Julian Nagelsmann, Anak Gawang, dan Masa Depan yang Cerah

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Julian Nagelsmann, Anak Gawang, dan Masa Depan yang Cerah

Pertandingan antara TSG 1899 Hoffenheim dan Bayern Muenchen yang dihelat pada Sabtu (9/9/2017), lebih dari sekadar sebuah rekor yang tak terpatahkan. Di baliknya, ada sebuah anak gawang yang menjadi jalan menuju masa depan yang cerah.

Dalam pertandingan yang dihelat di Rhein-Neckar Arena tersebut, Hoffenheim mampu meraih kemenangan atas Bayern dengan skor 2-0. Dua gol Mark Uth, yang sudah mencetak lima gol dari enam pertandingan terakhirnya bagi Die Kraichgauer, mengantarkan Hoffenheim mengalahkan juara bertahan Bundesliga musim 2016/2017 tersebut

Bukan hanya itu saja. Kemenangan ini juga menjadi sebuah catatan positif tersendiri bagi Hoffenheim atas Bayern. Dengan kemenangan ini, Die Kraichgauer menjadi salah satu tim yang sulit dikalahkan oleh Die Roten dalam tiga pertemuan terakhir mereka. Sebelum laga ini, pada April 2017 silam Hoffenheim mengalahkan Bayern pada ajang Bundesliga musim 2016/2017 dengan skor 1-0, menorehkan cacat dalam gelar Bundesliga yang diraih Bayern kala itu.

Tapi, jika ingin melihat lebih ke dalam, sebenarnya ada bumbu lain yang membuat laga ini memiliki kesan yang lebih penting. Ini tentang masa depan Julian Nagelsmann, pelatih Hoffenheim sekarang, yang mulai mendekat karena bantuan dari anak gawang.

Nagelsmann yang membuka jalannya sendiri untuk masa depan

Pada musim 2016/2017, Nagelsmann sudah mencatatkan prestasi yang lumayan mentereng bersama Hoffenheim. Tapi jika ditelisik lebih jauh, kesuksesan pelatih yang sekarang berusia 30 tahun ini sudah dimulai sejak ia mengambil alih Hoffenheim di masa-masa akhir putaran kedua Bundesliga musim 2015/2016. Ketika itu, dalam masa yang terbilang sebentar, ia berhasil membawa Die Kraichgauer lepas dari jerat degradasi.

Torehannya menjadi semakin mentereng bersama Hoffenheim memasuki musim 2016/2017. Bermaterikan pemain-pemain yang cukup andal macam Sebastian Rudy, Niklas Suele, Sandro Wagner, serta Oliver Baumann, Hoffenheim berhasil masuk ke zona play-off Liga Champions. Namun, mereka gagal meraih tempat di Liga Champions musim 2017/2018 karena kalah di babak play-off oleh Liverpool.

Selain torehannya yang mentereng, Nagelsmann juga dikenal karena gaya melatih dan pendekatan strategi yang cukup unik. Memadukan gaya dua pelatih yang ia kagumi dan jadikan panutan, yaitu Thomas Tuchel dan Ralf Rangnick, ia membentuk tim Hoffenheim yang mampu bermain dengan pressing agresif, tapi di sisi lain mereka juga mampu beradaptasi dengan gaya main lawan.

Nagelsmann berhasil membentuk Hoffenheim yang fleksibel. Memiliki gaya permainan sendiri sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan gaya bermain lawan. Hoffenheim pun akhirnya finish di peringkat ke-4 pada musim 2016/2017, dengan hanya mencatatkan empat kekalahan saja dari 34 pertandingan yang mereka lalui di Bundesliga.

Baca Juga: Julian Nagelsmann yang Membuat Hoffenheim (Masih) Belum Terkalahkan

Atas torehannya yang impresif ini, mulai banyak puja-puji yang tersemat pada dirinya. Bukan hanya puja-puji, Nagelsmann pun membuka jalannya sendiri kepada masa depan berkat apa yang sudah ia lakukan ini. Semua bermula dari ucapan Dietmar Hopp, CEO dari perusahaan SAP AG yang juga merupakan financial club backer Hoffenheim. Ia mengungkapkan bahwa Hoffenheim kelak akan menjadi tempat yang cukup kecil untuk dirinya.

"Tampaknya, untuk pelatih dengan bakat besar seperti (Julian) Nagelsmann, akan ada masa ketika Hoffenheim menjadi tempat yang terlalu kecil untuknya," ujar Hopp.

Setelah munculnya ucapan ini, masa depan Nagelsmann menjadi sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Prediksi klub mana yang akan menjadi tempatnya berlabuh di masa depan mulai menyeruak. Menariknya lagi, hal ini diramaikan dengan ucapan Carlo Ancelotti, yang mengungkapkan bahwa ia ingin Nagelsmann menjadi suksesornya kelak di Bayern Muenchen.

“Saya akan senang jika ia menjadi pelatih Bayern suatu hari nanti. Mungkin ia akan menjadi pelatih Bayern dalam 10 atau 20 tahun mendatang. Dia memang memiliki kualitas. Dia melakukan tugasnya dengan baik saat ini. Saya mendoakan yang terbaik untuknya,” ujar Ancelotti kepada Goal.

Sontak pertemuan antara Bayern dan Hoffenheim yang terjadi pada April 2017 silam menjadi sebuah pertemuan yang menarik. Dalam pertandingan yang dimenangkan oleh Hoffenheim di Rhein-Neckar Arena dengan skor 1-0 tersebut, ada sesuatu yang tersirat, bahwa Nagelsmann sudah punya kapabilitas yang pas untuk menjadi pengganti Ancelotti.

Ancelotti yang ingin Nagelsmann menjadi penggantinya di Bayern

Hal itu pun semakin kentara terlihat dalam pertemuan perdana keduanya dalam ajang Bundesliga musim 2017/2018. Alih-alih membalas dendam, Ancelotti justru semakin memperlihatkan bahwa Nagelsmann memang jauh lebih unggul daripada dirinya. Khusus untuk pertemuan kali ini, ada satu pihak yang juga membantu Nagelsmann membukakan jalan baginya menuju masa depan yang cerah: anak gawang.

Terima kasih, anak gawang!

Dalam pertemuan perdana keduanya dalam ajang Bundesliga 2017/2018, bumbu tentang Bayern Muenchen yang menjadi masa depan dari Nagelsmann kembali muncul. Media tak henti menyoroti hal ini. Pun dengan para fotografer yang datang ke Rhein-Neckar Arena pada Sabtu (9/9/2017) malam tersebut. Mereka tak henti mengambil potret dari Nagelsmann. Lebih dari sekadar pertandingan biasa, pertandingan ini seolah kembali menjadi penghakiman kepantasan Nagelsmann melatih Bayern.

Di sisi lain, Carlo Ancelotti pun mulai sedikit waswas. Seperti yang dialami oleh Pep Guardiola, di tahun pertamanya melatih Bayern, ia belum bisa memberikan sesuatu yang paling diinginkan oleh manajemen Die Roten, yaitu gelar Liga Champions. Walau secara domestik mereka masih berkuasa, tapi di Eropa, sejak ditinggal Jupp Heynckes mereka belum kembali bertaji.

Laga di Rhein-Neckar Arena pada malam itu menjadi sebuah ujian tersendiri bagi Ancelotti. Di sisa kontraknya, yang mungkin saja tidak diperpanjang, ia tentu ingin memberikan yang terbaik. Tapi, Sabtu (9/9/2017) malam tersebut tampaknya memang sudah ditakdirkan menjadi milik Nagelsmann. Seluruh Rhein-Neckar Arena seolah mendukung Nagelsmann untuk menang dalam pertandingan tersebut, tak terkecuali anak gawang yang ada di stadion malam itu. Anak gawang?

Ya, anak gawang memang menjadi salah satu faktor yang cukup menentukan dalam laga tersebut. Bisa dibilang, ia menjadi pemecah kebuntuan yang dialami oleh Hoffenheim. Sekira di babak pertama, dalam sebuah situasi lemparan ke dalam, salah satu anak gawang yang diam di sisi lapangan memberikan bola secara cepat kepada salah seorang pemain Hoffenheim. Dengan sigap, bola itu langsung diberikan kepada Mark Uth, yang berakhir menjadi gol pertama Hoffenheim dalam laga tersebut.

Laga pun berakhir untuk kemenangan 2-0 Hoffenheim atas Bayern dalam laga tersebut. Kemenangan yang semakin menegaskan dominasi Hoffenheim atas Bayern dalam tiga pertemuan terakhir. Namun lebih jauh, anak gawang yang memberikan bola secara cepat itu juga perlu diapresiasi, karena secara tidak langsung ia mengantarkan Nagelsmann menuju sebuah masa depan.

***

Kadang pertolongan, saat kita sedang menghadapi situasi yang sulit, bisa datang dari mana saja. Ia bisa datang dari teman-teman atau sahabat kita, orang yang kita kenal, atau malah dari orang yang tidak kita kenal sama sekali. Wujudnya pun bisa bermacam-macam, salah satunya adalah yang dilakukan oleh anak gawang dalam laga Hoffenheim lawan Bayern tersebut.

Tidak menutup kemungkinan Nagelsmann akan menjadi pelatih Bayern suatu hari nanti. Ia sudah mencetak prestasi, dan sudah membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih jempolan. Kelak, jika ia memang menjadi pelatih Bayern dan juga pelatih besar di kancah sepakbola, ada satu sosok yang tidak boleh ia lupakan dan harus ia berikan rasa terima kasih. Ia adalah anak gawang dalam laga Hoffenheim melawan Bayern tersebut.

Komentar