Perjalanan Panjang Indonesia Meraih Medali Perunggu Sepakbola SEA Games 2017

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Perjalanan Panjang Indonesia Meraih Medali Perunggu Sepakbola SEA Games 2017

Satu medali perunggu berhasil disumbangkan tim sepakbola putra Indonesia di ajang SEA Games 2017, Malaysia. Kepastian tersebut didapat setelah Evan Dimas dan kawan-kawan berhasil mengalahkan Myanmar dalam pertandingan perebutan medali perunggu di Stadion MP Selayang, Selangor, Selasa (29/8), Indonesia berhasil meraih kemenangan meyakinkan, 3-1.

Bisa dibilang itu adalah kemenangan dramatis bagi Indonesia sebab sebelumnya mereka tertinggal lebih dulu setelah Than Paing mencetak gol pada menit ke-21. Skor 1-0 untuk keunggulan Myanmar bertahan hingga turun minum. Memasuki paruh kedua, Indonesia mulai meningkatkan intensitas serangan mereka.

Tekanan demi tekanan dilakukan, hingga akhirnya berbuah gol pada menit ke-57 melalui sepakan keras Evan Dimas Darmono. Bola sepakan Dimas dari luar kotak penalti terdefleksi kaki pemain Myanmar yang membuat bola berbelok arah dan kiper Myanmar pun terkecoh. Skor pun berubah 1-1.

Berhasil menyamakan skor, Indonesia semakin gencar menggempur pertahanan Myanmar. Hasilnya, Septian David Maulana berhasil membawa Indonesia unggul 2-1, lagi-lagi melalui sepakan keras dari luar kotak penalti.

Myanmar kemudian bereaksi setelah tertinggal satu gol, mereka bangkit dan meningkatkan intensitas serangan. Tensi pertandingan kemudian sedikit memanas, karena Myanmar terlihat sangat haus untuk mengejar ketertinggalan.

Namun alih-alih menyamakan skor, gawang mereka kembali koyak pada menit ke-77. Tendangan jarak jauh Rezaldi Hehanusa berhasil menjebol gawang Myanmar untuk memperbesar keunggulan menjadi 3-1.

Hasil tersebut, membuat Indonesia memastikan medali perunggu sebagai prestasi terbaik yang mereka raih di ajang SEA Games 2017 ini. Melihat target yang sebelumnya dicanangkan, tentu ini di luar ekspektasi. Sebab Indonesia sendiri menargetkan medali emas sebagai pencapaian yang harus mereka raih di multi-event dua tahunan itu.

Kendati demikian, perjuangan Indonesia selama di SEA Games 2017 juga patut mendapat apresiasi. Sebab, tantangan yang mereka hadapi untuk mencapai medali perunggu pun terbilang sangat berat.

Sejak awal, lawan-lawan seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Myanmar yang notabene dikenal sebagai kekuatan besar di sepakbola ASEAN harus mereka hadapi untuk mencapai tempat ketiga di SEA Games edisi ke-29 itu.

Berhasil Melewati Tantangan Grup Neraka

Seperti sudah disebutkan di atas, sejak awal Indonesia memang sudah harus melawati tantangan berat. Saat pengundian grup, Indonesia tergabung di Grup B. Di sana, skuat asuhan Luis Milla itu satu pot dengan tim-tim kuat ASEAN seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina. Selain dua tim tersebut ada pula Timor-Leste dan Kamboja sebagai kesebelasan non unggulan, namun tetap harus diwaspadai karena berpotensi menjadi kuda hitam.

Pada pertandingan pertamanya di SEA Games, Indonesia langsung berhadapan dengan Thailand. Bisa dibilang ini adalah laga final kepagian, karena menimbang pada sejarah dan nama besar keduanya di pentas sepakbola ASEAN, idealnya Indonesia dan Thailand bertemu di partai puncak. Namun karena kedua kesebelasan itu berada dalam satu grup, maka salah satu pertandingan besar di ASEAN itu terjadi di pertandingan pertama Grup B.

Seperti telah terprediksi sebelumnya, laga tersebut pun berjalan ketat. Saling serang mewarnai jalannya pertandingan Thailand melawan Indonesia. Namun Thailand hampir membuat Indonesia sedikit terguncang setelah unggul lebih dulu pada menit 14 melalui Chaiyawat Buran. Butuh waktu bagi Indonesia untuk bereaksi atas gol tersebut. Hingga akhirnya pada menit 60, Septian David Maulana berhasil mencetak gol untuk menghindarkan Indonesia dari kekalahan. Skor imbang 1-1 kemudian berakhir hingga akhir laga.

Pada pertandingan kedua, Indonesia kembali harus berhadapan dengan tim tangguh lainnya, Filipina. Namun dalam laga tersebut Indonesia berhasil menunjukkan keperkasaannya dengan memenangkan pertandingan dengan skor 3-0. Gol Indonesia dalam laga tersebut masing-masing diciptakan oleh Septian David, Muhammad Hargianto, dan Saddil Ramdhani.

Kemudian, Indonesia harus berhadapan melawan Timor-Leste. Meski di atas kertas Tim Garuda diunggulkan meraih kemenangan. Namun pada praktiknya tidak semudah yang dibayangkan. Indonesia memang berhasil memenangkan laga, namun hanya dengan skor tipis 1-0 melalui sundulan kepala Marinus Wanewar. Tapi, Timor-Leste memberikan perlawanan sengit.

Lolos ke Semi-final dengan Dramatis, Namun Akhirnya Koyak oleh Malaysia

Pada pertandingan keempat, mereka harus jumpa Vietnam yang tampil superior dalam tiga pertandingan terakhirnya. Seperti sudah diprediksi, Vietnam memberikan tekanan luar biasa kepada Indonesia. Serangan demi serangan deras dilancarkan skuat asuhan Nguyen Huu Thang itu.

Apalagi pada menit 62 Indonesia harus bermain dengan 10 pemain setelah Hanif Sjahbandi mendapat kartu kuning kedua. Beruntung, kedisiplinan Hansamu Yama dan kawan-kawan di lini pertahanan Indonesia berhasil meredam keagresifan Vietnam. Indoensia kemudian memaksa pertandingan berakhir dengan skor imbang 0-0.

Kemudian mereka berhadapan melawan Kamboja sebagai laga hidup mati, seperti sudah disebutkan di atas Indonesia harus susah payah mengalahkan Kamboja 2-0 untuk memastikan satu tempat di babak semi-final. Indonesia jelas patut bersyukur, dan dipersilahkan untuk merayakan keberhasilan mereka yang diperoleh dengan cara dramatis.

Lolos ke babak semi-final, lagi-lagi lawan tangguh dihadapi Indonesia. Malaysia, tim tuan rumah yang lolos dengan status juara Grup A menantang Indonesia di semi-final. Meski menemui lawan sulit, namun Indonesia mampu memberikan perlawanan kepada Malaysia yang tampil di Stadion Shah Alam dengan dukungan penuh suporternya.

Indonesia mampu menahan Malaysia hingga 80 menit pertandingan berlangsung. Namun petaka akhirnya datang pada menit 87, memanfaatkan umpan dari sepakan pojok Thanabalan Nadarajah sukses menyundul bola yang langsung mengoyak gawang Satria Tama. Keunggulan 1-0 Malaysia bertahan hingga akhir pertandingan.

Hasil tersebut membuat Indonesia harus mengubur mimpinya meraih medali emas, karena pencapaian maksimal yang bisa diraih setelah kandas dari Malaysia di semifinal hanya tinggal medali perunggu. Beruntung, Indonesia sukses meraih medali tersebut sebagai pelipur lara saat medali emas kembali gagal diraih.

Meskipun selalu gagal meraih medali emas sejak SEA Games 1991 di Manila, medali perunggu ini bukanlah pencapaian terbaik Indonesia karena pada SEA Games 2013, 2011, dan 1997, Indonesia pernah mendapatkan medali perak (runner-up). Sementara pencapaian medali perunggu Indonesia menyamai catatan yang terakhir kali dicapai pada SEA Games 1999 di Bandar Seri Begawan.

Komentar