Arsene dan Barton Tak Bisa Bersatu

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Arsene dan Barton Tak Bisa Bersatu

Tulus, dalam salah satu lagunya berjudul Sepatu, mengungkapkan bahwa cinta itu banyak bentuknya, mungkin tak semua bisa bersatu. Memang, ketertarikan atau rasa suka kepada seseorang tidak selamanya mewujud menjadi sebuah hubungan harmonis yang begitu diharapkan dalam benak. Arsene Wenger dan Joey Barton tahu betul akan hal tersebut.

Kehilangan Patrick Vieira pada 2005 silam adalah sebuah kehilangan besar bagi Arsene Wenger. Mobilitas lini tengah Arsenal mendadak hilang. Orang yang biasanya tidak ragu untuk bertarung dengan gelandang lawan (bahkan Vieira dikenal karena persaingannya dengan Roy Keane) itu memilih untuk menyeberang ke Juventus. Arsenal dan Arsene pun bingung mencari siapa pengganti Vieira ini.

Beberapa nama pun diajukan sebagai pengganti Vieira. Dari semua yang diajukan, ternyata ada nama Joey Barton di situ. Joey sendiri saat itu masih berusia 23 tahun dan penampilannya bersama Manchester City terbilang cukup menjanjikan untuk gelandang yang masih berusia muda. Ia juga adalah pemain yang tidak segan beradu fisik dengan lawan, mirip dengan Patrick Vieira.

Penampilan Barton bersama City yang spartan, terutama pada 2006 ketika ia mampu mencetak gol ke gawang Arsenal, membuat Arsene sempat jatuh hati kepadanya. Secara blak-blakan, saat itu, ia mengutarakan keinginannya untuk mendapatkan pemain yang juga sempat membela timnas Inggris U-21 pada 2003 ini.

"Saya suka Joey Barton. Tapi saya tidak ingin mengganggu proses negosiasi yang sedang ia lakukan bersama manajemen City. Biarkan ia memilih ke mana ia akan berlabuh selanjutnya," ujar Wenger saat itu.

Namun, keinginan Wenger ini tidak bersambut karena Barton lebih memilih untuk memperpanjang kontrak dengan City sebelum akhirnya memutuskan hengkang dari The Citizens dan membela Newcastle United pada 2011. Cinta Wenger kepada Joey bertepuk sebelah tangan.

Walau harapan dari Wenger tetap ada, tapi waktu, dengan tangan dinginnya, mengubah seseorang, juga mengubah perasaannya.

Kartu Merah yang Menjadi Awal Dari Kisah yang Tak Akan Pernah Terjadi

Barton dan Wenger pun tidak jadi bersatu pada 2006 silam. Mereka memilih jalan mereka masing-masing. Joey di Newcastle, sementara Arsene tetap betah memanajeri Arsenal. Jalan takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah pertemuan yang akan dikenang sebagai pertempuran sengit antara The Gunners dan The Magpies.

Skor akhir 4-4. Tak ada yang menang dalam pertandingan tersebut. Tapi pertemuan itu mengubah hubungan Joey dan Arsene, bahkan untuk selamanya.

Joey bermain gemilang dalam pertandingan itu, mencetak dua gol dari empat gol yang dicetak oleh Newcastle. Ia juga tak segan untuk menghentikan serangan-serangan Arsenal dengan keberaniannya yang sudah terkenal sejak ia masih muda. Dengan permainannya yang keras ini, ia pun kerap bersitegang dengan pemain Arsenal lain. Alex Song, Gervinho, dan Abou Diaby adalah salah tiga pemain yang bersitegang dengan Joey dalam pertandingan tersebut.

Perseteruan Barton dengan ketiga pemain ini, yang berujung kepada di kartu merah, membuat ketertarikan Arsene hilang kepada Barton. Ia menyesalkan tindakan Barton yang mengakibatkan dua pemain andalannya harus keluar dari pertandingan tersebut, sementara ia sendiri selamat dengan kartu kuning dalam insiden dengan Abou Diaby.

"Saya ingat insiden yang sama yang terjadi antara dirinya dengan (Abou) Diaby pada musim lalu. Ketika itu ia selamat dan hanya mendapatkan kartu kuning. Musim ini ia kembali mengalami hal yang sama, selamat dan mendapatkan kartu kuning. Tapi saya tidak ingin berkomentar lebih, karena saya kira orang-orang pun tahu betul bahwa ia tidak perlu berbaring selama itu di lapangan hanya karena sentuhan ringan," ujar Wenger saat itu.

Joey pun membela diri, mengatakan bahwa itu adalah hal yang harus ia lakukan sebagai bentuk kontribusinya terhadap tim yang ia bela.

"Saya memang jatuh dengan mudahnya, itu benar. Tapi bukankah lebih baik seperti itu daripada saya berdiri dan beradu jotos dengannya? Lagipula Anda harus melakukan yang terbaik untuk tim. Inilah yang saya lakukan. Buat apa membiarkan Gervinho tetap berada di lapangan," jawab Joey.

Setelah kejadian tersebut, rasa ketertarikan Arsene perlahan memudar kepada Barton, membuat pemain ini akhirnya membela Queens Park Rangers, Marseille, Burnley, Glasgow Rangers, dan kembali lagi ke Burnley.

Barton dan Wenger tidak pernah jadi untuk bersatu.

***

Sekarang, dengan kembalinya Barton ke Burnley, ia akan kembali bertemu dengan Arsene setelah sekian lama. Memori tentang ketertarikan itu jelas ada, dan itu diakui oleh kedua belah pihak.

"Saya mengakui saya pernah mengontak Joey beberapa kali di masa lalu, tapi saya juga tak mengerti kenapa kami tak kunjung mengontraknya. Mungkin karena segala hal yang telah terjadi antara Arsenal dan dirinya mengubah pandangan saya terhadap dirinya, dan saya pun berpikiran untuk tidak akan pernah mengontraknya lagi," ujar Wenger.

"Saya akhirnya harus pergi ke QPR, bukan ke Arsenal. Saya kira kejadian ketika saya di Newcastle mengubah segalanya, walau saya tahu mereka tertarik kepada saya," ujar Joey.

Segala cerita tentang Wenger dan Barton pada akhirnya akan menjadi masa lalu. Walau mereka saling tertarik satu sama lain, pada akhirnya mereka tidak bisa bersatu, seperti yang Tulus ungkapkan dalam lagunya dan tercantum pada awal tulisan ini.

"Cinta memang banyak bentuknya, mungkin tak semua bisa bersatu"

Sumber: Independent, Sky Sports

foto: @TheSunFootball

Komentar