Invasi Suporter, di Antara Rasa Kesal dan Sanksi yang Menghantui

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Invasi Suporter, di Antara Rasa Kesal dan Sanksi yang Menghantui

Rasa kecewa dan kesal yang berkecamuk, seperti halnya rasa bahagia, bisa mewujud menjadi berbagai macam hal. Salah satu wujud dari rasa kecewa dan rasa kesal itu adalah invasi suporter ke dalam lapangan.

Sebuah pertandingan, dalam skala apapun pertandingannya itu, kerap kali tidak berjalan sesuai dengan keinginan suporter. Ketika pertandingan berjalan, suporter terkadang lupa bahwa dalam sebuah pertandingan, harus ada yang menang dan yang kalah. Saat merasa kecewa, mereka bisa melakukan apa saja, bahkan hal yang paling nekat sekalipun. Salah satu dari sekian banyak hal yang mereka lakukan adalah invasi ke dalam lapangan. Jika ini sudah terjadi, lazimnya rasa kesal dan kecewa suporter sudah membuncah di dada.

Invasi suporter ini kembali terjadi dalam laga berskala kompetisi besar Eropa, yaitu Liga Champions. Glasgow Celtic dan Paris-Saint Germain menjadi dua klub yang terlibat dalam invasi suporter kali ini. Invasi suporter yang menjadi gambaran dari rasa kesal dan kecewa muncul dan membuncah.

Invasi suporter, mengincar Mbappe

Laga antara Celtic melawan PSG sebenarnya tidak berjalan terlalu ricuh. Meski memang terjadi ketidakseimbangan karena kekuatan skuat dari kedua tim yang cukup jomplang, pertandingan pada dasarnya berjalan cukup seru.

Walau digelontor banyak gol, Celtic tetap mampu memberikan perlawanan kepada PSG. Mereka tidak segan bermain terbuka, beberapa kali mengancam gawang Les Parisiens yang dikawal oleh Alphonse Areola. Scott Sinclair pun beberapa kali unjuk kebolehan di lini pertahanan PSG, merepotkan para pemain bertahan lewat pergerakan lincahnya.

Namun meski bermain baik, tetap saja ada ketidakpuasan yang muncul. Kalah dengan skor mencolok 0-5, meski didapatkan dari klub sebesar PSG, adalah kekalahan yang cukup menyakitkan. Ada harga diri yang terkoyak. Ada rasa kecewa dan kesal yang tiba-tiba muncul. Namun di antara para suporter yang kecewa, tak ada yang berani menumpahkannya langsung, kecuali satu suporter yang mendadak masuk ke dalam lapangan Celtic Park pada Rabu (13/9/2017) dini hari waktu Indonesia.

Kejadian ini terjadi seusai PSG mencetak gol ketiga lewat eksekusi penalti Edinson Cavani. Ketika itu PSG sudah unggul dengan skor 0-3 atas Celtic. Keunggulan yang susah untuk dikejar. Saat para pemain Les Parisiens sedang merayakan gol Cavani tersebut, seorang suporter mendadak masuk ke dalam lapangan. Mengenakan syal Celtic dan jaket berwarna hijau tua, suporter tersebut langsung mengincar Kylian Mbappe dan berusaha memukulnya.

Apa yang dilakukan oleh suporter ini langsung menuai kecaman. Cemooh terdengar di seantero lapangan ketika ia digelandang oleh pihak keamanan stadion. Pelatih Celtic, Brendan Rodgers juga menyayangkan kejadian ini terjadi. Tindakan suporter yang mungkin sudah kadung sangat kesal dan kecewa ini membuat Celtic kembali terancam hukuman dari UEFA, menambah hukuman yang sudah mereka dapat selama enam tahun terakhir.

"Hal semacam itu, yaitu ketika suporter menyusup masuk ke lapangan, adalah hal mengecewakan di stadion dan klub mana pun. Saya yakin klub akan segera menanganinya. Siapa pun oknum suporter tersebut, hal semacam itu semestinya tidak perlu terjadi, khususnya di lapangan sepakbola. Saya pikir pihak keamanan stadion sudah menanganinya dengan baik dan kini klub akan melakukan penanganan," ujar Rodgers dilansir dari The Guardian.

Apa yang dilakukan oleh suporter ini memang cukup mengesalkan, apalagi jika situasi klub seperti situasi yang Celtic alami. Tapi jika mau melihat lebih dalam, itu adalah bentuk kekesalan tersendiri dari suporter, orang yang tak perlu dipertanyakan lagi rasa cintanya terhadap klub.

Antara rasa kesal dan sanksi yang sudah membayangi

Apa yang dilakukan oleh suporter Celtic tersebut mengingatkan akan apa yang juga pernah dilakukan oleh bobotoh, Ultras Gresik, dan Hendri Mulyadi, suporter-suporter yang pernah melakukan invasi lapangan. Mereka semua melakukan invasi ke dalam lapangan atas alasan yang sama: rasa kecewa dan kesal yang sudah membuncah di lapangan.

Bobotoh kecewa akan penampilan yang Persib tunjukkan dalam laga melawan Bhayangkara FC dalam putaran pertama Liga 1 2017 silam. Ultras Gresik turun ke lapangan setelah Persegres kalah dari Persela. Yang lebih heroik lagi Hendri Mulyadi. Dalam laga kualifikasi Piala Asia 2011 melawan Oman, ia turun ke lapangan. Tidak hanya turun, ia langsung menggiring bola, membawanya ke gawang Ali Al-Habsi, dan berusaha untuk mencetak gol ke penjaga gawang yang pernah main di Liga Primer tersebut.

Baca Juga: Pitch Invasion Sepakbola Indonesia, dari Hendri Mulyadi hingga Bobotoh

Lalu, apa akhir dari semua rasa kesal yang terwujud dalam invasi tersebut? Bobotoh dan Ultras Gresik terkena denda dari Komdis PSSI. Tindakan Hendri juga sudah membuat PSSI ketakutan akan bayangan denda sebesar 10.000 dolar AS yang sudah menanti mereka ketika itu. Intinya, dari rasa kesal tersebut memang sudah ada bayangan yang menakutkan berupa sanksi dan denda yang menanti. Itulah yang dirasakan oleh suporter Celtic saat salah satu suporternya berusaha memukul Mbappe.

Namun, seperti yang diungkapkan oleh Hendri, ketika kesal dan kecewa sudah membuncah di dada, tiba-tiba saja keberanian itu muncul. Keberanian itulah, yang menggiringnya untuk melakukan hal berani tersebut.

"Bukan motivasi saya menerobos ke lapangan, tetapi karena saya sangat kecewa dengan penampilan tim nasional. Enggak tahu kenapa saya bisa melakukan itu. Mungkin masyarakat Indonesia juga kecewa, Indonesia kok enggak pernah menang. Mungkin saya saja yang berani berbuat nekat seperti itu," ujar Hendri saat itu, disitat dari Kompas.

***

Invasi ke dalam lapangan memang tidak melulu berbentuk rasa kesal, seperti halnya invasi yang dilakukan suporter Inggris dalam laga melawan Malta di kualifikasi Piala Dunia 2018. Namun dari kebanyakan invasi yang terjadi, rasa kesal dan kecewa adalah alasan besar di balik terjadinya invasi ke dalam lapangan oleh suporter, baik itu dalam skala kecil maupun skala besar.

Suporter punya hak untuk mengeluarkan suaranya, dalam bentuk dan wujud apapun. Pekerjaan rumah juga harus dipikirkan oleh pihak yang terkena bentuk protes berupa invasi lapangan dari suporter tersebut, yaitu klub ataupun timnas. Akankah mereka berbenah? Atau akankah mereka tetap membuat suporter mereka kecewa dan menginvasi lapangan lagi?

Eh, tapi kalau invasi, nanti ada hukuman lagi yang menanti.

Komentar