Cahaya Slamet Nurcahyo di Usia Senja

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Cahaya Slamet Nurcahyo di Usia Senja

Madura United akhirnya mengakhiri krisis kemenangan yang mereka alami pada pekan ke-23 Liga 1 Indonesia 2017. Menghadapi Arema FC di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan, Minggu (12/9), klub berjulukan Laskar Sapeh Kerrab itu sukses meraih kemenangan meyakinkan 2-0 atas Singo Edan.

Satu sosok kunci kemenangan Madura United dalam pertandingan tersebut adalah Slamet Nurcahyo, yang mencetak dua gol kemenangan dalam pertandingan tersebut. Berkat dua gol tersebut, tak salah juga menjadikan Slamet sebagai pahlawan kemenangan bagi Madura United pada malam hari itu.

Secara keseluruhan, dua gol yang dibukukan Slamet dalam laga melawan Arema telah menggenapkan total empat gol yang ia cetak selama mentas di kompetisi Liga 1 Indonesia 2017. Catatan golnya memang masih kalah jauh dengan penyerang-penyerang Madura United seperti Peter Odemwingie (13 gol) atau Greg Nwokolo (9 gol), namun tanpa peran Slamet, dua pemain tersebut mungkin akan kesulitan untuk bisa mencetak banyak gol bagi tim asuhan Gomes de Oliviera itu.

Biar bagaimanapun Slamet adalah sosok sentral di barisan tengah Madura United. Sebagai jenderal lapangan tengah Slamet kerap menjadi kreator bagi gol-gol yang diciptakan Madura selama melakoni pertandingan di Liga 1, tercatat sudah ada delapan asis yang ia sumbangkan. Catatan tersebut menjadikannya sebagai raja asis di tim Sapeh Kerrab untuk saat ini.

Perannya sebagai seorang gelandang serang membuat Slamet dituntut memiliki visi bermain yang bagus, terutama dalam pendistribusian bola yang tidak hanya mengandalkan umpan akurat untuk memanjakan pemain lainnya. Slamet punya kemampuan itu semua, yang juga disokong dengan kemampuan dribbling yang mumpuni, ia bisa bergerak lebih agresif terutama untuk menjadi penghubung antara lini tengah dan depan.

Pergerakannya licin hingga sulit untuk dihentikan lawan, belum lagi kejeliannya untuk membebaskan bola saat ia dikepung pemain lawan. Saat melakukan dribbling, rataan kesuksesannya melewati lawan pun mencapai 52 persen. Satu hal yang tak juga bisa dilewatkan dari kemampuan mantan pemain PSS Sleman itu adalah pergerakan tanpa bolanya yang sulit ditebak lawan.

Dua gol yang ia cetak ke gawang Arema FC adalah bukti bagaimana piawainya pergerakan tanpa bola Slamet. Untuk gol pertama, Slamet yang mendapat pengawalan ketat pemain Arema FC saat melakukan dribble memberikan bola kepada Rendi Siregar, yang langsung mengembalikan bola kepada Slamet yang sudah lepas dari kawalan pemain bertahan Arema, dengan tenang ia langsung menceploskan bola yang tak mampu dihadang kiper Singo Edan.

Proses serupa terjadi bagi gol kedua Slamet di laga melawan Arema. Setelah melakukan pergerakan dari tengah lapangan, bola kemudian ia berikan kepada Thiago Fortuoso yang langsung melepaskan tendangan keras ke arah gawang.

Bola sebenarnya bisa ditepis oleh kiper, namun para pemain belakang Arema tidak melihat pergerakan Slamet yang merangsek dari lini kedua untuk menyambut bola muntah itu. Tanpa pengawalan, Slamet berhasil menyambut bola dengan sundulannya dan menjadikan Madura unggul 2-0, yang bertahan hingga akhir pertandingan.

“Ini bukan hanya kerja saya. Hasil ini adalah kerjasama seluruh pemain dalam tim kami. Dua gol yang berhasil saya ciptakan ini khusus dipersembahkan untuk para suporter yang tanpa lelah mendukung perjuangan kami,” terang Slamet seusai pertandingan, seperti dilansir dari halaman resmi Madura United.

Bersinar Di Usia Tua

Merunut perjalanan kariernya sebagai pesepakbola, kemampuan Slamet sebenarnya sudah tercium sejak ia masih muda. Ia disebut-sebut sebagai pesepakbola muda berbakat yang bisa diharapkan sebagai tulang punggung timnas Indonesia di ajang Internasional. Bakat tersebut sudah tercium sejak ia menjadi bagian dari Persebaya Surabaya pada tahun 2004 silam.

Jacksen F Tiago, pelatih Persebaya kala itu, sudah melihat bahwa Slamet adalah sosok playmaker potensial. Beberapa kali pelatih asal Brasil itu memberi kesempatan tampil pada Slamet yang masih berusia 19 tahun. Namun tempat utama tidak bisa dijamin Jacksen untuk Slamet, sebab saat itu Bajul Ijo juga masih memiliki Danilo Fernando, sebagai salah satu playmaker asing terbaik yang mentas di Liga Indonesia kala itu.

Untuk bisa menempatkan posisi utama, Slamet harus berjibaku dengan Danilo sebagai bintang kesebelasan. Tidak perlu lagi mengira-ngira, karena Danilo pasti memenangkan persaingan tersebut. Akhirnya, Slamet harus puas untuk menjadi pemain pelapis dan kariernya pun lebih banyak dihabiskan di bangku cadangan Stadion Tambaksari. Musim berikutnya, kesempatan bermain yang lebih banyak benar-benar diberikan Jacksen kepada Slamet.

Tak mau menyia-nyiakan kepercayaan, Slamet tampil impresif hingga mampu membawa Persebaya lolos ke Liga Indonesia musim 2005. Sebagai ganjaran dari permainan atraktifnya, satu tempat di timnas U-23 dihadiahkan kepada Slamet. Namun ‘petaka’ bagi karier Slamet terjadi setelah Bajul Ijo mundur dari babak delapan besar, PSSI memberikan sanksi tegas dengan menghukum Persebaya turun ke divisi 1.

Slamet kemudian pergi, mencari peruntungan yang lebih baik. Sayangnya, kemampuannya tak tercium tim-tim besar yang lebih memercayakan pos playmaker kepada pemain asing. Ia kemudian harus berpetualang bersama tim-tim kecil. Beberapa kesebelasan seperti Persibo Bojonegoro, hingga mengarungi kompetisi di Divisi 1 bersama Persiba Bantul pernah ia lakoni.

Banyak pihak menganggap karier Slamet sudah habis, namun semua berubah saat Madura United merekrutnya pada tahun 2016. Hal tersebut kemudian menjadi titik balik bagi karier Slamet yang sempat meredup.

Dua musim berkostum Madura United, Slamet menjadi sosok penting di barisan tengah Sapeh Kerrab. Terlebih pada musim 2017 ini yang performanya semakin gemilang. Tanpanya mungkin label sebagai salah satu kesebelasan produktif di Liga 1 takkan disematkan bagi Sapeh Kerrab.

Setidaknya dari total 38 gol yang berhasil diciptakan Madura dalam 23 pertandingan yang dilakoni di kompetisi, kurang lebih setengah dari jumlah tersebut didapat melalui aksi Slamet Nurcahyo.

Begitu impresifnya Slamet, di kala usianya sudah tak lagi muda, tepatnya 34 tahun. Bisa dibilang itu adalah usia senja bagi pesepakbola. Umumnya dalam usia tersebut pesepakbola banyak menunjukkan penurunan performa, satu hal yang wajar, karena itu adalah siklus dan tidak bisa disalahkan mengingat seiring terus bertambahnya usia pasti ada penurunan fungsi organ tubuh.

Namun Slamet seakan menjadi antitesis dari siklus tersebut karena ia justru semakin mencuri perhatian. Bahkan dengan kegemilangannya itu, pelatih timnas Indonesia, Luis Milla, sampai terpesona hingga memanggilnya untuk masuk dalam skuat Garuda di ajang uji tanding internasional melawan Fiji pada awal Agustus lalu. Slamet juga diberi kesempatan bermain dalam laga yang berakhir dengan skor 0-0 itu, meski dimulainya dari bangku cadangan. Dengan panggilan timnas dan aksi-aksinya di lapangan, Slamet Nurcahyo, sebagaimana "Nur" dan "Cahyo" yang berarti "cahaya", kariernya mulai bercahaya. Walau usianya sudah tak muda lagi.

Foto: Liga-Indonesia.id, Madura United Ofisial

Komentar