Australia dan Ketidakadilan di Piala Konfederasi

Cerita

by Dex Glenniza 94117

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Australia dan Ketidakadilan di Piala Konfederasi

Untuk pertama kalinya sejak 1992, Piala Konfederasi FIFA tidak akan menampilkan wakil dari Benua Asia. Pernyataan tersebut adalah pernyataan geografis alih-alih pernyataan sepakbola. Jika kita membicarakan Benua Asia sebagai AFC (Konfederasi Sepakbola Asia), Australia adalah wakil dari AFC karena mereka menjuarai Piala Asia 2015. Namun jika kita membicarakan Benua Asia secara geografis, Australia merupakan negara di Benua Australia, bukan Benua Asia.

Jarak terdekat Negara Australia menuju Benua Asia adalah 661 kilometer. Itu adalah jarak dari Pulau Tiwi milik Negara Australia (Benua Australia) ke Timor Leste (Benua Asia). Secara geografis, "jarak terdekat" di antara kedua benua ini adalah jarak yang cukup jauh. Hal ini yang membuat Piala Konfederasi 2017 yang akan dimulai akhir pekan ini (17/06) di Rusia terasa tidak lengkap. Jadi, haruskah kita iri dengan Australia?

“Peran kami sekarang di konfederasi ini (AFC) adalah untuk menantang diri kami sendiri dan kami berharap bisa menantang negara-negara lainnya juga. Tujuannya sebaiknya konfederasi ini bisa memutus monopoli Eropa dan Amerika Selatan di Piala Dunia,” kata manajer Australia, Ange Postecoglou, sesaat setelah menjuarai Piala Asia 2015.

Harapan Australia memutus monopoli Eropa dan Amerika Selatan ternyata memakan korban negara-negara di Benua Asia sendiri, seperti yang terjadi di Piala Konfederasi 2017 ini. Jadi, Australia harus bisa memonopoli Asia terlebih dahulu untuk kemudian memutus monopoli Eropa dan Amerika Selatan. Bukan begitu?

Piala Konfederasi memiliki wakil di setiap konfederasi, Piala Dunia belum tentu bisa

Kembali ke Piala Konfederasi, turnamen ini sempat memiliki nama Piala Raja Fahad (King Fahd Cup) yang diselenggarakan di Arab Saudi pada 1992, 1995, dan 1997. Sebenarnya tidak adanya wakil Asia (bukan AFC) bukan sesuatu yang patut dibesar-besarkan mengingat pada edisi pertama saja tidak ada wakil Eropa (UEFA).

Wakil Benua Australia dan Oseania (OFC) juga baru bergabung di edisi 1997 (Piala Konfedrasi edisi ketiga). Sementara sempat ada dua wakil Asia di penyelenggaraan Piala Konfederasi 2001 karena Korea Selatan dan Jepang adalah tuan rumah, sekaligus Jepang adalah juara Asia 2000.

Sejauh ini, Jepang menjadi wakil Asia yang paling banyak bermain di Piala Konfederasi dengan lima kali. Arab Saudi berada di peringkat kedua dengan empat kali (tiga kali sebagai tuan rumah). Sementara itu, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Irak masing-masing pernah satu kali mewakili Asia di Piala Konfederasi.

Australia sendiri sudah tiga kali bermain di Piala Konfederasi. Tapi pada Piala Konfederasi 2017 ini adalah yang pertama bagi mereka untuk mewakili AFC karena sebelumnya mereka mewakili OFC.

Sampai saat ini, Piala Konfederasi masih dianggap sebagai kompetisi yang mewakili keseluruhan konfederasi (benua sepakbola) di dunia karena memiliki enam peserta dari masing-masing konfederasi (juara UEFA, CONMEBOL, CONCACAF, CAF, AFC, OFC) dan dua peserta yang merupakan tuan rumah Piala Dunia selanjutnya dan juara bertahan Piala Dunia sebelumnya.

Di Piala Konfederasi 2017, akan ada delapan negara yang terbagi ke dalam dua grup. Grup A berisi Rusia sebagai tuan rumah, Selandia Baru sebagai juara OFC Nations Cup 2016, Portugal sebagai juara Piala Eropa UEFA 2016, dan Meksiko sebagai juara Piala CONCACAF 2015. Kemudian Grup B berisi Kamerun sebagai juara Piala Afrika CAF 2017, Chile sebagai juara Copa América CONMEBOL 2015, Australia sebagai juara Piala Asia AFC 2015, dan Jerman sebagai juara Piala Dunia FIFA 2014.

Perwakilan ini dinilai sebagai "keadilan" di antara konfederasi-konfederasi, bahkan lebih adil daripada Piala Dunia yang bisa saja tidak memiliki wakil OFC karena juara kualifikasi OFC masih harus berhadapan dengan wakil CONMEBOL (peringkat kelima) atau Asia di babak play-off interkontinental untuk lolos ke putaran final Piala Dunia.

Tidak adanya wakil Asia di Piala Konfederasi adalah akibat dari faktor politik

Sejujurnya, FIFA sebagai federasi sepakbola dunia sudah mengatur Piala Dunia dan Piala Konfederasi sedemikian rupa sehingga membuat kesan seperti negara-negara di beberapa benua terkucilkan, termasuk di Asia.

Contohnya, UEFA (Eropa) memiliki 55 negara anggota dan CAF (Afrika) memiliki 54. Namun, UEFA mendapatkan jatah 13 wakil sementara CAF hanya lima di putaran final Piala Dunia (untuk jumlah peserta total adalah 32 negara). Senada dengan itu, CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Kepulauan Karibia) memiliki 35 negara anggota dan CONMEBOL (Amerika Selatan) memiliki sepuluh negara anggota, di mana kedua konfederasi tersebut mendapatkan jatah berturut-turut adalah 3,5 dan 4,5 di putaran final Piala Dunia.

AFC yang mewakili Benua Asia, di mana sepertiga populasi seluruh dunia ada di benua ini, memiliki 46 negara anggota. Tapi di putaran final Piala Dunia, mereka hanya memiliki empat wakil (kemungkinan maksimal adalah lima). Oseania (OFC) memiliki 11 negara anggota dan hanya memiliki jatah setengah wakil di putaran final Piala Dunia.

Kedua benua ini adalah benua yang dikucilkan di dunia sepakbola. Sebenarnya AFC dan OFC bisa saja bergabung, memiliki 57 negara anggota, dan pada akhirnya mendapatkan jatah lima wakil di Piala Dunia. Hal yang sama juga bisa terjadi bagi CONCACAF dan CONMEBOL.

Bahkan khusus untuk Indonesia, wacana Indonesia bergabung dengan OFC juga terus bermunculan, yang saya yakin akan mengakibatkan kemunduran sepakbola kita (pembahasan lebih lanjutnya mungkin bisa kita simpan untuk kesempatan lain). Tapi perpolitikan sepakbola tidak bisa semudah itu.

Buktinya saja, ketika Australia menjuarai Piala Asia 2015, beberapa negara teluk seperti Bahrain, Qatar, dan UEA (yang Australia kalahkan 2-0 di semi-final) menginginkan Australia keluar dari AFC. Menurut sebuah laporan di Fairfax, beberapa negara tersebut berkata bahwa "ada indikasi dari perkumpulan sepakbola negara-negara Asia Barat (WAFF) yang menginginkan menendang Australia dari AFC".

"Aku tahu bukan hanya (negara-negara) Arab yang tidak meyakini bahwa keanggotaan Australia di Asia adalah layak," kata Sheikh Salman Bin Ibrahim Al-Khalifa, presiden AFC, dikutip dari News.com.au. Singkatnya, ada yang tidak ikhlas dengan kesuksesan Australia di Asia.

Memisahkan sepakbola dari politik, untuk kemudian meninjaunya dari faktor geografis maupun geologis sebenarnya hal yang tidak disarankan.

Misalnya, Rusia dan Turki (keduanya anggota UEFA) memiliki sebagian besar negara mereka di Benua Asia, bahkan Israel (UEFA juga) sepenuhnya berada di Benua Asia. Menelaah faktor geologis, Benua Asia dan Eropa sebenarnya merupakan satu benua yang sama (Eurasia). Begitu juga dengan Kepulauan Falkland di Amerika Selatan yang secara politik dimiliki oleh Inggris, bisa saja menimbulkan perdebatan lainnya jika suatu saat Inggris memutuskan bergabung dengan CONMEBOL.

Memiliki jumlah populasi sepertiga dunia tidak lantas membuat Asia mendapatkan jatah yang lebih banyak di Piala Dunia cabang olahraga sepakbola, karena mungkin di cabang olahraga lain, hal berbeda yang akan berlaku.

***

Australia telah memilih jalan mereka untuk bergabung dengan Asia. Seperti yang Postecoglou katakan, dengan bergabung ke AFC, Australia memiliki tujuan agar AFC bisa memutus monopoli UEFA dan CONMEBOL di Piala Dunia. Tapi secara tidak langsung, mereka justru bermaksud melakukan monopoli di AFC, di benua yang seharusnya mereka tidak ikuti, secara geogfaris maupun geologis.

Tidak dipungkiri, sepakbola bukan urusan geografi atau geologi. Sepakbola justru lebih dekat kepada politik. Sehingga, adil ataupun tidak adil, hal ini yang membuat adanya wakil "Benua Asia" di Piala Konfederasi. Itu adalah fakta sepakbolanya.

Namun, jangankan Australia yang mewakili Asia atau tidak yang bisa diperdebatkan. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia yang seharusnya mewakili rakyat Indonesia saja, baik secara politik, geografis, maupun geologi, kadang tidak benar-benar mewakili rakyat Indonesia. Jadi, sepertinya memang tidak ada keadilan yang benar-benar hakiki di dunia ini, termasuk di Piala Konfederasi dan Piala Dunia, bahkan jikapun Piala Dunia memiliki 48 negara di putaran finalnya.

Ini semua sebaiknya bisa menyadarkan kita untuk bisa menilai segala urusan di dunia ini, bukan hanya urusan sepakbola, dari berbagai sudut pandang.


Baca juga topik lainnya mengenai sejarah keanggotaan AFC untuk Australia, dan kemungkinan Australia senior bergabung dengan AFF di Asia Tenggara: Mumpung Belum Ada Australia di Piala AFF...


Komentar