Satu Tahun Nagelsmann Bersama Hoffenheim

Cerita

by Sandy Firdaus 29158

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Satu Tahun Nagelsmann Bersama Hoffenheim

Satu tahun yang lalu, atau tepat ketika Julian Nagelsmann pertama kali ditunjuk menjadi pelatih TSG 1899 Hoffenheim, klub ini berada dalam posisi yang tidak baik. Sekarang, semuanya sudah berubah.

Ekspektasi ketika ia pertama kali ditunjuk untuk menggantikan Huub Stevens yang menepi karena masalah kesehatannya tidaklah terlalu tinggi. Meloloskan Hoffenheim dari jerat degradasi adalah tugas yang harus ia emban saat itu, karena Die Kraichgauer berada di posisi 17 saat itu, begitu dekat dengan jerat degradasi.

Tapi tak disangka, setelah satu tahun menangani Hoffenheim, ia bukan saja membuat klub yang juga sempat dicap klub plastik tersebut lolos dari jerat degradasi. Ada sebuah perubahan lain yang dibawa oleh pelatih yang sekarang berusia 29 tahun ini ke tubuh Hoffenheim, beserta catatan-catatan manis yang ia torehkan sepanjang satu tahun ini.

Per Musim 2016/2017, Hanya Mencatatkan Satu Kali Kekalahan di Bundesliga

Awal musim 2016/2017, Nagelsmann kembali dipercaya untuk menangani Hoffenheim. Catatan luar biasa saat ia sukses mengeluarkan Die Kraichgauer dari zona degradasi menjadi pertimbangan tersendiri dari manajemen klub untuk tetap mempertahankannya.

Hasilnya, Nagelsmann menjawab kepercayaan tersebut dengan penampilan mengesankan. Sepanjang 19 pertandingan yang sudah Hoffenheim lakoni di Bundesliga 2016/2017, mereka baru kalah sekali dari RB Leipzig. Sejauh itu mereka belum pernah mencicipi kekalahan, bahkan dari Bayern München sekalipun.

Berkat capaian ini, sampai sekarang Hoffenheim masih mampu bersaing di papan atas Bundesliga. Mereka sekarang menduduki posisi lima, dan hanya memiliki beda sedikit poin saja dari peringkat ketiga, Eintracht Frankfurt. Jika saja penampilan seperti ini terus dipertahankan, bukan tidak mungkin mimpi Nagelsmann untuk tampil dalam ajang Liga Champions akan segera menjadi kenyataan.

Permainan Ciamik yang Mungkin Kelak Menginspirasi Klub Lain

Dilansir The Guardian, Nagelsmann mengakui bahwa ia mengidolakan sosok Ralf Rangnick, yang sekarang menjadi direktur olahraga RB Leipzig. Rangnick sendiri pernah menjadi pelatih Hoffenheim pada kisaran 2006 sampai 2011, dan berhasil membuat Hoffenheim menjadi kesebelasan yang cukup disegani di Bundesliga pada musim 2008/2009, sebelum alasan personal (ia merasa tidak diberitahu ketika Luiz Gustavo dijual ke Bayern) membuatnya hengkang dari Hoffenheim.

"Rangnick, yang sekarang berada di Leipzig, memainkan sepakbola yang menarik. Ketika mereka kehilangan bola, mereka langsung menciptakan situasi khusus agar bola kembali kepada penguasaan mereka, salah satunya dengen menekan pemain dalam situasi berbahaya. Inilah yang sedikitnya memengaruhi gaya bermain saya," aku Nagelsmann.

Melihat apa yang ia terapkan sekarang di Hoffenheim, tak heran jika gaya sepakbola Rangnick ini begitu memberikan pengaruh yang besar dalam strategi yang ia terapkan. Pressing ketat a la RB Leipzig ia terapkan, tapi Nagelsmann juga tidak lupa untuk menyesuaikan diri dengan tim-tim lawan, yang tak jarang bermain lebih ke dalam.

Gaya inilah yang membuat Hoffenheim begitu fleksibel dalam segi taktik. Bermain dengan skema tiga, empat, bahkan lima bek sekalipun, mereka akan bisa menjalankannya. Gaya inilah, kelak, yang juga mungkin akan menginspirasi pelatih-pelatih klub Bundesliga yang lain.

Mengorbitkan Pemain-Pemain

Selain sukses menerapkan taktik yang ciamik, Nagelsmann juga secara tidak langsung berhasil mengorbitkan beberapa pemain di bawah asuhannya. Naiknya penampilan para pemain ini tak lepas dari skema yang diterapkan Nagelsmann yang membuat pemain-pemain ini dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Niklas Süle, Sebastian Rudy, dan Sandro Wagner menjadi pemain-pemain yang mulai terlihat kemampuannya di bawah asuhan Nagelsmann. Wagner, yang mulai kembali naik penampilannya ketika membela SV Darmstadt, semakin membaik penampilannya saat ditangani oleh Nagelsmann. Musim 2016/2017 ini, pemain akademi Bayern ini sudah mencetak 10 gol dalam 19 laga Bundesliga yang sudah dijalani.

Sementara itu, bagi Rudy dan Süle, penampilan mengesankan mereka di posisi mereka masing-masing (gelandang tengah dan bek tengah) membuat mereka akhirnya dilirik oleh Bayern dan akan segera berseragam Die Roten musim 2017/2018.

Niklas Süle dan Sebastian Rudy, dua pemain yang bersinar di bawah asuhan Nagelsmann

Selain mampu menyajikan permainan ciamik, ia juga mampu membuat pemain-pemain di bawah asuhannya bersinar dan sampai dilirik klub lain. Ini adalah nilai lebih tersendiri dari seorang Nagelsmann.

***

Waktu memang kerap berlalu begitu cepat, dan lajunya kadang tidak terlalu terasa. Sudah satu tahun Nagelsmann di Hoffenheim, dan sudah banyak yang ia torehkan di sini. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Dietmar Hopp, financial backer Hoffenheim, akan ada masa ketika klub ini menjadi terlalu kecil untuknya, dan ia harus pindah ke tempat besar. Ancelotti bahkan sudah mengungkapkan bahwa ia ingin pelatih yang juga memiliki julukan "Baby Mourinho" ini menjadi suksesornya kelak.

Masa Nagelsmann di sepakbola masih panjang. Usianya juga masih 29 tahun. Masih akan ada banyak pengalaman dan kisah yang ia dapatkan kelak. Tapi, seperti yang diungkapkan Hopp, jangan heran jika di masa depan nanti, Nagelsmann akan menjadi pelatih klub besar, karena memang ia punya kemampuan untuk melakukan itu.

Happy one year, Julian!

Sumber lain: bundesliga.com

foto: @NaszFutbol

Komentar