Dominasi Pemain Asing di Sepakbola Indonesia

Cerita

by redaksi 25245

Dominasi Pemain Asing di Sepakbola Indonesia

Pemain asing di kompetisi sepakbola Indonesia bukan lagi menjadi barang baru. Setiap musim, semua kontestan pasti memiliki pemain asing untuk menambah kekuatan tim mengarungi kompetisi. Di Liga 1 Indonesia 2017, kehadiran pemain asing begitu menggeliat. Jumlahnya terhitung puluhan, karena 18 kontestan memiliki pemain asing tiga sampai empat pemain.

Bila dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya, kehadiran pemain asing di sepakbola Indonesia mengalami perubahan yang signifikan, dengan keberanian klub menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan pemain kelas dunia. Dimulai dengan Persib Bandung, yang berhasil mendatangkan mantan bintang Chelsea, Michael Essien, yang kemudian langkah tersebut diikuti tim lainnya.

Wajar bila banyak klub yang akhirnya rela mengubah anggaran belanja pemainnya, karena setelah Persib mendatangkan Essien, PSSI memberlakukan kebijakan kepada semua kontestan yang mampu membeli pemain yang pernah mentas di kompetisi elite dunia, bisa memiliki empat pemain asing.

Hasilnya, fenomena marquee player pun merebak. Marquee player, merupakan label yang diberikan bagi para pemain asing yang pernah merumput di kompetisi elite dunia. Tidak semua pemain berstatus marquee player tenar di telinga publik sepakbola nasional. Namun, sebagian memang dikenal luas seperti Didier Zokora (Semen Padang), Mohamed Sissoko (Mitra Kukar), Peter Odemwingie (Madura Unted), dan tentunya Essien.

Lupakan sejenak soal fenomena marquee player, sebab menarik melihat kiprah seluruh pemain asing yang berlaga di Liga 1 Indonesia 2017. Melihat kiprah seluruh pemain asing, tampak mereka sangat menonjol. Terbukti sampai pekan keenam Liga 1 Indonesia, dari 120 gol yang tercipta, 63 di antaranya berasal dari aksi pemain asing. Sisanya, 57 gol berasal dari pemain lokal.

Dari daftar pencetak gol terbanyak sementara di Liga 1, pemain asing juga mendominasi. Ada tiga pemain asing seperti Hilton Moreira (Sriwijaya FC), Reinaldo Ellias (PSM Makassar), dan Odemwingie (Madura United) yang memuncaki daftar pencetak gol terbanyak sementara dengan lesakkan empat gol. Melihat hal tersebut, tentu bukan hal yang aneh lagi, karena memang dari setiap tahunnya pemain asing hampir selalu mendominasi terutama dalam perolehan gol.

Hampir di setiap musim, peraih gelar pencetak gol terbanyak selalu dihadiahi kepada pemain asing. Kebutuhan klub di Indonesia terhadap kehadiran pemain asing memang sudah tak terbantahkan lagi. Bahkan banyak klub yang memiliki kecenderungan untuk menempatkan pemain asing diposisi sentral. Rata-rata, pemain asing yang berkiprah di Indonesia berposisikan bek tengah, gelandang serang, dan penyerang.

Fenomena Pemain Asing Dimulai dari Kompetisi Galatama

Melihat fenomena kemunculan pemain asing di Indonesia, kita tidak bisa melepaskan kompetisi Galatama sebagai kompetisi saingannya Perserikatan. Antara Galatama dan Perserikatan, dibedakan melalui status profesional dengan amatir. Para kontestan Galatama umumnya dibiayai oleh perusahaan swasta, sementara klub Perserikatan seluruhnya didanai oleh Pemerintah setempat.

Jadi, bukan hal yang mengherankan bila fenomena pemain asing di Indonesia dimulai dari kompetisi Galatama. Fenomena tersebut muncul pada tahun 1979 hingga 1982. Hal tersebut membuat Kompetisi Galatama lebih menarik minat untuk disaksikan. Dari sekian nama pemain asing generasi pertama di Indonesia, terselip nama Fandi Achmad, yang merupakan legenda sepakbola Singapura. Fandi datang bersama koompatriotnya David Lee untuk membela Niac Mitra Surabaya.

Namun, fenomena pemain asing di sepakbola Indonesia kemudian terhenti pada tahun 1982, setelah Pemerintah melarang pemain asing berkiprah di Indonesia. Hal tersebut yang kemudian membuat para pemain asing yang sebelumnya berlaga di Kompetisi Galatama pun keluar dari Indonesia, termasuk Fandi dan David Lee.

Meski begitu, pada tahun 1994 pemain asing kembali diperbolehkan berlaga di Indonesia, seiring dengan dileburnya kompetisi Galatama dan Perserikatan menjadi Liga Indonesia. Saat itu, banyak sekali pemain-pemain asing berdatangan. Beberapa nama bahkan berstatus sebagai mantan pemain dunia seperti Roger Milla hingga Mario Kempes yang pada awal medio 1990-an pernah membela Pelita Jaya.

Persib Bandung yang Akhirnya Melunak

Meski pada tahun 1994 fenomena pemain asing di Indonesia semakin menggeliat, ada satu klub yang bersikap untuk tidak mengikuti arus saat itu. Mereka adalah Persib Bandung, juara Perserikatan terakhir musim 1993/1994. Ketika berlaga di Liga Indonesia I, banyak pihak meragukan Persib bakal mengulang kesuksesan mereka pada musim sebelumnya. Sebab, tidak ada pemain asing yang menjadi bagian dari skuat asuhan Indra Thohir itu.

Apalagi pada pertandingan perdananya mereka kalah 0-1 dari Peltia Jaya. Saat itu, Dejan Glusevic mencetak gol pada menit 60, yang kemudian membuat puluhan ribu bobotoh yang memadati Stadion Utama Senayan terdiam hingga 90 menit pertandingan.

Namun, Persib bisa membuktikan diri bahwa mereka bisa berprestasi. Secara bertahap, setelah dikalahkan Pelita Jaya, Persib berhasil lolos ke babak 8 besar. Satu kejadian unik pernah dialami Persib saat acara welcome party tim-tim 8 besar di Jakarta yang saat itu dihadiri oleh wartawan, pengurus PSSI, dan pihak sponsor. Sambutan untuk Persib sangatlah berbeda dibandingkan Pelita Jaya yang saat itu datang membawa Dejan, Maboang Kessack, dan Roger Milla mendapat sambutan luar biasa dari para tamu undangan. Begitu pula dengan Petrokimia yang membawa Jacksen Thiago dan Darryl Sinerine.

Sementara pada saat tim Persib diperkenalkan, para penonton hanya diam, tak ada tepuk tangan yang terdengar. Kemungkinan, saat itu mereka menganggap Persib hanyalah tim "penghibur" babak 8 besar. Maklum, selain tidak ada pemain asing, “Maung Bandung” juga berstatus sebagai satu-satunya alumnus Perserikatan yang melaju ke babak 8 besar.

"Waktu itu, saat perkenalan itu kami semua memakai batik. Mungkin saat itu undangan yang hadir menganggap kami sebagai tim Korpri. Ya, saat itu sakit sekali hati saya mendapat respon seperti itu. Kami mungkin dianggap ‘cacing cau’ [cacing saat itu. Tapi ya sudahlah, dari pada dianggap bagus tapi jelek kan akhirnya. Lebih baik seperti ini, karena kami bisa membuktikan diri," ucap Indra Thohir.

Bersambung ke halaman berikutnya, Persib Datangkan Trio Polandia dan Pemain Lokal yang Bisa Bersaing

Komentar