Mumpung Belum Ada Australia

Cerita

by Dex Glenniza 26542

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Mumpung Belum Ada Australia

Pada tahun 2004, Australia menjadi juara sekaligus tuan rumah Piala Oseania (OFC Nations Cup). Pada tahun 2015, Australia menjadi juara sekaligus tuan rumah Piala Asia (AFC Asian Cup). Kedua kalimat di atas sebenarnya patut dipertanyakan.

Dalam satu dekade (lebih sedikit), Australia mampu menyeberang dari anggota Oseania menjadi anggota Asia, menjadi tuan rumah gelaran kompetisi tertinggi di kedua konfederasi benua tersebut, sekaligus menjadi juara. Ini adalah sebuah lompatan yang sangat besar dan luar biasa.

Pergeseran geografis sepakbola di negara Australia yang mencengangkan ini memang tidak terjadi begitu saja. Australia memang tidak ke mana-mana. Negara mereka masih merupakan bagian dari Benua Australia, sebuah benua yang dinamai dari negara terbesar yang berada di dalamnya. Cukup adil.

Baca juga: Kilas Balik Indonesia di Piala AFF

Ketika Frank Lowy, kepala Football Federation Australia (FFA) periode 2003-2015, menandai masuknya Australia ke Asia, sejarah telah berubah. Pada 1 Januari 2006, bendera Australia akhirnya bisa tertancap di markas AFC di Kuala Lumpur, Malaysia. Australia akhirnya berada di ambang era baru.

“Ini adalah langkah yang masuk akal dari sudut pandang Oseania maupun Asia. Kita (Asia) juga jadi memiliki negara baru yang kuat,” kata presiden AFC saat itu, Mohamed bin Hammam.

Keuntungan Australia bergabung dengan AFC

Australia resmi menjadi anggota ke-46 AFC dan pada saat yang sama akan memberikan Australia kesempatan yang jauh lebih realistis untuk mencapai putaran final Piala Dunia di masa depan. Mereka biasanya memenangkan zona kompetisi kualifikasi Oseania dengan mudah, dan kemudian goyah dalam pertandingan play-off dua leg melawan wakil Amerika Selatan atau Asia.

Saat itu, FFA berharap bahwa langkah tersebut akan memberikan kesempatan yang lebih “adil” bagi Australia untuk lolos ke Piala Dunia dan memungkinkan kesebelasan A-League (Liga Australia) untuk bersaing di Liga Champions Asia. Dengan demikian, dua hal di atas diharapkan juga akan meningkatkan standar sepakbola Australia di tingkat internasional dan tingkat kesebelasan.

Anthony Bubalo, seorang peneliti dari Lowy Institute, menyebutkan bahwa keikutsertaan Australia di Asia akan mengawali sesuatu yang menakjubkan.

Sejak 2006, berarti tim nasional dan kesebelasan-kesebelasan Australia telah berpartisipasi dalam pertandingan kandang dan tandang dalam jumlah yang sangat besar menghadapi setengah populasi dunia; karena setengah populasi dunia berada di Benua Asia.

“Mereka juga akan menghadapi tiga dari lima negara dengan ekonomi terbaik: Jepang, Tiongkok, dan India,” ujar Bubalo. “Potensi komersial dari hubungan melalui olahraga sepakbola ini adalah sangat jelas. Sponsor dari tim-tim Australia akan mendapatkan keuntungan melalui brand awareness,” tutupnya.

Mantan kepala asosiasi pemain profesional Australia (PFA), Craig Foster, juga menyatakan bahwa keikutsertaan kesebelasan-kesebelasan A-League di Liga Champions Asia akan “mendatangkan investor asing dan juga domestik yang baru untuk kesebelasan-kesebelasan Australia”.

Hal ini secara otomatis akan meningkatkan gaji pemain dan juga tingkat keatraktifan Liga Australia terhadap potensi pemain yang datang dari Asia dan juga Eropa. Selain itu, Foster juga memprediksi naiknya nilai sponsor dan pendapatan dari televisi, dan itu terbukti.

Sampai tahun 2016 ini, hanya satu kesebelasan A-League yang berhasil menjadi juara Liga Champions Asia, yaitu Western Sydney Wanderers pada 2014. Sementara Adelaide United hanya menjadi runner-up pada 2008.

Sudah jelas bahwa langkah FFA untuk pindah ke Asia menjadi keputusan yang pragmatis daripada terus-menerus hanyut di dalam pertentangan ideologis. Mereka mendapatkan hasilnya dari pendapatan yang bertambah, media exposure, profil yang lebih baik, dan status yang lebih kuat di mata sepakbola dunia.

Pertanyaan selanjutnya bagi Australia adalah: Jika dalam peta sepakbola mereka masuk ke dalam Benua Asia, maka di Asia bagian manakah Australia?

Australia adalah bagian dari Asia (Tenggara)

Kongres Luar Biasa Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (AFF) di Dili, Timor Leste, akhirnya memutuskan untuk menerima Australia menjadi anggota AFF pada 26 Agustus 2013.

Australia diterima secara langsung oleh 11 negara anggota AFF. Diterimanya Australia menjadi anggota AFF tentunya adalah sebuah keputusan yang logis karena mereka bertetangga yang paling dekat dengan ASEAN.

Tentu AFF harus menerima Australia untuk bergabung. Meskipun mereka pernah mengikuti Piala Asia Timur (EAFF East Asian Cup) 2013 dengan menduduki posisi juru kunci tanpa sekalipun meraih kemenangan, tidak mungkin Australia bergabung dengan Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tengah, ataupun wilayah Asia lainnya.

Berada di peringkat ke-40 dalam ranking FIFA, Australia adalah negara terbaik kedua se-Benua Asia (di bawah Iran di peringkat ke-27 dunia), dan tentunya di atas kertas, terkuat di Asia Tenggara.

Di bawah Australia ada Filipina, tapi mereka terlampau jauh peringkatnya, yaitu peringkat 124. Sementara Indonesia saat ini berada di peringkat ke-179 (ketiga dari bawah di Asia Tenggara). Jadi, apakah ini merupakan kabar baik atau kabar buruk bagi negara-negara AFF?

Baca juga: Peringkat Indonesia dan Rumus Menghitung Ranking FIFA

“Kesempatan ini akan dimanfaatkan untuk memajukan sepakbola Asia Tenggara dan juga Indonesia. Tentu ada positif dan negatifnya. Terjadi persaingan yang tambah berat. Pada Kongres AFF ini juga membahas program-program dan kegiatan AFF,” ujar Djohar Arifin Husin,yang pada 2013 masih menjabat sebagai ketua PSSI, sambil setengah berdalih.

Pertimbangan Australia mengikuti Piala AFF

Bergabungnya Australia ke AFF sebenarnya membuat “Negeri Kangguru” itu bisa ambil bagian di setiap turnamen di tingkat Asia Tenggara, di level junior maupun senior. Tapi mereka masih juga belum mau berpartisipasi di Piala AFF senior, meskipun mereka sudah mengikuti Piala AFF U-16, U-19 (gambar paling atas), Kejuaraan Wanita Piala AFF, dan juga Turnamen Futsal AFF.

Salah satu pertentangan dari pihak Australia sampai saat ini adalah bahwa jadwal Piala AFF mengganggu kalender A-League. Setiap pergelaran jadwal Piala AFF selalu berbentrokan dengan awal penyelenggaraan A-League. Jika Australia mengikuti Piala AFF dari awal sampai final, ini akan bentrok dengan A-League dari pekan ke-7 sampai pekan ke-11.

Namun, ini kembali kepada FFA sendiri. Tidak semua pemain Australia bermain di A-League. Ada banyak pemain Australia yang bermain di Eropa, Amerika, dan liga-liga sepakbola di benua Asia lainnya. Pada prinsipnya, Piala AFF memang mengganggu jadwal kalender sepakbola secara global.

Hal yang sama juga berlaku dengan penyelenggaraan Piala Afrika yang banyak mengganggu liga-liga sepakbola di Eropa.

Jika soal jadwal bisa dikesampingkan, Australia sebenarnya bisa memanfaatkan Piala AFF karena turnamen ini sudah diakui oleh FIFA sebagai turnamen internasional kategori A dan bisa memengaruhi perhitungan peringkat FIFA.

Baca juga: Piala AFF Naik Kelas, Kini Dihitung Poin FIFA

Jadi atau tidak, kita harus siap

Banyak opini pro dan kontra mengenai bergabungnya Australia ke Piala AFF. Jika Australia bergabung, ini berpotensi meningkatkan tingkat kompetisi Piala AFF sambil juga meningkatkan kekuatan negara-negara di Asia Tenggara lainnya secara bertahap. Tapi ini juga bisa membuat Piala AFF menjadi tidak menarik ke depannya karena Australia berpotensi merajai Asia Tenggara dan menjadi langganan juara.

Meskipun mereka bisa saja “ikut secara bersyarat” seperti hanya boleh mengikutsertakan kesebelasan muda (U23, U21, atau U19) seperti yang dilakukan oleh Pantai Gading di Piala CECAFA (piala regional di Benua Afrika), atau memang mereka tidak perlu, bukan tidak butuh, untuk mengikuti Piala AFF seperti absennya Amerika Serikat dan Meksiko di Copa Centroamericana.

Kita juga tidak boleh berkesimpulan bahwa Australia akan menurunkan skuat “lemah” mereka di Piala AFF. Kalaupun hal ini diberlakukan, ini tidak akan menegaskan bahwa kita (negara-negara ASEAN murni) bisa bersantai. Lagipula siapa yang berhak melarang Australia jika mereka ingin memakai pemain terbaik mereka?

Jadi, kita sebagai negara-negara di Asia Tenggara tetap harus mempersiapkan diri dengan baik. Piala AFF 2016 ini memang masih akan menjadi turnamen yang tidak akan diganggugugat oleh pendatang baru dari pulau besar di selatan.

Jika Australia jadi bergabung ke Piala AFF, entah kapanpun itu, banyak data di atas kertas dan juga sejarah menunjukkan bahwa Australia akan mendominasi, apalagi lawan yang mereka hadapi hanya peringkat ratusan di ranking FIFA.

Baca juga: Peduli Amat dengan Piala AFF!

Patut kita akui bahwa keikutsertaan Australia di Asia Tenggara memang akan menyulitkan negara-negara Asia Tenggara sendiri, tetapi secara perlahan tentunya juga akan meningkatkan permainan sepakbola ASEAN.

Lagipula, kan, tidak ada pelaut handal yang lahir di laut yang tenang. Begitupun Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo menjadi pemain terbaik dunia karena ia selalu berlatih dengan pemain-pemain level dunia, bukan pemain-pemain liga amatir di negara berkembang. Jadi, bersiaplah! Sementara untuk sekarang ini... manfaatkanlah dengan baik. Mumpung belum ada Australia...

Tulisan ini sebelumnya pernah terbit di detikSport dengan judul “Australia dan Asia Tenggara: Antara Ada dan Tiada” pada 2014, dan sudah dilakukan penyuntingan sesuai dengan keperluan.

Komentar