Evolusi Suso Berjalan Mulus di Milan

Cerita

by Gunanda Hasdiansyah

Gunanda Hasdiansyah

Pecandu game Football Manager yang mencintai sepak bola dengan segala keindahannya

Evolusi Suso Berjalan Mulus di Milan

Pada pertandingan Derby della madonnina 21 November 2016 yang lalu, ada satu nama pemain yang cukup mencuri perhatian. Pemain itu bernama Jesus Fernandez Saez, atau lebih dikenal dengan Suso.

Pemain bernomor punggung 8 di Milan ini mencetak semua gol Milan pada pertandingan yang berakhir dengan skor sama kuat 2-2. Walaupun Milan gagal meraih kemenangan, permainan Suso pada pertandingan tersebut layak diapresiasi.

Performa menawannya ini pun ditunjukkan kembali di pertandingan selanjutnya ketika Milan melawat ke kandang Empoli. Suso mencetak satu gol dan dua asis pada pertandingan yang dimenangkan oleh Milan dengan skor 1-4.

Sebenarnya penampilan apik Suso musim ini sudah terlihat sejak awal musim. Menurut data WhoScored, Suso sudah mencetak 5 gol dan 6 asis sampai giornata ke-14 ini. Suso juga dianugerahkan empat kali gelar man of the match oleh WhoScored.

Jika kita melihat perjalanan karier pemain kelahiran Cadiz 23 tahun lalu ini, perjalanannya tidaklah terlalu mulus. Suso muda memulai karier sepakbola juniornya di Cadiz. Dia dianggap mempunyai permainan mirip David Silva. Dengan potensi yang dimilikinya ini membuat Liverpool membelinya dari Cadiz seharga 51 ribu paun.

Di Liverpool, Suso tidak langsung mendapatkan tempat di tim senior. Dia harus mengawali karier dari tim junior terlebih dahulu. Sampai 20 September 2012, Suso diberikan kesempatan untuk melakukan debut di tim utama Liverpool, ketika Liverpool melawan BSC Young Boys di Liga Europa UEFA.

Tetapi setelah menjalani debut tersebut, karier Suso di Liverpool tidak berjalan sesuai harapan. Suso hanya mampu tampil di 18 pertandingan di semua kompetisi bersama Liverpool.

Di sela-sela kontraknya bersama Liverpool, pada musim 2013/2014 Suso sempat dipinjamkan ke klub Spanyol, Almeria. Di Almeria ini, Suso bermain cukup baik, bermain di 33 pertandingan, dan berhasil mencetak tiga gol dan tujuh asis.

Dengan penampilan apiknya tersebut, tentunya Suso mempunyai harapan waktu bermain lebih ketika dia kembali ke Liverpool pada musim selanjutnya. Tetapi pada kenyataannya, manajer Liverpool saat itu, Brendan Rodgers, masih belum memercayai dirinya.

Ketika jendela transfer musim dingin dibuka pada tahun 2015, dia memutuskan untuk pindah ke Milan.

Namun, lagi dan lagi Suso harus menerima kenyataan pahit. Filippo Inzaghi, pelatih Milan saat itu, belum menaruh kepercayaan kepadanya untuk bermain di tim inti. Pada musim pertamanya di Milan, dia hanya tampil dalam lima pertandingan dan membukukan satu asis.

Ketika pergantian pelatih Milan pada musim 2015/2016 dari Filippo Inzaghi ke Sinisa Mihajlovic, peruntungan Suso pun belum membaik. Bahkan dia hanya tampil satu kali saja pada musim itu bersama Milan.

Pada jendela transfer musim dingin tahun 2016, Suso menerima tawaran peminjaman dari Genoa. Genoa yang selama ini dikenal sebagai tempat “sekolah” bagi para pemain muda Milan tentu diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada Suso untuk menunjukkan potensi yang dimilikinya.

Harapan itu pun terwujud, Suso tampil gemilang bersama Genoa dengan membukukan enam gol dan satu asis dari 19 pertandingan.

Setelah menjalani peminjaman selama setengah musim di Genoa, pada musim ini tepatnya musim 2016/2017, Suso kembali ke Milan yang dilatih oleh pelatih baru, Vincenzo Montella.

Milan yang pada musim ini mengusung semangat baru dengan para pemain mudanya tentu menjadi tempat yang tepat bagi Suso untuk menunjukkan bakat yang dimilikinya.

Pengalaman berharga yang didapatnya selama di Genoa betul-betul memberikan manfaat yang besar. Kepercayaan Montella untuk memberikannya tempat di posisi penyerang sayap kanan Milan dalam formasi 4-3-3 dibalas oleh Suso dengan penampilan yang gemilang pada musim ini.

Suso berhasil membuat Keisuke Honda merasakan hangatnya bangku cadangan sepanjang musim ini. Padahal ketika era Inzaghi dan Mihajlovic, Honda merupakan pemain inti di posisi penyerang sayap kanan Milan dalam formasi 4-3-3.

Keputusan Montella ini tidaklah salah, Suso memang memiliki kemampuan yang cukup bagus untuk bermain di sisi kanan penyerangan timnya. Dengan kaki dominan kiri, Suso mempunyai kemampuan menggiring bola yang cukup mumpuni. Selain itu juga Suso sering melakukan pergerakan cut inside dan melakukan tendangan dari luar kotak penalti yang tidak jarang membuahkan gol.

Gol pertamanya ketika melawan Inter adalah bukti dari pergerakan cut inside yang dilakukan oleh Suso. Dia bergerak dari sisi kanan ke dalam kotak penalti lawan sebelum melepaskan tembakan yang membuahkan gol.

Sekilas gaya permainan Suso jika diperhatikan mirip dengan Lionel Messi, tetapi jelas terlalu dini dan berlebihan mungkin untuk menyamakan Suso dengan Messi. Level permainan dan pengalaman mereka masih jauh berbeda sekarang.

Tetapi jika beberapa tahun lagi, nama Suso berpotensi mendunia dan kemampuannya akan semakin berkembang. Jangan heran jika hal itu terjadi, karena memang dia mempunyai potensi untuk menuju ke arah sana.

Jika dipoles dengan benar dan dapat terus bermain konsisten, bukan tidak mungkin Suso akan menjadi pemain andalan Milan dan bahkan tim nasional Spanyol di masa depan.

Untuk sekarang janganlah terlalu memberikan beban berlebih kepadanya. Dengan usianya yang masih muda, biarkanlah dia berkembang sebagaimana mestinya dan memilih jalan terbaiknya di dalam karier sepakbolanya.

(gun)

Komentar