dan itu merupakan koleksi trofi terbanyak yang pernah ditorehkan klub asal Negeri Ratu Elizabeth di Liga Champions.

Prestasi-prestasi tersebut yang membuat Liverpool sebagai salah satu kesebelasan dengan jumlah penggemar yang banyak di luar Merseyside. Dari sekian banyaknya penggemar Liverpool, sebagian adalah pemain-pemain dengan nama besar, yang saat ini justru bukan berstatus sebagai pemain Liverpool.

Dilansir dari situs Squawka, setidaknya ada lima pemain yang mengaku bahwa dirinya adalah fans Liverpool. Lima pemain tersebut adalah Adrien Rabiot yang saat ini bermain bersama Paris Saint-Germain (PSG), Kevin de Bruyne, Sergio Kun Aguero (Manchester City), Bamidele Alli (Tottenham Hotspur), dan Patrick Roberts (Celtic).

Kepada media, lima pemain tersebut secara terang-terangan mengaku sebagai Kopites (sebutan untuk penggemar Liverpool). Namun tentunya agak sedikit miris karena pada kenyataannya mereka saat ini tak bermain untuk Liverpool.

Lalu seperti apa kisah mereka dengan Liverpool?

Aguero yang pernah bermimpi menjadi bagian Liverpool

Di bawah komando Juergen Klopp, Liverpool menjadi salah satu kesebelasan yang memiliki lini serang yang menyeramkan. Trio lini depan yang digalang Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane dianggap sebagai komposisi penyerang paling potensial.

Kehadiran Sergio Aguero, tentu saja akan membuat lini depan Liverpool semakin ganas. Maklum, penyerang Argentina itu dalam setiap musimnya selalu masuk dalam jajaran pencetak gol terbanyak Liga Primer.

Produktivitas Aguero sebenarnya sudah terlihat sejak ia bermain untuk Atletico Madrid, total ada 101 gol yang berhasil ia ciptakan. Ketika pindah ke Manchester City, ia juga menunjukkan keganasannya di dalam kotak penalti. Sejak tahun 2011 sampai dengan saat ini, 176 gol sudah dicetaknya bagi The Citizens. Hanya tinggal satu gol lagi bagi Aguero untuk melampaui catatan Eric Brook yang sampai saat ini tercatat sebagai pemain tersubur City sepanjang masa.

Meski sudah berusia 29 tahun, ketajaman Aguero masih terbukti. Sebelum mengalami cedera patah tulang rusuk karena kecelakaan lalu lintas di Belanda, sudah ada enam gol yang berhasil diciptakannya musim ini,persentase mencetak golnya per pertandingan pun terbilang baik yakni mencapai 50 persen per laga.

Andai Liverpool mampu menggaet Aguero, mungkin akan menjadikan lini serang mereka semakin berbahaya. Kemungkinannya, Firmino akan dipinggirkan atau dialihkan ke posisi lain untuk memberikan pos penyerang utama kepada Aguero. Kemungkinannya cukup terbuka sebenarnya bagi Liverpool untuk bisa menggaet Aguero, bila mengacu perkataannya di tahun 2006 lalu.

"Jika saya harus memilih pindah, maka tujuan saya adalah Liga Primer. Saya telah menjadi penggemar Liverpool selama saya bisa mengingatnya dan akan menjadi mimpi untuk bermain di sana. Saya menyaksikan final Liga Champions dan merayakan setiap gol seolah-olah itu untuk Independiente,” terang Aguero.

Pengaruh keluarga bagi De Bruyne dan Patrick Roberts

Kevin de Bruyne mengakui bahwa dirinya adalah penggemar berat Liga Primer Inggris. Dalam pengakuannya di tahun 2012, ia jauh lebih sering menyaksikan pertandingan Liga Inggris ketimbang kompetisi Belgia. De Bruyne mengaku bahwa ia dan keluarganya menjadikan Liverpool sebagai kesebelasan idola.

"Saya selalu mengikuti Premier League karena ibu saya setengah [keturunan] Inggris. Kami mungkin mengikutinya (sepakbola Inggris) lebih dari sepakbola Belgia dan, ketika saya masih muda, kami menyukai Liverpool,” katanya.

De Bruyne tidak seperti Aguero yang secara gamblang menyebut bahwa mimpi terbesarnya dulu adalah bermain untuk Liverpool. Namun mengingat bahwa De Bruyne sama seperti Aguero yang menyukai Liverpool, setidaknya ada setitik keinginan dalam diri pemain yang menjadikan Michael Owen itu sebagai idolanya untuk bisa menjadi bagian penting di Anfield.

Mungkin, kalau Liverpool bisa membujuknya bergabung, ia akan menjadi sosok kreator di lapangan tengah The Reds. Musim ini sudah sembilan pertandingan ia lakoni dengan catatan dua gol dan empat asis. Selain itu, ada total 24 peluang yang diciptakan melalui kakinya. Dari catatan tersebut tidak terlalu berlebihan bila De Bruyne bisa menjadi sosok kunci di lini tengah Liverpool.

Satu nama lain yang memiliki kisah hampir serupa dengan De Bruyne adalah Patrick Roberts. Gelandang Celtic itu lahir dari kedua orang tua yang menyukai sepakbola dan menjadikan klub asal Merseyside sebagai idola. Namun ada konflik yang terjadi, lantaran orang tuanya tidak mendukung satu kesebelasan yang sama.

Dalam pengakuannya, ibunya adalah seorang pendukung Everton sementara Ayahnya adalah Kopites. Namun Roberts lebih memilih untuk berkhianat dari ibunya dan mengikuti jejak sang ayah sebagai pendukung Liverpool. Alasannya, karena Steven Gerrard bermain untuk Liverpool, bukan untuk Everton.

"Ayahku penggemar Liverpool dan ibuku adalah penggemar Everton, jadi ada perpecahan dalam keluarga saya. Tapi idola saya adalah Steven Gerrard dan sebagai penggemar The Reds, pada final tahun 2006 adalah sebuah kenangan yang hebat, untuk melihatnya mencetak gol dan itu terasa menyenangkan melihatnya," terangnya belum lama ini.

Patrick Roberts merupakan pilar utama di barisan tengah Celtic. Perannya sangat vital bagi Celtic dalam keberhasilannya meraih gelar kompetisi domestik musim lalu. Tercatat ia terlibat dalam terlibat langsung dalam 17 gol dengan rincian tujuh gol dan 10 asis pada musim lalu.

Karena Gerrard, Alli mengagumi Liverpool

Gelandang Tottenham Hotspur, Bamidele Ali juga merupakan pendukung Liverpool. Dalam pengakuannya di tahun 2015 lalu, Alli mengidolakan Liverpool karena sosok Gerrard. Baginya sosok Gerrard sangat menginspirasi, selain menjadi pemimpin tim karena status sebagai kapten Liverpool di masa lampau, pengaruhnya di lapangan tengah The Reds pun sangat luar biasa.

Alli mengenang saat dirinya melihat aksi Gerrard di final Liga Champions 2005 menghadapi AC Milan. Gol yang dicetak Gerrard di babak kedua yang membuat Liverpool mampu memperkecil ketertinggalan menjadi 1-3 adalah kunci dari keberhasilan Liverpool menjuarai Liga Champions musim tersebut. Tanpa gol yang dicetak Gerrard, maka kebangkitan mustahil bisa dilakukan tim asuhan Rafael Banitez kala itu.

"Gerrard adalah alasan besar mengapa saya mulai mendukung Liverpool. Saya ingat Istanbul, final Piala FA, dan pertandingan melawan Olympiakos: Gerrard bisa mencetak gol yang menakjubkan. Gerrard adalah pengaruh besar mengapa saya mendukung Liverpool,” terangnya pada 2015 lalu.

Alli adalah salah satu talenta muda terbaik di Inggris, sejak ia berusia 19 tahun kemampuannya sudah menjadi perbincangan. Liverpool juga meminatinya, ia hampir saja merapat ke Liverpool namun akhirnya gagal terwujud karena berbagai hal.

Gosip beredar bahwa pada saat itu Liverpool telah mengontak Alli, dan pemain yang bersangkutan setuju untuk bergabung. Namun Alli ingin agar proses negosiasi dilakukan antara dirinya dengan Gerrard. Liverpool menyetujuinya, karena Gerrard memang biasa mereka libatkan sebagai negosiator.

Namun di hari yang telah ditentukan, Gerrard justru tak datang dalam negosiasi penting itu, karena berbagai hal yang membuatnya lupa untuk bertemu Alli. Pemain berusia 21 tahun itu akhirnya kecewa dan memilih bergabung bersama Tottenham.

Bila isu tersebut benar, tentu adalah sebuah kerugian bagi Liverpool lantaran Alli kini menjadi sosok penting di barisan tengah Spurs. Musim lalu ia berhasil menciptakan 22 gol dan 13 asis dari 50 pertandingan yang dilakoni di semua ajang bersama Spurs. Sementara musim ini, Alli sudah tampil dalam delapan pertandingan dengan torehan tiga gol dan satu asis.

Kode Rabiot untuk Liverpool

Meski kehadiran Neymar dan Kylian Mbappe telah menjadi magnet yang membuat PSG semakin diperhatikan kiprahnya, tetap saja, dua pemain tersebut takkan berarti apa-apa bila tak mendapatkan suplai bola khususnya dari sektor tengah. Khususnya bagi Neymar, sosok Adrien Rabiot cukup berpengaruh untuk menunjang pergerakannya.

Rabiot yang merupakan seorang gelandang kerap bergerak ke sisi kiri, pos di mana Neymar berada. Kolaborasi keduanya juga terbilang apik, permainan satu dua kerap ditunjukkan antara Neymar dan Rabiot. Selain itu pada musim ini juga catatan statistik Rabiot pun cukup mengagumkan dengan total 633 operan sukses. Akurasi operan Rabiot pun mencapai 94%, kalah satu persen saja dari Marco Verratti.

Bersama PSG, Rabiot telah menjadi sosok penting di lini tengah kesebelasan ibu kota Prancis itu. Namun baru-baru ini ia mengaku tertarik untuk bermain di Liga Primer Inggris. Dalam pernyataannya, seperti ada kode yang coba ia berikan kepada Liverpool untuk menjadikannya sebagai sosok penting di barisan tengah mereka.

"Saya pikir saya ingin mendapatkan pengalaman bermain di luar Ligue 1. Ada banyak kejuaraan yang sangat bagus. Saya ingin bermain di Liga Primer, belum tentu satu klub pada khususnya, meski saya sangat menyukai Liverpool saat masih muda,” terangnya.

***

Bagi pendukung Liverpool, mungkin akan sangat menyenangkan bila lima pilar tersebut bisa diboyong ke Anfield. Namun sayangnya, lima pemain tersebut berposisi gelandang dan penyerang, bukanlah pemain belakang. Seperti diketahui bahwa permasalahan Liverpool saat ini adalah lini belakang mereka yang keropos, karena seringnya mereka kebobolan dengan cara yang konyol.

Tapi, pasti ada dari mereka-mereka yang merupakan bek dan penjaga gawang bintang yang merupakan fans Liverpool, kan?

Foto: The Sun

Komentar