Goodison Park yang Masih Seperti Dulu, Rooney

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Goodison Park yang Masih Seperti Dulu, Rooney

Kala itu, jika boleh untuk diingat kembali, adalah musim 2002/2003. Seorang remaja berusia 16 tahun memasuki Goodison Park, mengenakan jersey berwarna biru langit, dengan wajah yang masih begitu polos. Sekarang, 15 tahun setelahnya, wajah dari remaja tersebut sudah tampak lebih dewasa. Dialah Wayne Rooney.

Rasa tegang tentu tak bisa disembunyikan dari raut wajahnya yang masih begitu muda. Bermain di Goodison Park, ditonton oleh puluhan ribu pasang mata yang memadati stadion kebanggaan pendukung Everton tersebut, ada sebuah beban mental tersendiri yang seolah terpangku olehnya. Penyerang muda harapan Everton dan Inggris, itulah yang tersemat di diri seorang remaja bernama Wayne Rooney saat itu.

Meski ada aura tegang terpancar di sana, namun, secara tidak langsung ada aura lain yang juga terpancar dari diri Wayne Rooney muda kala itu. Sebuah aura bintang, yang kelak akan membawanya menuju sebuah petualangan yang takkan terlupakan seumur hidup. Aura bintang inilah, yang mengimbangi aura tegang yang menjalar di sekujur tubuhnya dalam laga melawan Arsenal, 19 Oktober 2002 silam.

Permainannya meledak-ledak khas anak muda. Meski sempat tegang, seiring dengan berjalannya pertandingan ketegangan itu pun perlahan memudar, berganti dengan semangat membara untuk membawa tim yang membesarkan dan mencintainya itu meraih kemenangan. Memang anak muda kerap seperti itu. Tak memikirkan apa yang terjadi ke depan, yang penting saat ini ia bisa bersenang-senang. Itulah yang dilakukan oleh Wayne Rooney dalam laga melawan Arsenal, Oktober 2002 silam.

Berkali-kali ia berusaha untuk menembus pertahanan Arsenal yang ketika itu masih dijaga oleh bek kawakan Sol Campbell dan Kolo Toure. Hasrat menggebunya untuk mencetak gol tak terhindarkan, dan akhirnya, determinasi serta semangatnya mengantarkan Everton pada sesuatu yang baik pada pertandingan tersebut.

Sekira 28 detik sebelum laga usai, Rooney muda menerima bola di area sepertiga akhir Arsenal. Dengan sedikit kontrol, lalu sedikit dribel mendekati gawang, Rooney melakukan sesuatu yang sifatnya bisa dibilang spekulatif namun dibarengi dengan presisi tinggi. Ia menendang bola dari jarak sekira 30-yard, menuju gawang Arsenal yang ketika itu masih dikawal oleh David Seaman, kiper timnas Inggris. Hasilnya?

Lengkungan bola yang dihasilkan dari tendangan Rooney pun berbuah sebuah gol indah yang menghujam gawang Seaman ketika itu. Goodison Park bersorak. Golnya menghentikan rentetan sembilan kali laga tanpa kalah The Gunners, sekaligus bikin sosok Arsene Wenger pusing bukan kepalang. Seorang bintang sekaligus legenda baru dari sisi biru Merseyside telah lahir.

Namanya mulai harum di Goodison Park setelah gol perdananya di ajang Liga Primer tersebut. Setelahnya, seperti yang kita tahu, mulai banyak yang menaruh perhatian padanya. Sesuatu yang indah memang akan menarik perhatian dengan sendirinya, dan dua tahun berselang, ia melangkahkan kaki menuju panggung yang lebih besar, meninggalkan Goodison Park yang sudah mematri namanya sebagai tempat ketika ia menorehkan gol pertamanya di Liga Primer.

***

Sudah 13 tahun sejak ia meninggalkan Goodison Park. Sudah banyak pengalaman yang ia dapat selama masa perantauan di Manchester. Pengalaman main di Eropa, menjuarai Liga Champions, serta menjuarai beberapa kompetisi lain adalah hal-hal yang ia dapat selama ia membela panji Manchester United. Selama 13 tahun itu, selain pengalaman, Rooney pun banyak mendapat pelajaran hidup yang membuatnya menjadi pemain yang lebih dewasa.

Namun, ada masa ketika seorang pemain harus pulang ketika kampung halaman sudah memanggil. Apalagi usia Rooney sekarang sudah menginjak 31 tahun. Sudah cukup masa rantauan yang ia jalani, dan sekarang ia memilih untuk kembali ke tempat yang dahulu pernah membesarkan namanya, Goodison Park. Tempat orang-orang mengenangnya sebagai calon bintang di masa depan.

Sekarang Rooney telah kembali. Dengan raut muka yang lebih dewasa, serta guratan-guratan pengalaman yang sudah terpatri di wajahnya, ia kembali bermain untuk tim yang dulu membesarkan namanya, Everton. Laga melawan Stoke City pada Sabtu (12/8/2017) malam menjadi penanda kembalinya sang remaja yang sekarang sudah menjadi pria ke Goodison Park.

Lamat-lamat Rooney memasuki lapangan. Ia merasakan kembali atmosfer Goodison Park. Semua tampak terasa sama. Tribunnya, suasananya, lapangannya, rumputnya, serta jaring gawangnya. Tak ada yang berbeda dari sejak ia meninggalkan tempat ini 13 tahun yang lalu. Semua masih tampak sama, dan yang lebih menyenangkan lagi, suporternya menyambutnya dengan hangat. Bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

Ekspresi kebahagiaan Rooney pun semakin terpancar jelas ketika ia mencetak gol kemenangan untuk Everton. Dalam situasi deadlock, ia keluar menjadi pahlawan dengan mencetak gol penentu kemenangan Everton pada akhir babak pertama. Seusai mencetak gol, ia merayakannya dengan berlari ke arah suporter, lalu berteriak sekencang-kencangnya, seperti melepaskan rasa rindu yang sudah terpendam sejak lama. Momen emosional itu pun akhirnya tercipta, di antara Rooney dan Goodison Park.

***

Ia sudah kembali, dan untuk sekarang, kecil kemungkinannya untuk pergi lagi. Di usianya yang sudah menginjak kepala tiga ke atas, dan dengan segala trofi yang sudah ia raih di masa perantauan, mungkin yang sekarang ada di benak Rooney hanya bermain dengan nyaman dan membantu Everton sebisa mungkin dengan kemampuan yang ia miliki.

Mungkin sekarang Rooney sudah berubah. Ia bukan lagi anak remaja yang meledak-ledak seperti dahulu kala. Berkat tempaan yang ia dapat di perantauan, Rooney sudah lebih dewasa dan menjadi lebih tenang. Ia sudah menjadi pria sekarang.

Namun, ada satu hal yang takkan berubah, yakni Goodison Park itu sendiri. Goodison Park, sejauh Rooney pergi, akan tetap menyambutnya dengan tangan terbuka, karena di tempat inilah Rooney mematri kisahnya, menuliskan awal sejarah dari perjalanan panjang kariernya di dunia sepakbola.

foto: @Everton

Komentar