Pemain Tidak Akan Sembarangan Pindah Sebelum Piala Dunia

Cerita

by Randy Aprialdi Pilihan

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Pemain Tidak Akan Sembarangan Pindah Sebelum Piala Dunia

Bursa transfer musim panas 2017 sebentar lagi akan berakhir pada 1 September mendatang. Setiap kesebelasan masih melakukan aktivitas transfernya masing-masing. Mereka juga memanfaatkan sisa waktu yang singkat ini untuk memaksimalkan transfernya, baik melepas atau mendatangkan pemain baru.

Kecermatan dalam keputusan pindahnya pemain bukan hanya keputusan dari kesebelasan, melainkan juga dari pemain itu sendiri. Hal ini terjadi karena bursa transfer musim panas ini akan berpengaruh kepada keterlibatan para pemain nantinya di Piala Dunia 2018 (Rusia).

Pada akhirnya nanti, keputusan pemain untuk bertahan atau pindah kesebelasan bisa dibilang menjadi perjudian besar, karena bagi mereka yang mengincar tempat utama di tim nasional mereka masing-masing, mereka tentunya tidak ingin pindah jika tidak dimainkan di kesebelasan barunya nanti. Pun demikian mereka biasanya ingin pindah jika sebelumnya mereka tidak menjadi pilihan utama di kesebelasan mereka masing-masing. Semuanya karena Piala Dunia.

Beberapa pemain juga memikirkan nasibnya terutama untuk yang merasa posisi utamanya terancam karena kedatangan rekan baru (seperti Olivier Giroud musim ini misalnya, setelah Arsenal mendatangkan Alexandre Lacazette), atau keputusannya untuk pindah ke kesebelasan lebih besar namun akan menghadapi daya saing begitu sulit (Kylian Mbappe jika pindah ke Real Madrid).

Pada intinya, rata-rata pemain menginginkan waktu bermain lebih banyak di skuat utama sebagai tolak ukur pertama agar dipanggil masing-masing timnas.

Pertimbangan untuk mengincar tempat utama di timnas

Tapi bermain di skuat utama kemudian dipanggil timnas, sebetulnya lebih kompleks lagi. Persepsi itu karena tentu saja setiap timnas memiliki situasi dan ketegorisasi sepakbola berbeda-beda. Dalam konteks sepakbola misalnya, negara-negara seperti Argentina, Belanda, Brasil, Inggris, Italia, Jerman, Prancis, Portugal, Spanyol, dan lainnya adalah negara besar. Masing-masing dari negara tersebut pernah memenangkan gelar di kompetisi antar negara.

Bagi sepakbola negara-negara tersebut, tentu menit bermain di skuat utama adalah syarat pertama bisa terpanggil meskipun pemain-pemain negara asal mereka bermain di kesebelasan-kesebelasan besar di Eropa. Nacho Fernandez adalah salah satu contohnya. Ia tidak dipanggil Spanyol pada Piala Eropa 2016 walau memperkuat Real Madrid yang baru memenangkan Liga Champions 2015/2016.

Alasan Nacho tidak dipanggil karena ia jarang dimainkan secara reguler bersama Madrid. Nacho cuma dimainkan 12 kali sebagai bek tengah inti selama La Liga 2015/2016. Nasibnya justru berbeda dengan rekan kesebelasannya, yaitu Mateo Kovacic yang jarang dimainkan tapi disertakan Kroasia pada Piala Eropa 2016. Bahkan kesempatan bermain Kovacic pada waktu itu lebih sedikit dibandingkan Nacho. Kovacic hanya dimainkan delapan kali sejak menit pertama pada musim yang sama.

Lalu mengapa Kovacic lebih beruntung karena dipanggil negaranya? Jawabannya yaitu kembali ke kategorisasi dan situasi sepakbola negaranya. Ditegaskan kembali bahwa Nacho memperkuat timnas besar dengan berbagai gelarnya, yaitu Spanyol. Sementara Kovacic dipanggil dari Kroasia yang bisa dibilang memiliki kategorisasi sepakbola menengah. Bagi negara-negara sepakbola menengah, tidak dimainkan pun tidak masalah asalkan berkarier di kesebelasan besar lima liga top di Eropa.

Keputusan-keputusan itulah yang sering dilakukan oleh sepakbola negara menengah seperti Amerika Serikat, Austria, Cile, Belgia, Kroasia, Polandia, Swedia, dan lainnya. Sementara bagi sepakbola negara-negara kecil seperti Bulgaria, Hungaria, Jepang, Kamerun, Korea Selatan, Nigeria, dan lainnya, pemain yang berkarier di lima top liga di Eropa saja sudah luar biasa, baik dimainkan atau tidak oleh kesebelasannya masing-masing.

Maka dari itu, begitu mudah bagi Vlad Chiriches bisa tetap dipanggil Rumania untuk Piala Eropa 2016 walau jarang dimainkan Napoli. Atau Republik Irlandia yang banyak memanggil pemain-pemain dari kesebelasan divisi dua Liga Inggris. Terutama bagi negara-negara Afrika dan Asia, bermain di divisi berapapun tidak masalah. Terpenting adalah pemain itu berkarier di Eropa sehingga bisa dipanggil ke kompetisi domestik benuanya masing-masing atau Piala Dunia.

Di sisi lain, tidak jarang juga timnas besar memanggil pemain berdasarkan beberapa penampilan terakhirnya. Marcus Rasfhord dari Manchester United adalah contohnya ketika dipanggil Inggris untuk Piala Eropa 2016. Walau cuma menikmati 11 pertandingan Liga Primer Inggris 2015/2016, tapi seluruh laga itu dimainkan jelang berakhirnya musim itu dan ia selalu dimainkan sejak menit pertama. Lima gol yang dikoleksinya untuk United itu menjadi daya tarik tambahan.

Motivasi pemain untuk pindah satu musim sebelum Piala Dunia

Berasal dari sepakbola negara besar memang menjadi beban tersendiri bagi setiap pemainnya. Mereka ingin selalu dimainkan agar dilirik timnasnya. Jika tidak, tentu pindah ke kesebelasan lain adalah salah satu pilihannya. Cara itu dinilai ampuh. Contohnya saja ketika Lucas Digne memutuskan pindah ke AS Roma pada bursa transfer musim panas 2015.

Ia pindah dari Paris Saint-Germain (PSG) karena kalah bersaing dengan Maxwell. Digne pun semakin resah karena PSG mendatangkan Layvin Kurzawa. Keputusan bek kiri yang pernah memperkuat Lille OSC itu pun tepat. Ia menjadi pemain yang tidak tergantikan di Roma dan berhasil dipanggil Prancis untuk Piala Eropa 2016. Semakin bangga ketika ia yang lebih dipanggil daripada Kurzawa yang membuat tekadnya meninggalkan PSG semakin bulat.

Tapi ada juga pemain yang justru tetap tidak dipanggil timnasnya walau pindah kesebelasan. Nasib itu dialami Alvaro Negredo ketika pindah ke Valencia pada bursa transfer musim panas 2015. Bahkan Kurzawa lebih ironis. Tidak dipanggilnya ke Prancis karena kepindahannya ke PSG justru menjadi cadangannya Maxwell. Kurzawa adalah salah satu contoh pemain yang pindah karena ingin memperkuat kesebelasan lebih besar saat itu.

Tapi syarat bagi Prancis sebagai negara sepakbola yang besar tidak hanya membela kesebelasan besar, ia lupa dengan kesempatan bermainnya di skuat utama. Kasus-kasus itulah yang membuat pemain harus lebih hati-hati memutuskan masa depannya bersama kesebelasannya masing-masing jelang Piala Dunia.

Itu juga yang membayangi Philippe Coutinho soal isu transfernya ke Barcelona. Coutinho berasal dari Brasil yang memiliki kesuksesan di sepakbola internasional. Jika pindah ke Barcelona yang bertabur bintang dan pemain muda potensial, belum tentu menjadi jaminan Coutinho selalu bermain di skuat utama. Risiko itulah yang diwanti-wanti rekannya sesama dari Brasil di Liverpool, yaitu Roberto Firmino, "Musim ini spesial karena Piala Dunia. Sejak kecil saya punya impian bermain di Piala Dunia," ujarnya seperti dikutip dari Liverpool Echo.

Selain Coutinho, kasus serupa juga sangat berpotensi terjadi pada Diego Costa. Jika ia bertahan di Chelsea dan tidak akan dimainkan, maka ia dipastikan tidak akan dipanggil oleh timnas Spanyol untuk Piala Dunia 2018 (jika lolos).

Pemain seharusnya mempertimbangkan banyak hal sebelum pindah pada musim sebelum Piala Dunia

Bagi pemain dari negara sepakbola besar, pindah ke kesebelasan di luar Eropa menjadi risiko tersendiri, walau dijamin bakal terus dimainkan. Alasan itulah yang dihadapi Wayne Rooney ketika ada tawaran dari Liga Tiongkok pada bursa transfer musim panas ini. "Saya ingin bermain untuk Inggris [di Piala Dunia 2018]. Jika saya pergi ke Tiongkok, itu adalah pilihan, maka saya akan dipanggil satu hari saja," imbuhnya seperti dikutip dari The Guardian.

Rooney sadar bahwa ia adalah orang Inggris, yang merupakan negara dengan reputasi sepakbola raksasa. Rooney sadar bahwa Inggris memiliki kriteria soal kesebelasan yang dibela, waktu bermain, dan di manakah pemain itu bermain. Maka dari itu, kita mungkin bisa memahami keputusan Rooney untuk pindah dari Manchester United ke Everton di awal musim ini, bukan di musim depan atau musim sebelumnya, karena mungkin ia sadar ia harus menjaga level permainannya di tingkat tertinggi (Liga Primer) tapi harus bermain reguler juga.

Itu adalah sesuatu yang sulit ia dapatkan di United jika ia benar-benar ingin bermain di Piala Dunia 2018 yang bisa saja menjadi Piala Dunia terakhirnya sebagai pemain sepakbola.

Tentu itu berbeda dengan pemain-pemain dari negara menengah atau kecil. Bermain di kesebelasan papan atas Eropa sudah menjadi jaminan dipanggil timnas. Pada awal musim ini, hal ini hampir pasti berlaku misalnya untuk beberapa pemain yang pindah seperti Gylfi Sigurdsson (tetap akan dipanggil Islandia walau nantinya jarang dimainkan oleh Everton), Chris Wood (Burnley, Selandia Baru), Ahmed Hegazi (Mesir, West Brom), Kelechi Iheanacho (Nigeria, Leicester), Nemanja Matic (Serbia, Man United), Andrew Robertson (Skotlandia, Liverpool), Sead Kolasinac (Bosnia, Arsenal), Yevhen Konoplyanka (Ukraina, Schalke 04), dan pemain lainnya.

Di sisi lain, pelatih timnas memang sulit ditebak. Adapula pemain yang bermain secara reguler di kesebelasan besar namun tetap tidak dipanggil. Mauro Icardi yang selalu haus gol bersama Internazionale Milan contohnya. Baru pada awal Juni lalu ia dipanggil Argentina setelah diabaikan sejak 2013. Atau ada juga pemain yang tetap dipanggil negara besar walau bermain di Liga Tiongkok seperti Paulinho sebelum ia pindah ke Barcelona.

Memang minat pelatih tergantung kepada seleranya masing-masing. Tapi syarat-syarat untuk dipanggil, setidaknya sudah bisa dimengerti dan diperhatikan secara hati-hati, sehingga pemain biasanya tidak akan sembarangan untuk berpindah kesebelasan pada musim sebelum Piala Dunia.

Komentar