Greater London atau London has Fallen?

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Greater London atau London has Fallen?

Ibu kota adalah pusat dari semua aktivitas sebuah negara. Ia adalah pusat dari keramaian, kekalutan, kebisingan, sejarah serta kuasa dalam satu negara, tak terkecuali London, Inggris.

Segala yang berhubungan dengan sejarah Inggris maupun Inggris Raya, serta segala pusat kekuasaan dan keramaian daerah tersebut saat ini adalah London. Pada abad ke-19, nama "London" merupakan sebuah rujukan dari wilayah-wilayah metropolitan di Inggris yang tersebar mulai dari Middlesex, Essex, Surrey, Kent, dan Hertfordshire. Wilayah-wilayah itu adalah cikal bakal dari London yang kita kenal sekarang, yang juga kerap disebut sebagai "Greater London".

Karena sejarahnya sebagai wilayah metropolis, juga dengan banyaknya pergolakan di masa lampau yang kerap terjadi di daerah tersebut, maka dijadikanlah London sebagai ibu kota negara Inggris. Kuasa-kuasa yang berkaitan dengan negara Inggris, bahkan Britania Raya dan Inggris Raya, berpusat di kota ini. Segala keramaian wilayah Inggris Raya pun ada di London, seperti yang diujarkan oleh pemain Arsenal, Alexis Sanchez.

Dengan segala kuasa yang ada di sini, maka tak heran London menjadi kiblat tersendiri bagi Inggris dalam berbagai hal, termasuk sepakbola.

Banyaknya Klub Sepakbola di London, Tapi Sedikit yang Berprestasi

Membicarakan tentang klub-klub London yang berkompetisi di liga sepakbola Inggris, London merupakan kota yang menyumbangkan total klub terbanyak yang berkompetisi di liga sepakbola Inggris melebihi kota-kota lainnya. Inilah yang membuat pusat sepakbola Inggris, selain tersebar ke beberapa daerah lain di Inggris macam Liverpool atau Manchester, juga terletak di kota London.

Tercatat ada 13 tim yang berkompetisi di liga sepakbola profesional Inggris yang berasal dari kota London, dengan rincian lima klub bermain di kompetisi Liga Primer dan delapan klub bermain di kompetisi Football League. Beberapa klub dari London, semacam Arsenal, Chelsea, Tottenham Hotspur, Crystal Palace serta West Ham menjadi klub yang mewakili supremasi London, ibu kota Inggris, dalam kompetisi liga sepakbola di Inggris, tak terkecuali Liga Primer.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, harus diakui bahwa rongrongan dari klub-klub di luar kota London seperti dari Manchester maupun dari Liverpool cukup tinggi. Nama-nama seperti Liverpool, Manchester United, maupun Manchester City kerap mengganggu supremasi klub London dalam ajang Liga Primer. Bahkan pada musim 2015/2016, sebuah klub dari kota Leicester, wilayah East Midlands, bernama Leicester City sukses menjadi juara, mengalahkan dua klub asal kota London (Arsenal dan Tottenham Hotspur).

Hal ini tentu menjadi noda tersendiri bagi klub-klub asal London. Sejak 2009/2010 sampai terakhir musim 2015/2016, tercatat gelar juara hanya mampir dua kali ke London, yaitu ke Chelsea pada 2009/2010 dan 2014/2015. Sisanya trofi Liga Primer, lambang supremasi sepakbola Inggris, lebih banyak mampir di Manchester, bahkan sekali mampir ke East Midlands, Leicester. London pun dianggap tidak lagi menjadi wilayah pusat kuasa sepakbola Inggris, walau kota ini memiliki banyak klub sepakbola yang berkompetisi di Liga Primer.

Tapi pada musim 2016/2017 ini, mungkin saja peruntungan itu akan berubah.

Saat Klub-Klub London Menguasai Tiga Besar Papan Atas Klasemen

Sebenarnya kejadian klub London menguasai papan atas ini sudah terjadi sejak musim 2015/2016. Ketika itu Tottenham Hotspur dengan konstan membuntuti Leicester City. Peringkat akhir klasemen Liga Primer musim 2015/2016 pun menunjukkan bahwa ada dua wakil dari London di sana, yaitu Arsenal (peringkat dua) dan Tottenham Hotspur (peringkat ketiga). Tapi pada waktu itu, mereka tidak mampu menghentikan kekuatan Leicester yang pada akhirnya menjadi juara liga.

Musim 2016/2017 sekarang, klub-klub London mulai tampil prima seiring sedikit menurunnya penampilan duo Manchester dan Liverpool dalam ajang Liga Primer. Manchester United dan Manchester City masih harus menyesuaikan diri dengan manajer baru, sedangkan Liverpool mulai kesulitan saat para pemainnya tampak terlihat lelah mempraktekkan gegenpressing a la Jürgen Klopp.

Saat klub-klub tersebut turun, klub-klub London mulai naik. Pochettino bersama Spurs dengan counterpressing-nya. Chelsea bersama Antonio Conte dengan skema tiga beknya. Arsene pun mulai nyaman melihat Mesut Özil dan Alexis Sanchez mampu mendorong Arsenal ke level permainan yang lebih baik.

Hasilnya, setidaknya sampai pekan ke-22, tiga klub London menghuni papan atas klasemen Liga Primer. Chelsea berada di peringkat pertama, diikuti Arsenal dan Spurs masing-masing di peringkat dua dan tiga. Supremasi sepakbola Inggris, sementara ini, kembali ke wilayah "Greater London".

***

Pergolakan kuasa di Inggris Raya, termasuk dalam bidang sepakbola, memang cukup panas. Kuasa dapat silih berganti, dan kuasa yang saat ini dimiliki London bisa saja kelak berpindah lagi ke kota lain jika klub-klub London ini tidak waspada dan tidak melakukan sesuatu untuk mempertahankan tampuk kekuasaan mereka. Itu yang bisa saja terjadi kepada Chelsea, Arsenal, dan Spurs nanti.

Tapi menonton pergolakan kuasa di Inggris Raya itu asyik, dan faktor itulah yang menjadi salah satu faktor kenapa Liga Primer banyak ditonton oleh orang-orang. Hari ini Anda di atas, besok hari Anda bisa saja menjadi pihak yang terdampar di bawah.

Jika situasi ini bertahan hingga akhir musim, maka musim ini bisa dilabeli dengan Greater London, London yang lebih hebat dari kota-kota lain. Namun jika pada akhirnya tak ada kesebelasan London yang juara, mungkin musim ini layak disebut London has Fallen.

foto: publicdomainpictures.net

Komentar