Tentang Neil Etheridge dan Perjuangannya di Balik Badan Besarnya

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Tentang Neil Etheridge dan Perjuangannya di Balik Badan Besarnya

Terkadang di balik segala kebahagiaan, ada sebuah kesedihan yang tertutupi oleh kebahagiaan tersebut. Pun dengan Neil Etheridge. Di balik postur badannya yang tegap dan menjulang tinggi (tinggi badan Etheridge mencapai 1,88 meter dan berat badannya mencapai 90 kg), ada sebuah perjuangan di dalamnya sampai akhirnya ia bisa membela Cardiff City dan mendapatkan peluang untuk tampil di Liga Primer musim 2018/2019.

Sebelum memasuki 2010, nama Neil Etheridge mungkin adalah nama yang cukup asing di telinga pecinta sepakbola. Pemain yang lahir pada 7 Februari 1990 tersebut bukanlah pemain yang terlalu banyak bergelimang trofi dalam kariernya. Ia hanya seorang pemuda biasa yang lahir di London, dari ayah berkebangsaan Inggris dan ibu yang berkebangsaaan Filipina. Ia juga bukan pesepakbola kenamaan, malah ia pernah berganti posisi dari penyerang menjadi penjaga gawang ketika belajar di akademi Chelsea.

Namun dari badannya yang menjulang tinggi (hal ini disebut oleh Neil Warnock sebagai keunggulan tersendiri), tampak bahwa di baliknya, ada sebuah perjuangan yang sudah dilalui oleh Etheridge. Sebuah perjuangan untuk tetap bisa bertahan di tanah Britania Raya. Sebuah perjuangan untuk tidak pernah berhenti bermain sepakbola.

Masa pengembaraan Etheridge

Ketika itu tahun 2003. Etheridge muda mulai belajar menyepak bola di akademi Chelsea bersama dengan dua orang yang kelak menjadi kompatriotnya di timnas Filipina, Phillip dan James Younghusband. Badannya tinggi menjulang, namun ia justru memilih posisi penyerang sebagai posisi kesukaannya. Itu tidak bertahan lama, sebelum akhirnya tim pelatih di akademi menyarankan agar Etheridge menjadi penjaga gawang, Ia diberikan pilihan kala itu, dan pada akhirnya ia memutuskan untuk menjadi penjaga gawang.

Setelah banting stir menjadi penjaga gawang, perjalanan karier Etheridge sebagai pesepakbola pun dimulai. Badannya yang menjulang tinggi tampak begitu terlihat di posisi penjaga gawang. Berbadan tinggi, Etheridge juga ternyata punya refleks yang cukup baik sebagai seorang penjaga gawang. Masa depan cerah pun menantikan Etheridge.

Etheridge selama di Bristol Rovers. Foto: Wales Online

Namun, alih-alih masuk ke tim utama Chelsea, ia malah menyeberang ke Fulham pada 2006 silam. Meski menerima kontrak profesional pertamanya di Fulham, masa-masa Etheridge di Fulham adalah masa yang penuh dengan perjuangan. Ada bayang-bayang Mark Schwarzer di sana, dan ia juga banyak menghabiskan waktu dengan mengalami masa peminjaman ke sana ke mari, seperti ke Charlton Athletic, Leatherhead, Bristol Rovers, dan Crewe Alexandra.

Situasi yang sama masih terjadi ketika ia pindah ke Oldham Atheltic. Ia pun hanya menghabiskan masa di Charlton Athletic sebagai pemain pinjaman. Bisa dibilang, semasa muda Etheridge lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai seorang pengembara. Ia berpindah dari satu tim ke tim yang lain, dan tidak pernah berdiam di satu tempat lebih dari satu musim. Tidak ada tempat menetap, meski ia terikat kontrak dengan klub yang meminjamkannya.

Keadaan ini pun berlangsung selama bertahun-tahun, sampai akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke Walsall United dan menemukan rasa betah di sana.

Walsall United, jalan menuju Cardiff City

Setelah mengembara ke sana ke mari semasa muda, pada 2015 Etheridge menemukan rasa betah ketika ia memutuskan untuk membela Walsall United. Jika di klub-klub sebelumnya ia hanya menghabiskan waktu hanya selama semusim saja, di Walsall ia bisa menghabiskan waktu selama dua musim. Memang itu sesuai dengan kontrak yang tertera, tapi di sinilah ia dapat menunjukkan kemampuannya.

Dari 44 penampilan yang ia torehkan untuk klub berjuluk The Saddlers pada musim 2016/2017, ia bisa 12 kali menorehkan catatan nirbobol. Total selama dua musim di Walsall, ia menorehkan 93 penampilan. Catatan yang cukup apik, yang membuat namanya mulai diperhatikan di sepakbola Inggris.

Ia tidak lagi mengembara seperti ketika muda. Perjuangannya mulai membuahkan hasil ketika Walsall mulai menghargai jasanya. Ia bisa mengembangkan diri dengan baik di Walsall, merasa betah, dan mulai menarik perhatian klub-klub lain di Inggris. Meski memang hubungannya dengan timnas Filipina menjadi sedikit tidak membaik (ia melewatkan Piala AFF 2016 karena lebih memilih membela Walsall), tapi kariernya di Inggris menjadi lebih baik.

Cardiff pun mulai membuka mata. Neil Warnock yang sedang menjalankan sebuah program revolusi di sana menganggap pemain berusia 27 tahun tersebut adalah pemain yang cocok untuk menjadi bagian dari revolusi yang sedang ia canangkan. Ia pun punya pendapatnya sendiri soal Etheridge.

"Kami tidak punya penjaga gawang yang tinggi. Dan ia (Etheridge) memiliki tinggi yang ideal (1,88 meter dengan berat badan 90 kg). Ia memang sudah menjadi incaran kami dan kami senang ia memutuskan untuk bergabung bersama kami. Sekarang, ia sedang menantikan tantangan yang ada di hadapannya dan ia sedang menapaki jalan menjadi penjaga gawang kenamaan Inggris. Ia juga sedang berada di usia emas," ujar Warnock seperti disitat Wales Online.

***

Sekarang Etheridge sedang menjalani masa-masanya di Cardiff. Sejak Juli 2017 kemarin, ia sudah menjadi bagian dari skuat Cardiff dan tampil di Divisi Championship bersama klub yang bermarkas di Stadion Cardiff City ini. Ada sebuah peluang besar menantinya, yaitu bermain di ajang Liga Primer dan menjadi pemain Asia Tenggara pertama yang bermain di kompetisi level tertinggi Inggris tersebut.

Memang jalan masih panjang, tapi bagi Etheridge, ini adalah hasil dari perjuangannya selama ini. Perjuangannya yang tersembunyi di balik badannya yang menjulang tinggi.

foto: @Neil38Etheridge

Komentar