Barcelona dan Skor 4-0 yang Pernah Dialami

Cerita

by Muhammad Firza Richsan 119398

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Barcelona dan Skor 4-0 yang Pernah Dialami

Paris Saint-Germain luar biasa! Secara tak terduga, anak asuh Unai Emery itu mengamuk ketika menghadapi Barcelona di pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions yang dimainkan pada Rabu (15/2/17) dini hari tadi. Bermain di depan public Parc des Princes, Les Parisiens mampu meluluhlantahkan tim asal Katalan tersebut dengan skor 4-0 via gol Julian Draxler, Edinson Cavani, juga dari Angel Di Maria dua kali.

Bagi Barcelona, kekalahan ini jelas jauh dari prediksi. Selain tampil dengan kekuatan penuhnya, termasuk dengan trio MSN: Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar, PSG pun --walau mampu menang dalam lima pertandingan terakhirnya di Ligue 1-- di musim ini sedang dalam fase yang tidak bagus-bagus amat jika dibandingkan dengan empat musim kebelakang.

Belum lagi didukung dengan catatan Emery yang baru pernah menang sekali dari Barca dalam 23 pertandingan sebelumnya. Juga dengan head-to-head dari lima pertandingan terakhir yang mempertemukan keduanya, yang di mana El Barca unggul tiga kali berbanding satu kali yang menjadi milik PSG (satu pertandingan lainnya berakhir imbang), membuat tim yang didirikan pada tahun 1899 itu diunggulkan pada pertandingan ini meskipun berstatus sebagai tim tamu.

Akan tetapi, prediksi hanyalah prediksi. Walau di atas kertas Barcelona menang, namun pada kenyataannya PSG unggul segalanya di atas lapangan. Hal itu pun diperparah dengan catatan Messi yang tidak berhasil sekalipun menyentuh bola di dalam kotak penalti PSG.

Bagi Luis Enrique, skor ini merupakan tamparan keras bagi dirinya. Karena dengan begitu, ia menjadi pelatih keempat Barca, setelah Johan Cruyff, Louis van Gaal, dan Tito Vilanova, yang pernah kalah dengan skor serupa saat menukangi Blaugrana di ajang kompetisi paling bergengsi di benua Eropa tersebut.

Dan berikut adalah tiga kekalahan lainnya yang pernah diderita oleh Barcelona dengan skor 4-0 di ajang Liga Champions:

Barcelona vs AC Milan ( Final 1994)

Partai final Liga Champions 1994 yang mempertemukan Barcelona dan AC Milan disebut-sebut sebagai partai puncak yang begitu diidamkan banyak orang. Maklum, ketika itu kedua kesebelasan berstatus sebagai yang terbaik di Eropa. Barcelona, yang saat itu dibesut oleh Johan Cruyff, dikenal sebagai tim yang mampu mempertontonkan sepakbola indah yang sungguh aduhai.

Mengusung gaya main Total Football, El Barca yang diisi oleh Hristo Stoichkov, Romario, Ronald Koeman, Jose Mari Bakero dan anak-anak dari akademi La Masia seperti Pep Guardiola, Albert Ferrer, dan Sergi Barjuan, mampu menghadirkan empat trofi La Liga secara berturut-turut dari tahun 1991 hingga 1994, juga satu trofi Liga Champions pada tahun 1992, ke Camp Nou.

Begitu pun dengan AC Milan, yang ketika itu dinakhodai oleh Fabio Capello --ditunjuk sebagai suksesor Arrigo Sachi pada tahun 1991, dikenal sebagai tim yang satu langkah lebih modern dibandingkan tim-tim Serie-A lainnya. Maklum, di saat kebanyakan tim lain masih bermain dengan sangat defensif, I Rossoneri sempat disulap oleh Sacchi menjadi tim yang mengusung strategi menyerang dengan mengandalkan umpan-umpan pendek cepat yang bertumpu pada lini tengahnya. Sama seperti Barca, Milan pun menjadi rajanya di Italia dengan keberhasilan meraih tiga trofi Serie-A secara berturut-turut dari tahun 1992-1994.

Menjelang laga final, Johan Cruyff sempat jumawa dengan menyebut Barcelona tak perlu latihan untuk menjadi juara. Terlebih Cruyff tahu ketika itu Milan tak bisa diperkuat oleh dua palang pintu andalannya, Franco Baresi dan Alessandro Costacurta, yang terkena akumulasi kartu kuning.

Namun apa mau dikata. Di pertandingan yang diberlangsungkan di Athena, Yunani itu, Barcelona justru dihajar dengan skor empat gol tanpa balas. Kekalahan via gol Dejan Savicevic, Marcel Desailly, dan dua gol dari Daniel Massaro itu pun menjadi kekalahan terbesar pertama Barcelona di sepanjang keikutsertaannya di ajang Liga Champions.

Barcelona vs Dynamo Kyiv (Fase Grup 1997)

Liga Champions musim 1997/98 menjadi salah satu musim terburuk bagi Barcelona dalam keikutsertaannya di ajang kompetisi yang dibentuk pada tahun 1955 itu. Tergabung di Grup C bersama PSV Eindhoven, Dynamo Kiev, dan Newcastle United, Blaugrana secara tidak terduga hanya mampu mengumpulkan lima poin saja dari enam pertandingan yang dijalaninya.

Diperkuat oleh Luis Figo, Pep Guardiola, Rivaldo, dan Luis Enrique, anak asuh Louis van Gaal ini sempat dijagokan menjadi salah satu kandidat peraih Si Kuping Besar. Wakil dari Ukraina, Dynamo Kyiv, menjadi mimpi buruk Barcelona di dalam grup ini. Pada pertemuan pertama di Kiev, Luis Figo dkk. dikalahkan dengan skor telak 3-0.

Komentar