Florentin Pogba, Si Penyebar Aura Positif

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Florentin Pogba, Si Penyebar Aura Positif

Share the positive vibe, atau membagikan aura positif, adalah hal yang acap digaungkan oleh kawula muda di media sosial saat ini. Aura positif, seperti yang disebutkan oleh Rhonda Byrne dalam bukunya berjudul The Secret, akan menarik hal-hal positif yang ada di semesta mendekat kepada diri kita, sehingga jiwa dan raga kita akan dinaungi oleh aura positif. Itulah yang kerap dilakukan Florentin Pogba, kakak kandung dari Paul Pogba.

Florentin, bersama dengan Mathias dan Paul, adalah Pogba bersaudara yang tumbuh bersama dengan sepakbola. Walau sekarang mereka membela kesebelasan yang berbeda-beda (Paul di Manchester dan Mathias di Sparta Rotterdam), ada satu hal yang akhirnya tetap mengikat mereka walau sampai sekarang mereka tidak lagi berada di satu atap yang sama, yaitu sepakbola.

"Ketika kecil, kami sering bermain bersama di lapangan seberang rumah kami setiap waktu. Paul, walau ia berbeda usia dengan saya dan Mathias (Florentin dan Mathias kembar), kerap bermain bersama kami karena menurutnya hal itu jauh lebih menyenangkan. Sedari kecil, ia memang memiliki teknik yang bagus," ujar Florentin seperti dikutip dari The Guardian.

Sepakbola juga, yang kemudian mengantarkan Pogba bersaudara menjadi pribadi mereka sekarang.

Jalan Hidup yang Berbeda, Namun Tetap Satu Tujuan

Dalam upaya mereka menjadi pemain profesional, Florentin, Mathias, dan Paul menempuh jalan yang berbeda. Jika Paul belajar sepakbola dari Le Havre, lain hal dengan Florentin dan Mathias yang menimba ilmu di Celta Vigo ketika masih berusia 16 tahun. Paul belajar menendang bola di Prancis, sedangkan dua kakaknya belajar mengasah teknik sepakbola mereka di Spanyol.

Pun dengan posisi yang mereka bertiga ambil. Paul memilih untuk menjadi gelandang, Florentin menjadi seorang defender, sementara Mathias menjadi seorang penyerang. Beda posisi dan beda tempat menendang bola, tak serta merta menjadikan tujuan mereka yang paling utama terlupakan, yaitu menjadi seorang pemain profesional.

"Kami sudah berkorban begitu banyak dalam jalan kami menjadi seorang pemain profesional. Meninggalkan rumah ketika kami masih kecil adalah hal yang tidak mudah. Saya dan Mathias pergi ke Spanyol ketika masih berusia 16, pun dengan Paul yang memilih pergi ke Le Havre pada usia 16. Bukan hanya sulit bagi kami, hal itu juga sama sulitnya bagi kedua orang tua kami," ujar Florentin.

"Namun, setelah kami saling bicara, kami sadar bahwa tidak ada sesuatu yang bisa didapatkan dengan mudah. Butuh kerja keras untuk mencapainya," tambahnya.

Sekarang mereka semua sudah menjadi pemain profesional, sesuai dengan apa yang mereka tuju ketika muda. Paul merangkak naik dari Manchester, menuju ke Juventus, dan sekarang kembali ke Manchester. Florentin, walau harus menunjukkan kemampuan terlebih dahulu di Ligue 2, sekarang mulai menjadi aktor penting di lini pertahanan St. Etienne. Sedangkan Mathias, walau harus berpindah-pindah kesebelasan, sekarang mulai memantapkan diri membela Sparta Rotterdam.

Florentin, Si Penyebar Aura Positif

Di antara para Pogba bersaudara, Florentin dinilai oleh saudara-saudaranya merupakan pemain yang paling gila. Ini tak lepas dari kebiasaannya yang suka menari, dan juga kerap menebarkan aura positif, baik kepada saudaranya maupun kepada rekan-rekan setimnya.

"Florentin selalu mengawali latihan dengan mood yang baik dan selalu memiliki motivasi tinggi setiap kali menjalani latihan. Penting bagi sebuah tim untuk memiliki pemain sepertinya karena ia dapat menyebarkan aura positif kepada rekan satu tim. Ia menunjukkan keinginan yang tinggi untuk bermain dalam setiap pertandingan, tapi tak pernah mengeluh ketika tidak masuk starting line-up," ujar Jonathan Brison, pemain yang pernah satu tim dengannya di St. Etienne.

Aura positifnya yang begitu berlimpah ini, yang salah satu sumbernya berasal dari kebiasaannya yang senang menari dan bernyanyi, membuatnya acap tidak pernah ambil pusing akan omongan-omongan yang membandingkan dirinya dengan Paul. Hal ini pula yang membuatnya sama sekali tidak cemburu ketika saudaranya, Paul, sekarang mendapatkan perhatian yang lebih karena statusnya sebagai salah satu pemain termahal di dunia.

"Pasti akan ada omongan-omongan dari orang lain yang membandingkan diri saya dengan Paul. Tapi apakah itu mengganggu saya? Sama sekali tidak. Saya bangga dengan keluarga saya, dan hubungan kakak-adik di lapangan, terlepas dari apa yang kakak-adik tersebut capai di dunia sepakbola, adalah sesuatu yang wajar," ungkapnya.

Aura positif ini membuat Florentin menjadi pemain yang penuh dengan percaya diri. Kepercayaan dirinya ini pulalah yang membuatnya kerap bisa melewati berbagai rintangan dalam hidupnya, dan sekarang menjadi salah satu pemain kunci di kesebelasan Lugue 1, St. Etienne.

"Di antara kami, saya kira Florentin adalah yang paling gila," ujar Mathias.

Keinginan Berseragam Arsenal Kelak

Florentin tidak menampik kalau ia adalah suporter Arsenal, bahkan sejak ia masih kecil dulu. Ia mengidolakan The Invicibles, juga memiliki mimpi ingin berseragam Arsenal suatu saat nanti.

"Arsenal adalah kesebelasan yang ada di hati saya. Saya sudah mengidolakan mereka sejak lama, bahkan sejak masa The Invicibles dahulu. Semenjak saya menjadi pemain profesional, saya sudah jarang menonton pertandingan Arsenal. Tapi, saya harap suatu saat nanti saya bisa menonton langsung ke Emirates, pasti," ujar Florentin.

Dengan kemampuannya yang cukup baik sebagai pemain bertahan, bisa saja kelak Florentin tidak hanya menonton pertandingan Arsenal di Emirates, tapi ikut bermain sebagai salah seorang pemain bertahan The Gunners. Jika ia tetap bisa mempertahankan penampilannya seperti sekarang, bukan tidak mungkin pintu Stadion Emirates akan terbuka baginya kelak.

"Dalam dua tahun ke depan, saya meramalkan ia akan bermain dalam ajang Liga Champions," ujar Mathias.

Sumber: The Guardian, FourFourTwo

foto: @SquawkaNews

Komentar