Kutukan Piala Konfederasi? Tak Perlu Khawatir, Jerman

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Kutukan Piala Konfederasi? Tak Perlu Khawatir, Jerman

Satu kali adalah kejadian, dua kali adalah kebetulan, dan tiga kali atau lebih adalah sebuah pola. Itulah yang Diane Ackerman ucapkan, disitat dari buku milik Bukik Setiawan, The Dancing Leader. Itu juga yang terjadi dalam ajang Piala Konfederasi.

Gelaran Piala Konfederasi 2017 usai dilaksanakan. Jerman berhasil menjadi juara usai menaklukkan Cile dengan skor 1-0. Rusia, yang pada tahun depan akan jadi tuan rumah ajang Piala Dunia, berhasil menjadi tuan rumah Piala Konfederasi dengan baik. Presiden FIFA, Gianni Infantino, memuji keberhasilan Rusia menjadi tuan rumah dalam ajang ini, serta menyebut Rusia siap untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018.

Pujian pun banyak dilayangkan kepada Jerman. Meski turun tidak dengan skuat terbaiknya, mereka mampu bicara banyak bahkan sampai menjadi juara dalam ajang ini. Nama-nama macam Lars Stindl, Leon Goretzka, Timo Werner, Joshua Kimmich, serta Sandro Wagner mampu mengantarkan Der Panzer menjadi juara. Kualitas mereka yang mumpuni mampu membuat Jerman bersaing dengan negara-negara lain yang rata-rata menurunkan skuat terbaik mereka.

Namun, ada satu hal yang seolah sudah menjadi tradisi dan tampaknya harus diperhatikan Jerman dalam ajang Piala Konfederasi ini. Sebuah kepercayaan yang entah kenapa sejak 1997 sampai sekarang sudah berubah bentuk dan menjelma seolah-olah menjadi sebuah kutukan; juara Piala Konfederasi tidak akan menjuarai Piala Dunia.

Kutukan Piala Konfederasi

Sejak 1997, turnamen yang awalnya bernama King Fahd Cup dan mempertemukan juara dari masing-masing konfederasi ini berubah nama menjadi Piala Konfederasi setelah diambil alih oleh FIFA. Brasil menjadi negara pertama yang menjuarai Piala Konfederasi setelah menaklukkan Australia di babak final dengan skor 6-0.

Brasil, yang kala itu dihuni duet ternama Romario dan Bebeto, ditopang oleh Ronaldo Lima yang masih muda, Cafu, Roberto Carlos, Dida, serta Carlos Dunga begitu perkasa dalam ajang Piala Konfederasi yang digelar di Arab Saudi tersebut. Memasuki Piala Dunia 1998, mereka juga dijagokan menjadi juara.

Sampai babak final, semua terasa sempurna bagi Seleccao. Namun di babak final, permainan luar biasa dari tuan rumah Prancis yang dimotori oleh Zinedine Zidane dan dikapteni oleh Didier Deschamps (gelandang pengangkut air) membuat Brasil harus puas dengan gelar runner-up. Gelar juara gagal mereka dapatkan.

Hal sama juga dialami Brasil dalam Piala Konfederasi 2005, 2009, serta 2013. Dalam tiga ajang tersebut, Brasil menjadi juara, tapi gagal dalam Piala Dunia 2006, 2010, serta 2014. Ketika 2006 dan 2010, mereka terhenti di babak delapan besar. Saat 2014, nasib Brasil lebih nahas lagi karena dihancurkan Jerman di semifinal dengan skor 1-7, dengan status Brasil sebagai tuan rumah kala itu.

Apakah kutukan ini hanya berlaku bagi Brasil saja? Tentu tidak.

Ada juga nama Prancis yang merasakan kutukan dari Piala Konfederasi ini. Pada ajang Piala Konfederasi 2001, mereka berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Jepang di babak final dengan skor 1-0. Lalu, apa yang terjadi pada mereka di Piala Dunia 2002? Mereka bahkan tidak mampu menembus babak fase grup karena gagal bersaing dengan Uruguay, Senegal, serta Denmark.

Dengan kejadian yang sudah melebihi tiga kali tersebut, seperti yang diungkapkan Ackermann, ada sebuah pola yang terbentuk. Sejak 1998, 2002, 2006, 2010, dan yang terakhir 2014, juara Piala Konfederasi pada tahun sebelum Piala Dunia digelar akan gagal dalam ajang Piala Dunia. Sebuah pola yang menjadi kutukan bagi para peraih titel Piala Konfederasi.

Apakah Jerman juga akan mengalami hal serupa?

Jerman tidak perlu khawatir sama sekali

Jerman menjadi juara dalam ajang Piala Konfederasi 2017. Lalu, apakah ini akan menjadi sinyal sekaligus pertanda bahwa mereka akan gagal total dalam ajang Piala Dunia 2018 nanti? Belum tentu.

Der Panzer dikenal sebagai negara spesialis turnamen. Sejak kegagalan Piala Eropa 2004, mereka menjadi tim yang konsisten minimal menjejakkan kaki di babak semifinal. Dalam ajang Piala Dunia 2006, Piala Dunia 2010, Piala Eropa 2012, dan Piala Eropa 2016 mereka sukses menembuk babak semifinal (pada 2006 dan 2010 mereka berhasil menjadi juara tiga). Sedangkan di Piala Eropa 2008 mereka berhasil menembus babak final. Pada 2014, mereka berhasil menjadi juara dunia di Brasil.

Mental mereka yang kuat dan permainan mereka yang kerap semakin panas dianggap menjadi salah satu kuatnya Jerman saat mengikuti sebuah kompetisi berformat turnamen. Tapi jelang 2018 ini, ada sebuah fenomena unik yang terjadi di Jerman, buah dari pembinaan pemain usia muda.

Bersamaan dengan juaranya Jerman dalam ajang Piala Konfederasi, timnas U21 Jerman berhasil menjadi juara Piala Eropa U21 setelah mengandaskan perlawanan Spanyol di babak final dengan skor 1-0. Seperti dilansir Squawka, setidaknya pada 2018 nanti, Jerman akan punya kedalaman skuat yang cukup mumpuni.

Der Panzer akan memiliki banyak pemain berkualitas di semua lini. Bahkan, Jerman kemungkinan akan memiliki tiga skuat (skuat saat ini, skuat cadangan, serta skuat masa depan) yang akan sangat membantu Jerman menjalani beberapa turnamen dan babak kualifikasi ajang internasional. Joachim Loew tak usah pusing memikirkan stok pemain yang akan ia bawa ke turnamen besar, karena setiap pemain punya mentalitas dan kemampuan yang sama.

Mental yang baik saat menjalani turnamen, serta bertumpuknya pemain berkualitas di Jerman hasil pembinaan jangka panjang yang sudah mereka terapkan dalam beberapa tahun terakhir setidaknya membuat mereka tak perlu khawatir akan kutukan dari Piala Konfederasi.

**

Kutukan adalah hal yang memang sulit dihapuskan, apalagi jika ia membentuk sebuah pola yang mengakar kuat lewat proses yang sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Namun, khusus untuk Jerman, mereka punya bekal untuk mengatasi kutukan tersebut seperti yang sudah disebutkan di atas.

Maka, jika Jerman kelak kembali menjadi juara Piala 2018, Anda tak perlu kaget. Mereka punya bekal yang cukup untuk mematahkan kutukan tersebut, seperti ketika mereka mematahkan kutukan tim Eropa yang tak mampu juara di tanah Amerika Selatan dalam Piala Dunia 2014 silam.

Tapi kalau pun mereka gagal dalam ajang Piala Dunia 2018, maka Anda juga tak perlu kaget. Ini berarti kutukan Piala Konfederasi masih berlaku, yang menunggu untuk dipatahkan oleh tim lain.

Komentar