Pemain Timnas Fiji Bekerja Paruh Waktu untuk Melawan Indonesia

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Pemain Timnas Fiji Bekerja Paruh Waktu untuk Melawan Indonesia

Untuk negara sekecil Fiji, sepakbola adalah hal besar. Sebentar, omong-omong kalian tahu di mana Fiji?

Fiji adalah negara kepulauan di Samudera Pasifik (petanya bisa kalian lihat di akhir tulisan ini). Meski berada di peringkat ke-181 di FIFA (per Agustus 2017), setidaknya mereka mampu menunjukkan kebesaran sepakbola karena pernah berlaga di Olimpiade 2016 cabang sepakbola putra.

Lolosnya Fiji ke Olimpiade 2016 ini adalah sejarah besar. Mereka mendapatkannya setelah menjuarai Pacific Games 2015.

Itulah kali pertama negara dari OFC (konfederasi sepakbola Oseania) selain Australia dan Selandia Baru lolos ke turnamen empat tahunan tersebut. Meski tidak sebesar Piala Dunia FIFA, tetap saja merupakan prestasi besar untuk negara di Samudera Pasifik tersebut.

Akan tetapi, mereka menjuarai Pacific Games dengan sedikit keberuntungan, “hanya” karena negara terkuat di konfederasi tersebut, Selandia Baru, didiskualifikasi pada fase semi-final.

Di semi-final, Selandia Baru sebenarnya menang 2-0 atas Vanuatu. Tapi karena mereka memainkan pemain ilegal, Deklan Wynne, maka mereka diberi status kalah dengan skor 3-0. Wynne sendiri dianggap ilegal karena bukan warga Selandia Baru, meski akhirnya ia mendapatkan status sebagai warga negara Selandia Baru setelah pertandingan tersebut.

Menghadapi Vanuatu yang merupakan “lawan yang ringan” di final, Fiji akhirnya menjuarai Pacific Games pada drama adu penalti setelah pertandingan berakhir imbang tanpa gol. Kalau pun Fiji kalah, sebenarnya Vanuatu akan mendapatkan gelar serupa. Jadi, ini benar-benar keberuntungan.

Ketatnya persaingan di Pasifik, hanya untuk dikalahkan Selandia Baru kemudian

Di antara negara-negara Oseania, Fiji merupakan negara yang cukup kuat. Mereka dua kali meraih posisi ketiga di Piala OFC, pada 1998 dan 2008. Bisa dibilang, mereka selalu memperebutkan status sebagai “si nomor dua” di Oseania di bawah Selandia Baru (peringkat 123 FIFA).

Saingan mereka dalam perebutan status ini adalah Kaledonia Baru (peringkat 145 FIFA), Tahiti (150), Kepulauan Solomon (155), dan Papua Nugini (164).

“Di Fiji, atau negara Pasifik lainnya, kami punya potensi,” kata Roy Krishna, kapten Fiji, dikutip dari The Guardian. “[Kepulauan] Solomon sangat bagus, Vanuatu dan PNG (Papua Nugini) sedang menanjak. Dan Tahiti, kamu tahu, mereka mewakili Oseania di Piala Konfederasi.”

“Ada banyak [pemain bertalenta], dan bahkan di negara kepulauan Pasifik lainnya, tapi kami tidak cukup beruntung keluar [berkembang] dari sana. Jadi pada akhirnya semua menghilang di kepulauan.”

Bayangkan jika Indonesia bergabung dengan OFC, mungkin negara-negara tersebut yang menjadi saingan kita, meskipun saya cukup percaya diri kita bisa menang... untuk kemudian menjadi nomor dua di bawah Selandia Baru.

Setelah Australia bergabung dengan AFC (Asia) hanya karena mereka ingin mencari tantangan baru dan untuk bisa lolos otomatis ke Piala Dunia, otomatis Selandia Baru selalu bisa merajai Oseania.

Sulitnya mencari pemain karena banyak di antara merka yang bekerja paruh waktu

Sulitnya mengembangkan sepakbola di Fiji ditunjukkan pelatih mereka saat ini, Christophe Gamel. Pelatih asal Prancis tersebut sempat menyebut pertandingan Fiji melawan Selandia Baru sebagai pertandingan “amatir melawan profesional”.

“Sepakbola Fiji tidak bisa dibandingkan dengan negara-negara seperti Prancis dan Italia karena sepakbola di Fiji masih amatir,” kata Gamel, dikutip dari The Fiji Times. “Sedangkan di Eropa, para pemain dibayar oleh kesebelasan dan di sini aku kehilangan banyak pemain karena komitmen pekerjaan mereka [yang lain], dan mereka tidak mendapatkan izin [dari kantornya untuk membela tim nasional].”

“Sangat sulit ketika kamu harus bermain di pertandingan kualifikasi Piala Dunia dan kamu tidak mendapatkan izin untuk meninggalkan pekerjaan. Aku pikir ini gila untukku.”

Mengomentari setiap pertandingan melawan Selandia Baru, ia pun pesimis: “Pertandingan selalu akan menjadi amatir vs profesional. Seringnya orang-orang sudah tahu hasilnya bagaimana.”

Dari sekian banyak pemain, memang beberapa di antara mereka adalah pemain profesional. Namun banyak juga yang merupakan pemain part-time seperti Christopher Wasasala (tentara), Epeli Saukuru (juga pemain sepakbola pantai), serta banyak yang merupakan nelayan atau buruh.

“Aku sangat berharap kami bisa mengontrak para pemain, tapi aku hanya bisa menyarankannya ke Fiji FA dan para petinggi, dan finansial harus lancar. Itu tidak mudah,” kata Gamel.

Tidak ada yang mau melawan Fiji

Selama 2017 ini, pertandingan persahabatan melawan Indonesia (2 September 2017) adalah pertandingan pertama mereka. Sedangkan pada 2016, mereka hanya memainkan empat pertandingan, termasuk imbang 1-1 melawan Malaysia pada 25 Juni 2016.

“Sayangnya kami belum memainkan pertandingan meski kami sudah melakukan pendekatan kepada beberapa negara, tapi mereka menolak bermain,” curhat Gamel.

“Aku tidak berkata jika aku memiliki sumber daya terbaik untuk menyiapkan tim dan jika aku berkata itu, maka aku bohong. Jujur saja, Fiji FA sudah melakukan yang terbaik untuk mendapatkan pertandingan-pertandingan persahabatan, tapi tawaran kami selalu ditolak,” katanya.

Sebelum melawan Indonesia, Gamel memang sempat berkata untuk melakukan perjalanan ke Asia Tenggara. “Aku akan melakukan perjalanan ke negara-negara lain untuk berdiskuis dan menemukan tim-tim di Indonesia, Qatar, dan Thailand.”

Setelah melawan timnas Indonesia, Fiji dijadwalkan akan menghadapi Persija Jakarta di Stadion Patriot, Bekasi, pada 4 September 2017.

Meski hanya menghadapi kesebelasan yang bukan tim nasional (artinya tidak akan masuk perhitungan peringkat FIFA), tapi setidaknya Fiji sudah merencanakan yang terbaik untuk memanfaatkan jeda internasional ini. Indonesia saja hanya memainkan satu pertandingan (melawan Fiji) dan itu pun Liga 1 masih berlangsung di tengah-tengah jeda internasional.

“Sangat penting memainkan pertandingan persahabatan dan jika kamu tidak mendapatkan hasil [positif], maka kamu akan menderita. Aku merasa kasihan dengan para pemainku, dan aku akan menderita bersama mereka,” tutup Gamel.

Jika Fiji menderita karena bersusah-payah hanya untuk mendapatkan lawan bertanding, lalu kita ini apa? Jika kalian masih penasaran di mana itu Fiji, silakan lihat peta di bawah ini:

Komentar