Referendum Catalan dan Emosi Gerard Pique

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Referendum Catalan dan Emosi Gerard Pique

Emosi Gerard Pique tercampur aduk. Di satu sisi, ia adalah pemain timnas Spanyol dan pernah menjadi bagian skuat La Furia Roja yang menjuarai Piala Eropa dan Piala Dunia. Tapi di sisi lain, ia juga adalah masyarakat Catalan yang bangga dengan sejarah dan budaya Catalan. Pique pun pada akhirnya mengambil sikapnya.

Gerard Pique menjadi bagian dari masyarakat Catalan yang terlibat dalam pengambilan suara soal referendum Catalan yang dilaksanakan pada Minggu (1/10/2017). Meski referendum ini dianggap tidak konstitusional dan hasilnya tidak akan diakui oleh pemerintah Spanyol, referendum tetap dilaksanakan, menimbulkan kericuhan yang melibatkan para pendemo dan pihak keamanan Spanyol.

The Guardian melansir bahwa ada sekira 750 orang yang terluka dalam kerusuhan yang terjadi di Catalan pada hari pemungutan suara soal referendum tersebut. Selain membuat suasana Catalan menjadi ramai, situasi ini membuat laga antara Barcelona melawan Las Palmas sempat akan ditunda, walau pada akhirnya laga tetap dilaksanakan meski tanpa penonton, dengan tujuan untuk menghindari pemotongan enam poin yang akan diterima oleh Barcelona.

Segala situasi yang mendadak menjadi serba ricuh ini ternyata menimbulkan emosi tersendiri dalam diri Gerard Pique. Ia, sebagai warga Catalan, tidak menyangka bahwa keinginan warga Catalan untuk merdeka menjadi sesuatu yang penuh dengan kericuhan seperti ini.

Emosi Pique yang terlontar

Seusai laga antara Barcelona melawan Las Palmas yang berakhir untuk kemenangan Barca dengan skor 3-0 tersebut, Pique mengungkapkan emosi yang ia rasakan di dalam jiwanya. Tanpa ragu, ia mengungkapkan bahwa pertandingan tanpa penonton melawan Las Palmas tersebut menjadi pengalaman terburuk yang ia alami sebagai pemain profesional.

"Benar-benar pertandingan yang sulit bagi kami (untuk dimainkan). Ini adalah pengalaman terburuk sepanjang karier saya sebagai pesepakbola profesional," ujar Pique disitat dari ESPNFC.

"Kami saling bertukar opini di ruang ganti, dan ada situasi pro-kontra mengenai keputusan kami untuk tetap memainkan laga ini. Kami paham bahwa ada beberapa orang yang tidak memahami keputusan ini. Manajemen sudah berusaha untuk menunda pertandingan, tapi ada akhirnya pertandingan tetap dilaksanakan. Klub sudah memutuskan, dan kami sebagai pemain harus menerimanya," ujar Pique.

Emosi Pique kembali membuncah kala ia membicarakan perihal kemungkinannya untuk mundur dari timnas Spanyol. Pique mendapat kritik dari beberapa pihak mengenai kedudukan yang ia ambil sebagai warga Catalan, ikut juga dalam soal pengambilan suara dalam referendum Catalan yang sudah dilakukan, tapi ia masih menjadi bagian dari timnas Spanyol. Ia tak segan untuk mundur jika memang apa yang menjadi keyakinannya ini bertentangan dengan timnas dan federasi sepakbola Spanyol.

"Saya sebenarnya masih bisa bermain untuk timnas Spanyol. Saya kira banyak pihak yang tidak setuju dengan apa yang sudah terjadi di Catalan (referendum dan tindakan pemerintah mencegah referendum tersebut). Namun, jika keikutsertaan saya di timnas menjadi sebuah masalah bagi pelatih maupun federasi, maka saya rela untuk mundur dari timnas Spanyol. Bagi saya, bermain untuk timnas bukan soal patriotisme saja, tapi menunjukkan kemampuan terbaik yang dimiliki," ujar Pique.

Emosi Pique ini menjadi sesuatu yang cukup bisa dipahami. Dua sisi yang ada di dalam dirinya, yaitu sebagai pemain penting timnas Spanyol dan juga warga Catalan, saling berontak dalam kejadian referendum Catalan ini. Di satu sisi ia masih ingin mempersembahkan yang terbaik bagi timnas Spanyol. Tapi jiwanya sebagai warga Catalan juga tak bisa ia tutupi, apalagi ia menyebut bahwa referendum ini sebagai bukti bahwa masyarakat Catalan sudah bisa mengungkapkan pemikiran mereka, tidak seperti ketika masa Jenderal Franco dulu.

Tapi tetap saja, Pique harus menentukan sikapnya. Pada akhirnya, satu ucapan Pique (selain kemungkinannya untuk mundur dari timnas) mencerminkan pendirian yang ia pegang perihal referendum Catalan ini.

"Apapun suara yang kami keluarkan, ya, tidak, atau tidak memilih sama sekali, itu adalah bentuk dari ungkapan suara yang kami miliki. Ini adalah bentuk dari kebebasan kami mengungkapkan pemikiran, sebuah hal yang sulit kami lakukan dahulu kala (masa Jenderal Franco). Saya adalah orang Catalan, saya merasa bangga menjadi orang Catalan. Saya bangga dengan sikap yang ditunjukkan orang Catalan ini," ujar Pique dilansir dari The Guardian.

Apakah Pique bisa membela timnas Catalan?

Pique sudah menyumbangkan cukup banyak gelar bagi timnas Spanyol. Gelar Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, serta Piala Eropa 2012 adalah sederet gelar yang sudah disumbangkan pemain berusia 30 tahun tersebut untuk La Furia Roja. Sekarang, dengan kemungkinan Catalan lepas dari Spanyol, Pique terancam tidak bisa lagi membela timnas Spanyol.

Mari berandai-andai jika Catalan merdeka, dan Pique memutuskan untuk mundur dari timnas Spanyol akibat dari tindakannya yang mendukung Catalan soal kemerdekaan yang mereka dapat. Lantas apakah Pique bisa bermain untuk timnas Catalan?

Mengacu kepada statuta FIFA, khusus untuk kasus Pique ini, ia bisa membela timnas Catalan. Ini sama seperti kasus-kasus yang dialami oleh para pemain yang lahir di Yugoslavia (negara ini pecah dan bubar pada masa 1990an). Atau Mirko Vucinic yang sempat bermain untuk Serbia & Montenegro sebelum akhirnya memilih Montenegro saat negara tersebut memisahkan diri pada 2007. Yang terbaru Adis Nurkovic yang lahir di Yugoslavia, diizinkan bermain di timnas Kosovo per 2017 karena latar belakang yang mendukung.

Maka Pique bisa membela timnas Catalan, seperti yang disebutkan dalam statuta FIFA artikel 8 poin 2, bahwa: "Jika seorang pemain dengan dua kewarganegaraan kehilangan salah satu kewarganegaraan di luar kuasa mereka atau karena keputusan dari pemerintah, maka ia berhak meminta izin untuk bermain di asosiasi (timnas) lain yang sudah ia kantongi kewarganegaraannya"

Dengan kata lain, jika kelak Pique kehilangan kewarganegaraan Spanyolnya karena referendum Catalan ini, ia bisa saja membela timnas Catalan. Tentu saja dengan catatan ia sudah meminta izin kepada FIFA agar bisa bermain untuk timnas Catalan, dan FIFA pun mengizinkannya.

***

Setiap manusia perlu mengambil sikap dan keputusan terkait apa yang terjadi di dalam hidupnya. Jika ia tidak pernah mengambil sikap, maka ia tidak akan pernah maju dan tidak akan pernah bergerak ke manapun. Dengan mengambil sikap dan keputusan, itu adalah cermin bahwa manusia sudah bisa selangkah lebih maju dalam hidupnya, terlepas dari baik-buruknya sikap dan keputusan yang diambil tersebut.

Di sini, Pique pun sudah mengambil sikap dan keputusannya terkait referendum Catalan. Ia memilih untuk tetap menjadi warga Catalan, dan bangga menjadi bagian dari Catalan. Walau mungkin sikap ini tidak akan disetujui banyak orang, tapi dengan mengambil sikap seperti ini, setidaknya Pique tidak menunjukkan keabu-abuan. Ini adalah hal yang baik bagi dirinya.

Tapi, Pique pun kelak menerima konsekuensi bahwa jika kelak Catalan benar-benar merdeka, ia tidak akan bisa lagi membela timnas Spanyol. Ia tidak bisa menyumbangkan hal yang lebih, selain satu suaranya yang bisa saja membuat Catalan merdeka.

Komentar