Sebongkah Kenangan dalam Ingatan Pol

Cerita

by Sandy Firdaus Pilihan

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Sebongkah Kenangan dalam Ingatan Pol

Benda mati, bagi beberapa orang, kadang menyisakan sebuah kenangan tersendiri yang sulit untuk dilupakan. Ada banyak jenis kenangan yang bisa tersemat di dalamnya, baik itu kenangan bersama teman, mantan pacar, orang tua, ataupun orang-orang yang dekat dengan kita. Di dalam komputer berjalan milik Barcelona, ada juga sebuah kenangan yang tersemat tentang seorang anak bernama Pol.

Sebuah mimpi memang kerap tidak bisa selalu diwujudkan. Seperti yang diujarkan oleh Takumi Inui, salah satu karakter dalam serial TV Kamen Rider Faiz, ketika seseorang memiliki mimpi, kadang itu adalah sesuatu yang menyakitkan, walau di sisi lain terkadang mimpi juga bisa membuat seseorang begitu berapi-api untuk mencapainya.

Tapi untuk mencapai sebuah mimpi, manusia tidak harus selalu meraihnya seorang diri. Kerap ada tangan-tangan tidak terlihat, baik itu tangan manusia maupun tangan Tuhan, yang membantu manusia mewujudkan mimpi yang ia inginkan. Itulah yang dialami oleh Pol, seorang bocah berusia 13 tahun yang menderita penyakit parah. Ada tangan Eric Abidal yang membantunya untuk mewujudkan salah satu mimpi yang paling diinginkan Pol: mengunjungi Nou Camp, kandang Barcelona.

Dengan bantuan sebuah komputer berjalan, Abidal pun membantu Pol mewujudkan mimpinya, sekaligus menyematkan sebuah kenangan tersendiri di dalam komputer tersebut, khusus untuk Pol seorang yang meninggal tak lama setelah ia mampu mewujudkan mimpinya tersebut.

***

Pada sebuah hari yang cerah di Nou Camp, Eric Abidal, lengkap dengan setelan rapinya mengenakan jas, kemeja, dan dasinya, berdiri di sebelah komputer berjalan yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan pernak-pernik Barcelona. Komputer itu bukan komputer sembarangan. Komputer itu sudah terintegrasi dengan sebuah laptop yang dikendalikan oleh Pol dari rumah sakit. Secara tidak langsung, dapat dikatakan bahwa Pol sedang mengadakan tur di Nou Camp.

Dalam turnya di Nou Camp ini, Pol tidak sendirian. Ia ditemani oleh Eric Abidal yang sudah mengenakan setelan rapi, yang bertindak sebagai pemandu dalam tur Pol kali ini. Meski tidak secara langsung, Pol tampak begitu bahagia dengan turnya lewat komputer berjalan dan laptop ini. Abidal, pemain berusia 37 tahun yang sekarang berposisi sebagai duta Barcelona ini, mengenalkan sekaligus memberitahu Pol seisi Stadion Nou Camp.

Jauh di rumah sakit, Pol tampak senang dengan segala hal yang terjadi pada hari tersebut. Meski tidak bisa berada langsung di Nou Camp karena keadaannya yang tidak memungkinkan, Pol bisa menyaksikan secara langsung isi dan juga keadaan dari Stadion Nou Camp secara langsung. Ditambah lagi, ia juga bisa melakukan konferensi pers bersama para wartawan di ruang konferensi pers.

Kebahagiaan pun terasa makin lengkap setelah Abidal langsung menjenguk Pol ke rumah sakit. Raut wajah ceria langsung muncul di wajah Pol, menggambarkan bahwa ada sebuah mimpinya yang terkabul. Mimpi yang diwujudkan lewat bantuan dari Tuhan dan Eric Abidal, sebagai duta Barcelona.

Namun, siapa sangka ternyata setelah mimpi dari Pol terwujud, beberapa hari setelah ia melakukan tur via komputer berjalan dan laptop dari rumah sakit itu ia diberitakan meninggal dunia. Kesedihan langsung menyeruak, dan sebagai bentuk penghargaan untuk Pol, komputer berjalan yang memang baru pertama kali digunakan saat Pol melakukan tur virtual tersebut dinamai Pol juga.

Dengan dinamainya komputer berjalan itu sebagai Pol, maka kenangan tentang Pol tersemat di dalam komputer tersebut. Sebuah kenangan yang menjadi wujud dari tercapainya mimpi seorang anak berusia 13 tahun.

***

Meraih mimpi adalah hak setiap orang, pun juga dengan menjalani mimpinya tersebut. Tepat sebelum ia meninggal, Pol sudah berhasil mewujudkan dan menjalani mimpinya yang terbilang sederhana, yakni mengunjungi Stadion Nou Camp dan berjumpa dengan salah seorang legenda Barcelona, sebelum akhirnya ia tutup usia.

Pol sekarang sudah bahagia. Seperti halnya Lowery, ia sudah terbang ke surga bersama dengan malaikat-malaikat yang berada di sampingnya. Kenangan pun tersisa di dalam komputer berjalan milik Barcelona yang dinamai Pol tersebut. Komputer itu, bagi orang-orang yang memahaminya, akan menjadi sebuah pengingat tersendiri tentang perjuangan seorang anak meraih mimpinya yang sederhana. Seorang anak bernama Pol yang ingin mengunjungi Nou Camp paling tidak sekali seumur hidupnya.

foto: @brfootball

Komentar