Pintu ke Mana Saja Bernama Piala Afrika

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Pintu ke Mana Saja Bernama Piala Afrika

Jika alat-alat Doraemon itu memang nyata dan benar adanya, sebuah alat bernama Pintu Ke Mana Saja mungkin akan menjadi salah satu alat yang mungkin akan diharapkan oleh banyak orang.

Di antara alat-alat ajaib yang ada di kantung milik Doraemon, Pintu Ke Mana Saja merupakan alat yang fungsinya memang cukup dekat dengan kehidupan manusia masa kini. Fungsinya yang dapat menghubungkan satu tempat dengan tempat lain dengan kecepatan 100.000 tahun cahaya membuat perjalanan ke mana saja akan terasa lebih mudah dan dekat. Dalam serial film Doraemon, alat ini sudah membawa Doraemon dan Nobita ke mana saja, sesuai dengan nama alatnya.

Untuk wujudnya sendiri, orang lazim mengenal Pintu Ke Mana Saja ini sebagai sebuah pintu berwarna merah muda. Tapi sebenarnya, wujud dari Pintu Ke Mana Saja ini bermacam-macam. Jika dikaitkan dengan zaman sekarang, ia bisa berbentuk Internet, TV, radio, dan bisa juga berwujud sebagai sebuah turnamen bernama Piala Afrika. Loh?

Piala Afrika adalah ajang dua tahunan yang penyelenggaraannya dimulai pada Februari 1957. Diprakarsai oleh empat negara pendiri CAF (konfederasi sepakbola Afrika) yaitu Sudan, Ethiopia, Mesir, dan Afrika Selatan, sampai sekarang Piala Afrika, atau yang memiliki nama lain AFCON (singkatan dari African Cup of Nations) sudah melahirkan berbagai juara serta cerita di setiap penyelenggaraannya.

Piala Afrika, selain sebagai pesta sepakbola (dalam hal ini pesta sepakbola lokal para warga negara di benua Afrika), ternyata dapat berfungsi juga sebagai Pintu Ke Mana Saja bagi Anda. Ia akan membawa Anda untuk mengenal Afrika lebih dalam. Ia juga akan membawa Anda ke Afrika dan membawa Anda mengenal lebih dekat tentang Afrika.

Ternyata, tak semua tentang Afrika berkaitan dengan hal-hal manis.

Keterbelakangan di Afrika Lewat Klenik dan Okultisme

Berfungsi sebagai Pintu Ke Mana Saja, Piala Afrika akan membawa Anda menyaksikan sebuah keterbelakangan yang masih terjadi di sebagian negara di Afrika. Keterbelakangan ini muncul dalam beragam bentuk, dan yang cukup menonjol adalah dalam penggunaan klenik dan kepercayaan masyarakat yang masih begitu tinggi terhadap hal-hal berbau okultisme.

Praktik-praktik klenik dan okultisme ini, selain juga sempat marak terjadi dan cukup dipercayai di Indonesia, ternyata masih terjadi di Afrika. Yang terbaru adalah ketika salah seorang pemain yang berkompetisi di Liga Primer Rwanda, Moussa Camara, mampu mencetak gol ke gawang lawan setelah tertangkap seperti menyimpan (atau membuang) sebuah jimat ke gawang lawan.

Bukan hanya di kompetisi lokal, praktik klenik dan okultisme ini juga ternyata pernah terjadi dalam kompetisi sebesar Piala Afrika. Kejadiannya terjadi pada Piala Afrika 2002, ketika pelatih Kamerun saat itu, Winfried Schafer, dan asistennya, Thomas Nkono, tertangkap oleh pihak kepolisian Mali menyimpan jimat di atas lapangan yang menjadi venue semifinal Piala Afrika yang mempertemukan Kamerun dan Mali.

Perihal praktik klenik ini, CAF pun mengungkapkan bahwa itu secara tidak langsung merusak citra Afrika di mata dunia. Sedangkan Jimmy Mulisa, pemain dari Afrika yang pernah membela timnas Rwanda, mengutarakan bahwa praktik-praktik klenik dan okultisme inilah yang membuat sepakbola Afrika jalan di tempat.

"Kami tidak ingin lagi melihat praktik-praktik klenik di atas lapangan. Citra kami di dunia menjadi rusak karena hal tersebut," ujar juru bicara CAF.

"Saya merasa sedih ketika melihat kenyataan bahwa hal-hal semacam ini (praktik klenik) masih terjadi. Secara tidak langsung, hal ini menghambat kemajuan dari sepakbola Afrika," papar Mulisa.

Situasi Politik Afrika yang Kerap Panas

Selain membawa kepada situasi keterbelakangan yang masih terjadi di Afrika, Pintu Ke Mana Saja yang berwujud Piala Afrika juga akan membawa Anda kepada Afrika yang situasi politiknya kerap panas.

Panasnya situasi politik di Afrika ini bisa Anda lihat dari pemimpin-pemimpin diktator yang pernah dan sampai sekarang masih memimpin negara di Afrika, juga situasi negara yang kerap memanas. Di Mesir, dulu ada nama Husni Mubarok. Sekarang, di Gambia ada nama Yahya Jammeh yang menjadi diktator, dan sempat akan mengeksekusi Imam Baba Leigh, aktivis Muslim. Libya bahkan sempat gagal menjadi tuan rumah karena perang sipil yang melanda negeri mereka.

Jelang Piala Afrika 2017, Gabon yang merupakan negara tuan rumah juga dirundung situasi politik yang memanas. Usai pemilihan presiden di sana, yang memenangkan nama Ali Bongo, protes pun pecah. Banyak orang menilai kemenangan Bongo ini diraih secara tidak jujur, sehingga mereka tidak menerima kemenangan Bongo. Situasi di Gabon sedikit memanas dan hal ini sempat mengancam perhelatan Piala Afrika 2017.

Sekedar informasi, Afrika Selatan pun sempat tidak diperbolehkan ikut Piala Afrika akibat politik apartheid yang mereka terapkan dahulu kala.

Wabah Penyakit di Afrika

Pintu Ke Mana Saja yang berwujud Piala Afrika ini juga akan mengantarkan Anda kepada sebuah hal lain yang tidak kalah menyedihkannya; wabah penyakit. Ini adalah hal yang kerap terjadi di Afrika.

Kondisi cuaca yang ekstrem, serta kemiskinan yang banyak melanda warga-warga yang tinggal di benua Afrika membuat penyakit begitu cepat menyebar. Salah satunya adalah virus Ebola yang sempat menggemparkan tidak hanya Afrika, bahkan dunia. Penyakit Ebola bahkan sampai gelaran Piala Afrika 2017 masih menjadi ancaman tersendiri bagi para pemain yang akan bermain di dalamnya.

Itu baru Ebola. Belum lagi dengan penyakit-penyakit lain yang memang kerap hadir di tengah kemiskinan warga-warga Afrika dan cuaca ekstrem di sana.

***

Dengan Pintu Ke Mana Saja, kita memang bisa pergi ke mana saja. Kita bisa pergi ke tempat yang ingin kita tuju dengan hanya membayangkannya. Tapi di satu sisi, pintu ini juga bisa menjadi pintu yang mengantarkan kita kepada sebuah realita yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Piala Afrika adalah Pintu Ke Mana Saja yang semacam itu.

Piala Afrika mengantarkan kita kepada sebuah fakta miris bahwa Afrika, walau banyak pemain dari Afrika yang bermain di liga top Eropa, masihlah menjadi benua yang berisikan negara-negara yang miskin, terbelakang, dan membutuhkan bantuan. Beruntung, masih ada pintu ke mana saja berwujud Piala Afrika yang siap untuk menyajikan realita seperti ini kepada dunia, sehingga akan sulit bagi dunia untuk menutup mata tentang situasi di Afrika.

Sumber lain: The Guardian

foto: tibsnews.com

Komentar