Siapkah Persib Menjadi Musuh Bersama?

Cerita

by Sandy Firdaus 29930

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Siapkah Persib Menjadi Musuh Bersama?

Ada pepatah yang mengatakan memiliki seribu kawan lebih baik daripada memiliki satu musuh. Namun, jika orang lain kesal karena tingkah laku kita, apakah kita siap menjadi pribadi yang dimusuhi?

Persib Bandung adalah salah satu tim yang punya sejarah panjang dalam sepakbola Indonesia. Bersama dengan Persebaya, Persija, PSM Madiun, PSIM Yogyakarta, Persis Solo, dan PPSM Magelang, Persib adalah klub yang menjadi penggagas berdirinya PSSI, federasi sepakbola Indonesia.

Selain menjadi bagian dari berdirinya PSSI, sebagai sebuah klub Persib pun punya sejarah yang cukup panjang. Berbagai kompetisi, baik dalam negeri maupun luar negeri, pernah mereka juarai. Klub berjuluk "Maung Bandung" ini menjadi klub pertama yang menjuarai Liga Indonesia, kompetisi hasil gabungan antara Galatama (Liga Sepakbola Utama) dan Kompetisi Perserikatan.

Pada intinya, sejarah Persib di sepakbola Indonesia adalah narasi panjang yang menyertai sejarah sepakbola Indonesia itu sendiri. Oleh karena itu, dengan sejarah yang panjang ini, tak heran hampir seluruh masyarakat Jawa Barat, tidak hanya kota Bandung saja, mengidentikkan diri mereka sebagai suporter Persib. Persib bukan lagi hanya milik Bandung, tapi juga milik JawA Barat.

Namun, memasuki ajang Liga 1 2017 ini, ada sebuah label baru yang diberikan kepada Persib Bandung. Label itu adalah "anak emas", menyambung dengan kondisi dan situasi yang dialami Persib menjelang serta selama LIga 1 2017. Dengan julukan "anak emas" yang melekat kepada Persib ini, ada sebuah kesiapan tersendiri yang harus dihadapi Persib. Mereka harus siap untuk menjadi musuh bersama.

Motivasi Tinggi Mengalahkan Persib, Serta Kelahiran "Anak Emas"

Sebenarnya, sejak zaman dahulu kala, ada sebuah dogma yang sudah terjalin dalam sepakbola Indonesia. Dogma tersebut adalah sebuah motivasi berlipat untuk mengalahkan Persib. Siapapun timnya itu, termasuk Persija Jakarta sekalipun, akan punya kebanggaan tersendiri jika mengalahkan Persib.

"Harus diakui, setiap tim yang datang ke Bandung pasti punya motivasi lebih untuk mengalahkan Persib di Bandung. Saya sebagai pemain merasakan kalau bisa mengalahkan Persib di Bandung kami punya kebanggaan hal itu. Sebab, main di Bandung itu tidak gampang. Kita bisa curi satu poin saja itu sudah sangat bagus,” ujar pemain senior yang sekarang bermain di Borneo FC, Ponaryo Astaman.

Dogma ini pun bertahan dalam waktu yang cukup lama, dan memang kerap kali tampak ketika tim lain menghadapi Persib, baik itu di kandang Persib sendiri (Stadion Siliwangi, Stadion Si Jalak Harupat, dan Stadion Gelora Bandung Lautan Api), maupun ketika Persib bertandang ke kandang lawan. Motivasi berlipat selalu ditunjukkan oleh lawan-lawan Persib.

Selalu ada motivasi lebih saat lawan Persib, salah satunya Persela yang berhasil menahan imbang Persib 1-1

Lalu, pada 2017 ini, muncul sebuah label baru yang ada tersemat dalam diri Persib. Label tersebut adalah "anak emas". Pertanyaan pun muncul, kenapa Persib sampai mendapatkan julukan "anak emas" seperti ini?

Kisah tentang julukan "anak emas" ini dimulai pada saat ISC A 2016 silam, kala laga kandang antara Persib melawan Borneo FC (kala itu masih bernama Pusamania Borneo FC). Pada saat itu, laga diputuskan diundur karena semua stadion di Bandung tidak bisa digunakan karena akan dipakai untuk acara Pekan Olahraga Nasional. Keringanan yang diberikan kepada Persib ini pun membuat PBFC mencak-mencak. Mereka menganggap Persib di "anak emas" kan karena keputusan ini.

"Ini lucu sekali, PON itu kan jadwalnya sudah sejak lama diketahui. Seharusnya mereka jauh-jauh hari sudah antisipasi ini. Ini kok sudah dekat-dekat baru sibuk ganti tanggal lah, ganti stadion lah dan hebatnya malah diakomodir, keputusan sepihak lagi," ujar media officer PBFC saat itu, Abe Hedly Sundana, disitat dari situs resmi PBFC.

Mulai saat itu, julukan "anak emas" pun mulai tersemat kepada Persib. Memasuki ajang Liga 1 2017, julukan ini pun semakin kentara melekat kepada tubuh Persib. Jangan lupakan pula bahwa ada ikatan tidak langsung yang terbentuk antara Persib dan PT Liga Indonesia Baru. Ikatan seperti apakah itu?

Beberapa nama yang sekarang menghuni jajaran direksi PT Persib Bandung Bermartabat, beberapa di antaranya juga menghuni posisi di PT LIB selaku operator liga. Glenn Sugita, orang yang menghuni posisi sebagai direktur utama Persib juga menghuni posisi selaku komisaris PT Liga Indonesia Baru. Ada juga nama Risha Adi Wijaya yang pernah menjadi direktur operasional PT PBB, sekarang menghuni posisi sebagai direktur di PT LIB. Ada juga nama Teddy Tjahyono yang menghuni posisi direktur di PT PBB sekaligus menghuni posisi yang sama di PT LIB (belakangan beliau mengakui tidak lagi di PT LIB).

Selain itu, kedatangan Michael Essien, yang menjadi awal mula berlakunya kebijakan marquee player, serta berbagai hal yang terjadi dalam gelaran Liga 1 2017, termasuk banyaknya orang di PT PBB yang menghuni posisi di PT LIB membuat label "anak emas" ini semakin kencang menerpa Persib.

Namun, ada hal lain yang membuat julukan "anak emas" kembali menguat di tubuh Persib. Kejadian ini, ternyata, berkaitan juga dengan federasi sepakbola Indonesia, PSSI.

Soal Sanksi dan Polemik Sikap Manajemen

Per musim 2017, baik itu dalam ajang Liga 1 maupun Liga 2, Komisi Disiplin PSSI mulai bersikap lebih tegas. Berbagai tindakan indispliner yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam sepakbola Indonesia, akan langsung dikenai sanksi. Beragam sanksi sudah diberikan dan dibebankan kepada klub-klub yang berlaga di Liga 1 maupun Liga 2.

Namun, ada sebuah kejadian menarik jelang laga antara Persib lawan PS TNI. Ada sebuah hal yang bisa disebut sebagai lelucon, terjadi antara PSSI dan Persib. Semua berawal dari pertandingan antara Persib melawan Persija, yang berujung kepada meninggalnya alm. Ricko Andrean, salah satu bobotoh Persib Bandung.

Komdis menjatuhkan sanksi kepada Persib berupa denda dan hukuman lima pertandingan tanpa penonton. Di sinilah lelucon tersebut mulai terjadi. Terjadi multitafsir terhadap sanksi yang tertulis dalam surat PSSI bernomor 060/L1/SK/KD-PSSI/VII/2017. Saat Persib mengira bahwa hukuman berupa larangan menonton dengan atribut, PSSI bersikukuh bahwa hukuman yang dijatuhkan kepada Persib adalah pertandingan tanpa penonton.

Baca Juga: Lelucon PSSI-Persib Dalam Sanksi Pelarangan Atribut

Polemik pun berakhir setelah Ratu Tisha mengungkapkan bahwa sanksi untuk Persib adalah larangan penggunaan atribut. Alhasil, ketika laga melawan PS TNI, bobotoh pun banyak yang mengenakan kaus berwarna hitam sebagai ganti dari atribut yang disita oleh pihak panpel di pintu masuk ke tribun. Hal ini bisa dianggap sebagai sebuah ketaatan manajemen terhadap sanksi dari PSSI.

Tapi, hal ini pun menjadi pertanyaan tersendiri, terutama bagi suporter-suporter klub lain. Mengapa ada semacam keringanan tersendiri untuk Persib?

Sebelum Persib terkena hukuman tersebut, beberapa suporter lain pernah terkena hukuman yang tidak jauh berbeda. PSS dijatuhi hukuman larangan empat pertandingan tanpa penonton. Persis pun pernah dijatuhi hukuman tiga laga tanpa penonton. Semuanya karena ulah suporter yang sebenarnya tidak terjadi di dalam lapangan, dan PSSI menindak tegas kedua klub tersebut.

Seharusnya, jika PSSI memang ingin menindak tegas semua tindakan indisipliner tanpa tedeng aling-aling, hukuman larangan tanpa penonton selama lima pertandingan seharusnya tetap dilaksanakan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Ratu Tisha secara tiba-tiba mengganti hukuman, tidak setegas yang dijatuhkan kepada PSS dan Persis, khusus untuk Persib.

Suasana stadion yang tidak terlalu ramai dalam laga melawan PS TNI. Tribun utara sepi, cermin dari kecerdasan bobotoh

Hal ini secara tidak langsung memperkuat stigma perihal "anak emas" yang sudah kadung menempel pada Persib.

bersambung ke halaman selanjutnya

Komentar