Ketenangan Tuchel, Harapan Baru Dortmund

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Ketenangan Tuchel, Harapan Baru Dortmund

Thomas Tuchel menjadi sasaran empuk kritik pada paruh pertama Bundesliga 2016/2017. Hal ini tak lepas dari Dortmund yang sekarang duduk di peringkat keenam, kalah bersaing dengan Bayern München, bahkan juga dengan nama baru semacam RB Leipzig.

Tuchel sebenarnya mampu membuat Borussia Dortmund mampu menempel ketat Bayern München pada Bundesliga musim 2015/2016 silam. Peringkat dua Bundesliga (hasil dari persaingan ketat dengan Bayern) serta babak delapan besar Liga Europa 2015/2016 (sebelum dikalahkan oleh Liverpool) adalah raihan Tuchel pada musim tersebut.

Tapi itu masa lalu. Sekarang, di saat kontestan-kontestan Bundesliga yang lain mulai berbenah, Dortmund malah mengalami kesulitan. Banyak yang berpendapat mengenai kesulitan yang dialami Dortmund ini. Mereka menyambungkannya dengan kepergian tiga pilar utama musim 2015/2016, yaitu Mats Hummels, Henrikh Mkhitaryan, dan Ilkay Gündogan. Ada juga yang menyebut bahwa hal fundamental dalam diri Dortmund hilang, yaitu semangat pekerja yang pernah muncul begitu kuat pada masa Hitzfield dan Klopp.

Kekhawatiran pun menyeruak di antara para pendukung Dortmund, ditambah lagi dengan hubungan Tuchel yang sempat tidak harmonis dengan beberapa manajer klub lain serta pendukung Dortmund sendiri. Namun seusai latihan winter break yang dilakukan di Andalusia, Spanyol, ada perubahan yang tampak dari diri Tuchel.

Perubahan inilah yang menjadi harapan tersendiri bagi Dortmund.

***

Sebelum memasuki akhir tahun, wajah Tuchel tampak begitu kusut. Kekusutan wajah Tuchel ini bisa dimaklumi karena aura-aura negatif yang menaungi dirinya dan juga Signal Iduna Park. Tapi dalam sebuah wawancara khusus dengan Raphael Honigstein di Marbella, Andalusia, Spanyol, tampak wajah Tuchel yang sudah lebih memancarkan aura ketenangan.

Bersama Honigstein, ia bicara banyak hal. Ia mengaku sempat kecewa kerap dibanding-bandingkan dengan sosok Jürgen Klopp. Perlahan, takdir itu mulai ia terima dengan lapang dada dan ia mengaku itu adalah risiko tersendiri saat ia mengambil pekerjaan sebagai pelatih Borussia Dortmund. Ia juga bicara tentang kekecewaannya kala ditinggal para pemain andalannya, walau akhirnya ia juga merelakan pemain-pemain andalannya pergi.

"Ada beberapa hal buruk yang saya alami di Dortmund, salah satunya adalah dibanding-bandingkan dengan Klopp. Itu adalah hal yang harus saya terima di sini," ujar Tuchel.

"Selain itu saya juga kecewa dengan perginya pemain-pemain bintang. Kami begitu gigih mengejar Bayern München musim lalu, tapi entah kenapa tiba-tiba pemain andalan kami pergi (Mats, Ilkay, dan Micki). Sekarang tak ada yang bisa kami lakukan selain pasrah, dan berusaha memanfaatkan kemampuan pemain-pemain yang kami beli. Semua butuh proses, tapi saya lebih tenang sekarang," tambahnya.

Selain kepasrahannya akan apa yang sudah terjadi, ia juga begitu tenang dalam mengungkapkan apa yang menjadi tujuan mereka pada 2017 ini. Intensitas Bundesliga yang tinggi diakui Tuchel tidak akan mengaburkan tujuan yang ia tetapkan pada 2017 ini, yaitu minimal masuk posisi Liga Champions, maksimal menjadi juara Bundesliga.

"Saya akui kalau para pemain saya memang cukup sulit untuk mengikuti kerasnya intensitas dari Bundesliga sekarang, bahkan hal ini juga terjadi kepada para pemain yang lama berkompetisi di Bundesliga seperti Mario Götze dan Andre Schürrle. Walau ini terjadi, tapi target kami tetap, meraih posisi tertinggi pada musim 2016/2017, bahkan kalau bisa menjadi juara," ucap Tuchel mantap.

***

Dengan perasaan Tuchel yang lebih tenang, dan tidak terlalu berapi-api seperti ketika paruh pertama, Dortmund siap menghadapi paruh kedua Bundesliga 2016/2017 dan juga Bundesliga musim-musim selanjutnya. Ketenangan Tuchel ini akan membuatnya lebih terbuka terhadap ketatnya kompetisi Bundesliga, dan tidak banyak marah-marah lagi.

Tidak dimungkiri bahwa lawan-lawan Dortmund akan terus berkembang, seperti yang terjadi kepada TSG Hoffenheim, RB Leipzig, Hertha Berlin, dan Eintracht Frankfurt sekarang. Alasan-alasan seperti perginya pemain kunci sudah bukan lagi menjadi alasan yang relevan untuk penurunan penampilan Dortmund. Tuchel sekarang tahu itu. Kesadarannya akan tekanan ini telah perlahan mengubahnya menjadi lebih tenang dan rileks.

Namun jika kelak pada paruh kedua musim Bundesliga Tuchel kembali ngamuk-ngamuk dan ngadat-ngadat, masalah yang dialami Dortmund mungkin bukan hanya sekedar kehilangan pemain kunci saja. Kapabilitas Tuchel untuk melatih klub besar dan penuh sejarah seperti Borussia Dortmund perlu dipertanyakan. Jika tidak mampu menghadapi tekanan dari suporter Dortmund, bagaimana bisa ia bisa menghadapi tekanan dari manajemen Real Madrid, kelak?

Sumber lain: ESPN FC

Komentar