Ingin Pensiun pun Tak Apa, Carletto

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Ingin Pensiun pun Tak Apa, Carletto

Carlo Ancelotti sudah mengutarakan keinginannya usai ia dipecat dari kursi pelatih Bayern Muenchen. Ia menyebut bahwa ia akan absen 10 bulan dari dunia kepelatihan sebelum memikirkan langkah selanjutnya yang akan ia ambil. Tapi, pensiun pun adalah langkah yang juga bisa ia ambil untuk ke depannya.

Don Carletto, sapaan akrab Ancelotti, harus mengakhiri perjalanannya sebagai pelatih di Bayern dengan lebih cepat. Kekalahan 3-0 atas PSG dalam matchday 2 Liga Champions menjadi pemantik berakhirnya karier Ancelotti di klub yang bermarkas di Allianz Arena tersebut. Satu tahun lebih beberapa bulan, menjadi sebuah rekor paling sebentar bagi Ancelotti dalam menangani sebuah klub.

Dengan berakhirnya masa Ancelotti di Bayern, muncullah spekulasi-spekulasi yang berkaitan dengan masa depan pelatih berkebangsaan Italia tersebut. Ada yang menyebut bahwa ia bisa saja kembali ke Liga Primer, karena ia pernah bekerja di sana menangani Chelsea. Ada juga yang mengatakan bahwa ia kemungkinan besar kembali ke AC Milan, mengingat Rossoneri sedang dalam masa sulit bersama Vincenzo Montella.

Di tengah segala kemungkinan, Ancelotti sudah mengambil keputusan. Disitat dari ESPN FC, ia mengungkapkan bahwa ia akan rehat sejenak dari dunia sepakbola selama 10 bulan lamanya. Ini mungkin saja adalah upaya penyegaran diri yang sedang dilakukan Ancelotti setelah berkutat dengan tekanan selama dirinya menjadi pelatih.

"Selama 10 bulan ke depan, saya akan beristirahat dan melakukan relaksasi sejenak. Saya tidak akan melatih tim lain. Soal pemecatan saya oleh Bayern, ada baiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi," ujar Don Carlo.

Tapi sebenarnya, ada jalan lain yang bisa diambil oleh Ancelotti di tengah segala spekulasi yang masih bisa terjadi: pensiun dari dunia kepelatihan

Tekanan berat menjadi pelatih

Menjadi pelatih bukanlah perkara mudah. Ada banyak tekanan dan juga tantangan yang harus dipenuhi dan menimpa sang pelatih dalam waktu yang bersamaan. Sama halnya dengan tekanan yang dialami oleh pemain, dengan menjadi pelatih seseorang mendapatkan tekanan yang begitu kencang, terutama bagi pelatih klub.

Dr. Dorian Dugmore, presiden sekaligus founder dari Wellness International mengungkapkan bahwa dari tahun ke tahun, tekanan yang dialami oleh pelatih menjadi semakin berat. Dalam tulisannya di laman Irish Independent, Dr. Dorian menyebut bahwa kegagalan klub dalam mencapai sebuah prestasi menjadi tekanan tersendiri bukan hanya bagi pemain, namun juga bagi sang pelatih. Tingkat tekanannya malah bisa lebih tinggi daripada apa yang dialami oleh pemain.

"Secara sederhana, bisa dibilang bahwa ini semua adalah harga dari sebuah kesuksesan. Ada tingkatan stress dan tekanan tersendri yang dialami oleh pelatih, tergantung dari kegagalan yang mereka raih. Kegagalan untuk promosi ke level liga yang lebih tinggi dan kegagalan meraih prestasi dalam ajang Liga Champions bisa saja menyajikan tekanan dan tingkat stress yang berbeda," ujar Dr. Dorian.

Daily Mirror pernah menulis tentang perubahan wajah dari para manajer seiring dengan tugas-tugas berat yang mereka jalani di klub mereka masing-masing. Ada nama Luis Enrique, Jose Mourinho, Pep Guardiola, Paul Lambert, bahkan Gianfranco Zola yang wajahnya berubah sedemikian drastis kala menjalani pekerjaan sebagai manajer. Mereka tampak terlihat lebih stress, terutama manajer-manajer yang menukangi klub papan atas Eropa.

Dulu Pep punya rambut. Ke manakah rambutnya itu pergi?

Karena tingkat stress dan tekanan yang dijalani oleh pelatih klub ini begitu tinggi, Dr. Dorian pun menyebut bahwa para pelatih harus mulai memerhatikan kesehatan diri mereka sendiri, selain juga memerhatikan kesehatan dari para anak asuhnya. Menurut Dorian, kerap terjadi kasus pelatih yang dulunya adalah mantan pemain, justru malah tidak bisa menjaga kondisi kesehatannya ketika menjadi pelatih.

"Sudah banyak saya lihat kasus pelatih yang dulunya adalah mantan pemain hebat, karena tekanan dan stress yang ia alami sebagai pelatih, ditambah lagi tidak bisa menjaga kesehatannya dengan mengkonsumsi makanan tidak bergizi, ia justru menjadi tampak lebih tua dan tidak sehat," ujar Dorian.

Refreshing, atau malah pensiun jika usia tidak memungkinkan

Ada banyak alasan mengapa Ancelotti akhirnya tidak dapat menunjukkan kemampuannya ketika melatih Bayern. Meski sudah terbiasa menangani klub papan atas, tekanan yang ia alami dan juga tingkat stress menangani klub sebesar Bayern Muenchen adalah salah satu faktor yang mungkin membuatnya tidak mampu lagi menunjukkan kemampuan sehingga Bayern pun tidak sekuat dulu, terlepas dari beberapa pemainnya yang juga sudah uzur (macam Ribery atau Robben).

Di usia Ancelotti yang sudah tidak terlalu muda lagi (58 tahun), ia perlu melakukan sedikit penyegaran agar pikirannya menjadi lebih tenang dan lebih rileks, jika kelak memang ia masih berniat untuk kembali melatih. Pep Guardiola adalah orang yang melakukan ini. Ia menepi sejenak dari ingar dunia kepelatihan sepakbola. Setelah meraih sukses bersama Barcelona, ia menepi selama setahun lamanya dari 2012, lalu kemudian kembali lagi ke dunia kepelatihan pada 2013 silam dengan menangani Bayern.

Efek dari menepi ini ternyata cukup baik bagi Pep. Selain kembali lebih segar, ia juga tetap mampu menunjukkan kapabilitasnya sebagai pelatih. Kompetisi domestik hampir selalu berhasil dirajai oleh Pep, terkecuali di ajang Liga Champions ketika Pep hanya mampu mengantar Bayern tiga musim berturut-turut mencapai babak semifinal.

Ancelotti bisa meniru apa yang dilakukan Pep. Setelah menepi selama 10 bulan lamanya, dengan pikiran yang lebih segar, ia bisa kembali menangani sebuah klub di level tertinggi. Di usianya yang masih 58 tahun, ia masih bisa meraih pencapaian lain di karier kepelatihannya.

Namun jika sudah lelah, Ancelotti bisa saja memutuskan untuk pensiun. Waktu 10 bulan yang ia canangkan tersebut boleh-boleh saja ia ganti dengan pensiun selamanya dari dunia kepelatihan. Mengerjakan sesuatu yang disenangi di luar bidang sepakbola, atau berlibur dalam rentang waktu yang lama, adalah beragam hal yang bisa dilakukan oleh Ancelotti.

***

Sekarang pilihan ada di tangan Ancelotti sendiri. Setelah 10 bulan rehat dari dunia sepakbola, kembali menangani klub adalah pilihan yang boleh Don Carlo jalani. Itu dengan catatan bahwa ia masih kuat dan masih mampu berkutat dengan tekanan dan tingkat stress menjalani pekerjaan sebagai pelatih.

Namun jika kelak ia memilih untuk pensiun, itu adalah pilihan yang juga tidak salah dan bijak, apalagi di tengah usianya yang sudah menua. Dengan segala catatan mentereng yang pernah ia torehkan sebagai pelatih, ia akan dikenang sebagai pelatih hebat, meski di akhir kariernya ia tidak menorehkan catatan yang apik-apik amat bersama Bayern Muenchen karena tekanan dan tingkat stress yang tinggi.

Semua akan kembali kepada Ancelotti, tapi jika ia memilih pensiun, itu adalah pilihan yang cukup bijak

Komentar