Menyiasati Pengeluaran Biaya Tim dengan Efisiensi Waktu a la Rene Alberts

Cerita

by Dex Glenniza 148027

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Menyiasati Pengeluaran Biaya Tim dengan Efisiensi Waktu a la Rene Alberts

Selama gelaran Piala Presiden 2017, salah satu kesebelasan dari grup 3 memilih untuk tidak tinggal di Bandung selama babak fase grup tersebut yang berlangsung selama kira-kira dua pekan. Kesebelasan tersebut adalah PSM Makassar.

Menempuh jarak Makassar-Bandung yang mencapai lebih dari 1300 km, manajer mereka, Robert René Alberts, malah membuat keputusan untuk selalu pulang-pergi Bandung-Makassar selama tiga pertandingan di grup tersebut. Padahal pihak panitia pelaksana Piala Presiden sudah menyediakan hotel secara gratis untuk dipakai oleh seluruh kesebelasan peserta Grup 3.

Kemudian kami pun penasaran, kenapa PSM Makassar memutuskan untuk tidak tinggal di Bandung selama Piala Presiden 2017? Apakah itu tidak malah melelahkan?

Coach René Alberts menjawab dengan jelas: “Tidak [melelahkan]. Aku pikir akan lebih melelahkan jika tinggal di sini (Bandung).”

Mencoba memahami perkataannya, semakin ia menyampaikan pengalamannya, semakin mengerti juga kami yang mewawancarai pelatih kelahiran Amsterdam tersebut.

“Anggap saja kami melibatkan 28 pemain, kemudian kami tinggal di hotel yang tidak sesuai standar, makanannya tidak bagus, fasilitas-fasilitasnya tidak bagus, lapangan latihan di Bandung, aku berbicara kepada staf pelatih, juga tidak bagus.”

Saat ditanya di mana lapangan latihan yang tidak bagus tersebut. Ia menjawab, “Aku tidak tahu di mana lapangannya. Tapi yang aku tahu itu sangat buruk, tidak rata,” lanjutnya. “Kemudian jika kami ingin latihan di stadion [Si Jalak Harupat], kami butuh setidaknya satu jam menuju ke stadion dan satu jam untuk kembali lagi.”

“Jadi, apa untungnya? Aku terbang satu jam (seharusnya dua jam –red) dan sudah bisa sampai ke Makassar. Di Makassar, kami memiliki lingkungan kami sendiri, para pemain merasa enak, [bisa bertemu dengan] keluarga mereka, mereka bisa lebih merasakan latihan di pra-musim.”

“Kemudian kami [bisa saja] tinggal di sini selama lebih dari dua pekan. Beberapa pemain jadi akan merasa lebih lelah dan butuh istirahat lebih dari satu pekan,” kata mantan pemain Clermont Foot tersebut.

Kemudian ketika ditanya apakah ia akan memberikan jatah para pemainnya untuk liburan setelah Piala Presiden, ia menjawab sambil bercanda: “Kami akan pergi ke Hawaii. (Staf kesebelasan menyambar: ‘terimakasih, coach’) Tapi hanya untuk pemain saja (bercanda dengan merujuk karena di situ ada staf kesebelasan yang menemani).”

“Setelah kami memainkan pertandingan ketiga [Grup 3], tim kedua kami, tim kami yang lain, bukan maksudku membuat ada tim pertama dan tim kedua, tim kami yang lain akan bermain juga di Makassar. Jadi kami butuh untuk lebih seimbang [untuk seluruh tim].”

“Sebaliknya hanya beberapa pemain saja yang bermain di sini. Jadi aku memakai semua pemain untuk membangun tingkat [permainan dan kebugaran] yang sama setiap waktu. Jadi mereka tidak akan kehilangan apa-apa, dan akan lebih seimbang.”

“Jika kami menetap di sini, kami tidak dapat melakukannya. Dan kamu lihat beberapa kesebelasan, mereka hanya bermain dengan pemain-pemain terbaik mereka. Mereka bahkan tidak merotasi pemain mereka yang lainnya. Itu bukanlah pra-musim. Jadi kamu akan membuat ketidakseimbangan sejak awal pra-musim jika melakukannya. Ini [adalah pra-musim yang] tidak benar.”

“Setidaknya di Makassar, semua pemain akan bermain. Tapi untuk pertandingan ini, [melawan Persiba Balikpapan] tim ini sudah melewati empat pekan pra-musim. Jadi kami akan bermain besok, akan mempertimbangkan pilihan tim terbaik kami, tapi tetap saja, beberapa pemain bagus kami besok juga akan bermain di Makassar.”

Bersambung ke halaman berikutnya...

Komentar