Saatnya Filippo Dibayang-Bayangi Kehebatan Simone Inzaghi

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Saatnya Filippo Dibayang-Bayangi Kehebatan Simone Inzaghi

Dalam sejarah sepakbola Italia, Lazio bukanlah kesebelasan besar. Meski berasal dari ibu kota, daya tarik kesebelasan berjuluk Biancoceleste ini kalah jauh dari Juventus, AC Milan atau Internazionale Milan. Buktinya, Lazio yang sudah berusia lebih dari 110 tahun ini baru dua kali merasakan gelar juara Serie A.

Walau begitu, sama seperti Fiorentina, Napoli, Torino dan rival sekota AS Roma, dan tentunya bersama kesebelasan langganan scudetto, Lazio merupakan kesebelasan yang cukup lama malang-melintang di Serie A. Dari 86 musim bergulir kompetisi teratas Italia, total 75 musim Lazio ikut ambil bagian.

Tapi dalam 75 tahun tersebut, Lazio masih selalu saja kesulitan mengangkat derajat klub. Apalagi setelah juara pada 1999-2000, Lazio mulai terpinggirkan dari kandidat juara Serie A. Untuk berlaga di kompetisi Eropa pun bukan hal yang mudah bagi mereka. Apalagi setelah Cirio, sponsor yang membesarkan mereka di akhir 90an, mengalami krisis finansial pada 2002. Lazio seolah membangun klub dari nol karena susah payah mencari sponsor.

Adalah Claudio Lotito yang menyelamatkan Lazio pada 2004. Meski begitu, pengusaha asal Roma itu bukanlah pengusaha kaya yang siap menggelontorkan banyak dana untuk menyulap Lazio jadi kesebelasan terbaik. Ia memilih jalan panjang dan lambat untuk membangun Lazio. Maka tak heran meski sudah lebih dari satu dekade memimpin Lazio, prestasi tak kunjung datang.

Namun harapan Lotito untuk membuat Lazio bisa berbicara banyak dalam hal prestasi kini mulai muncul. Harapan itu terlihat sejak dimulainya musim 2016/2017. Kegagalannya mempertahankan Marcelo Bielsa sebagai pelatih di awal musim melahirkan sosok yang tepat bagi Lazio dalam berprestasi.

Dia adalah Simone Inzaghi. Lewat jalan dan perjalanan karier yang berliku, Simone mulai menemukan jalur yang tepat bagi kariernya. Bersama kepercayaan Lotito, Simone yang memasuki musim kedua menukangi Lazio ini berpotensi menjadi sosok yang bisa menerbangkan Si Elang lebih tinggi, sekaligus menahbiskan diri bahwa kemampuan melatihnya lebih baik dari sang kakak, Filippo Inzaghi.

***

Simone memiliki karier sebagai pelatih dengan melanjutkan kariernya di sepakbola setelah pensiun sebagai pesepakbola profesional pada 2010. Tapi selama menjadi pemain, kariernya tak terlalu mentereng. Ia hanya menjadi bayang-bayang sang kakak, Filippo Inzaghi. Pencapaian Simone tak seperti Filippo yang sudah mencicipi bermain di kesebelasan besar Italia (Juventus dan Milan) dengan segala trofi bergengsi yang pernah diraihnya (termasuk Piala Dunia).

Simone hanya sekali meraih scudetto. Lazio, yang selalu menjadi underdog, merupakan kesebelasan terbesarnya. Ia pernah dipanggil timnas Italia, tapi hanya tiga kali saja. Hanya enam piala saja yang ia torehkan selama menjadi pemain; setengah dari trofi yang dimiliki sang kakak. Oleh karenanya tak heran nama Inzaghi lebih lekat dengan sang kakak daripada dirinya.

Sebagai pelatih pun awalnya Filippo langsung mengalahkan sang adik. Jika Simone harus merintis karier kepelatihannya di tim junior Lazio selama enam musim, hanya butuh satu tahun bagi Filippo untuk langsung dipromosikan melatih skuat senior. Tahun 2014 Filippo sudah ditunjuk jadi pelatih Milan, setelah setahun melatih Milan Primavera.

Tapi Simone tetap tekun menekuni kariernya walau jauh dari popularitas seperti yang didapatkan kakaknya. Di sisi lain, ia berhasil memoles bakat-bakat muda Lazio untuk bisa promosi ke skuat senior. Dimulai dari Luis Cavanda, Ogenyi Onazi, sampai yang terbaru Keita Balde Diao merupakan pemain-pemain yang bakatnya terasah oleh Simone di Lazio Primavera.

Karena itu juga Lotito tak ragu menunjuk Simone kala Bielsa secara mengejutkan mengundurkan diri ketika musim 2016/2017 belum dimulai. Simone paham betul pemain-pemain muda Lazio yang promosi ke skuat senior. Selain itu, Simone pun merupakan sosok yang lekat dengan Lazio, di mana ia lebih dari 10 tahun membela Lazio sebagai pemain.

Selain itu juga, Simone punya prestasi selama menukangi Lazio U19 tersebut. Dalam enam musim, ia berhasil membawa Lazio juara Coppa Italia Primavera dua kali secara beruntun dan satu kali meraih trofi paling bergengsi di antara klub primavera, yakni Campianato Nazionale Primavera.

Sebelumnya, bakat-bakat muda Lazio kesulitan meraih gelar juara pada kompetisi apapun. Coppa Italia Primavera yang diraih Lazio sebelum ditorehkan Simone pada 2013/2014, terakhir diraih pada 1978-1979. Sementara itu untuk Campionato Nazionale Primavera, Lazio terakhir kali menjuarainya pada 2000-2001. Trofi tersebut nyaris bertambah pada 2015 andai Lazio tak dikalahkan Torino pada partai final lewat adu penalti.

Bersambung ke halaman berikutnya

Komentar