Peduli Amat dengan Piala AFF!

Cerita

by Dex Glenniza 34835

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Peduli Amat dengan Piala AFF!

Betapa tidak asyiknya jika judul di atas hanya dibaca sebagai judul saja: “Peduli Amat dengan Piala AFF!”, dengan tanda seru pula. Tapi tanpa bermaksud mendiskreditkan turnamen terbesar se-Asia Tenggara ini, kita memang harus bisa menilai Piala AFF dari berbagai sudut pandang.

Thailand, Singapura, Thailand, Thailand, Singapura, Singapura, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Itu adalah daftar juara Piala AFF sejak 1996 sampai 2014 yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali (kecuali tahun 2006 tidak ada, diganti dengan 2007).

Ada 12 negara anggota di AFF (ASEAN Football Federation) atau federasi sepakbola Asia Tenggara yang memperebutkan piala ini. Tapi kita mungkin bisa menganggapnya 11 saja, karena, entah karena alasan apa, Australia tidak kunjung berpartisipasi di Piala AFF meskipun mereka sudah bergabung menjadi negara anggota AFF pada 26 Agustus 2013.

Melihat pamor turnamen ini, tidak heran FIFA, sebagai organisasi sepakbola tertinggi di dunia, awalnya tidak menanggap Piala AFF sebagai turnamen resmi yang diakui. Tapi beberapa hari yang lalu kita sempat membaca jika Piala AFF 2016 akan naik kelas dan diakui oleh FIFA. Namun setelah kami telusuri lebih lanjut, ternyata hal ini memang hanya sebatas pengakuan.

FIFA menyebut bahwa turnamen ini diakui sebagai turnamen internasional kategori A. Menyebut Piala AFF sebagai turnamen internasional kategori A FIFA tidak lantas membuat turnamen ini setara dengan pertandingan kualifikasi Piala Dunia atau kualifikasi kompetisi tingkat konfederasi benua (memiliki koefisien 2,5), setara dengan kompetisi tingkat konfederasi benua atau Piala Konfederasi FIFA (koefisien 3,0), atau bahkan setara dengan pertandingan di Piala Dunia (koefisien 4,0).

Pengakuan ini hanya membuat Piala AFF masuk ke dalam agenda atau kalender FIFA, tapi hanya dihitung memiliki koefisien (multiplier) senilai 1,0 atau setara dengan pertandingan persahabatan.

Baca juga: Peringkat Indonesia dan Rumus Menghitung Ranking FIFA

Jadi, apakah Piala AFF sebegitu pentingnya untuk perhitungan peringkat FIFA? Jawabannya adalah iya, meskipun ternyata tidak terlalu signifikan.

Piala AFF sebagai kompetisi negara-negara “cupu”

Pada kenyataannya, bagi negara-negara di AFF, kecuali Australia, mereka harus peduli dengan turnamen ini. Piala AFF adalah penentu gengsi negara-negara di Asia Tenggara yang sejujurnya tidak (atau belum) bisa berbuat banyak di Benua Asia apalagi dunia.

Jika kita melihat dari sudut pandang global, Piala AFF ini hanya setara dengan kompetisi regional.

Bahkan jika ada pembahasan mengenai Piala Emas, yang saya berani taruhan jika hanya segelintir orang saja yang peduli; piala tingkat Benua Amerika Utara dan Amerika Tengah (CONCACAF) ini tingkatnya lebih tinggi daripada Piala AFF. Dalam koefisien FIFA, perhitungan poin pada Piala Emas setara dengan Piala AFC (Piala Asia), Piala Eropa (Euro), Copa America, Piala Afrika, dan Piala Oseania yaitu senilai 3,0 dengan babak kualifikasinya memiliki koefisien 2,5.

Sementara itu, jika ingin disetarakan, Piala AFF ini sama tingkatnya dengan kompetisi regional benua lainnya seperti di Benua Asia kita bisa mengambil contoh yaitu Piala Asia Timur (EAFF East Asian Championship), Piala Asia Selatan (SAFF Championship), dan Piala Asia Barat (WAFF Championship); di Benua Afrika kita bisa mengambil contoh yaitu CECAFA Cup, CEMAC Cup, COSAFA Cup, dan WAFU Nations Cup; serta di CONCACAF ada Copa Centroamericana dan Piala Karibia (Caribbean Cup).

Hanya ada 10 kompetisi regional di dunia. Eropa (UEFA) dan Amerika Selatan (CONMEBOL) tidak memiliki piala regional, sedangkan Oseania (OFC) sempat memiliki Piala Melanesia dan Piala Polynesia sebagai kompetisi regional mereka, tapi kedua kompetisi tersebut sudah ditiadakan sejak tahun 2000.

Sebagai tambahan, ada beberapa kompetisi regional itu yang tidak diikuti oleh negara yang bisa dibilang memiliki timnas yang “kuat”.

Amerika Serikat dan Meksiko tidak pernah berpartisipasi di Copa Centroamericana, Pantai Gading hanya mengirim tim lapis kedua mereka (tim B) di Piala CECAFA, dan mungkin ini yang menjadikan Australia masih enggan mengikuti Piala AFF sejak 2013, berarti dalam dua kesempatan termasuk tahun ini.

Piala AFF di mata dunia

FOX Sports sebagai pemegang hak siar Piala AFF menyebarkan siaran turnamen ini ke seantero Asia. Selain negara-negara Asia tenggara, FOX Sports menyebarkan Piala AFF 2014 sampai ke negara-negara seperti Pakistan, Maladewa, India, Sri Lanka, Nepal, Bhutan, Bangladesh, Macau, Hong Kong, Mongolia, Taiwan, Tiongkok, Korea Selatan, dan Papua Nugini.

Tapi ironisnya, sampai hari ini, 11 November 2016, Fox Sports Australia yang merupakan negara anggota AFF, tidak ikut menyiarkan Piala AFF di negara mereka.

Memang sangat terbatas untuk menonton Piala AFF jika kita tidak berada di Asia Tenggara atau beberapa negara di Benua Asia. Sampai sejauh ini, tidak ada informasi yang menyatakan bahwa Piala AFF akan disiarkan di Benua Eropa, Benua Amerika, Benua Afrika, atau Oseania (kecuali Papua Nugini lagi mungkin).

Nilai Piala AFF sebagai “turnamen tidak penting” didukung dengan fakta-fakta di atas. Hal yang sama juga berlaku jika ketika Piala Emas (padahal pamornya senilai koefisien 3,0) yang sempat disiarkan di Indonesia. Kita, rakyat Indonesia, tidak perlu-perlu amat atau tidak ingin-ingin amat menonton Piala Emas.

Begitu juga dengan masyarakat di Benua Amerika, Afrika, Eropa, atau Oseania, yang sama-sama tidak perlu-perlu amat atau tidak ingin-ingin amat menonton Piala AFF; bahkan Piala Asia sekalipun.

Masa depan Piala AFF

Merenungkan arti kehadiran Piala AFF, kita gak harus serius-serius amat, kok, dan justru harus peduli. Bagi negara-negara “lemah” di Asia, kehadiran kompetisi regional memang seperti pesta, seperti oase di tengah padang pasir.

Wajar saja, meskipun memiliki luas wilayah yang paling luas dengan 47 negara anggota, Benua Asia tidak memiliki jatah negara yang banyak untuk Piala Dunia, tidak seperti UEFA (55 negara anggota) dan CONMEBOL (10 negara anggota).

Jadi bagi negara-negara seperti Indonesia, Thailand, bahkan India, Irak, Iran, dan Jepang sekalipun, kehadiran kompetisi regional menjadi salah satu hal terpenting. Sejujurnya Piala AFF ini memang “cupu” jika dipandang dari luar, tapi keren bagi kita di Asia Tenggara.

Ini seperti masyarakat di kota yang bertemu dengan pesta dangdut di pedesaan. Mereka bisa saja mengecap pesta dangdut itu sebagai kegiatan rendahan, tapi bagi masyarakat pedesaan, pesta itu adalah bentuk aktualisasi diri yang nyata.

Indonesia sendiri belum pernah memenangkan turnamen “cupu” ini meskipun sempat masuk final empat kali. Ironisnya, Indonesia selalu mengirimkan kekuatan terbaiknya. Padahal beberapa negara lain, salah satunya Thailand, mulai mengirimkan banyak pemain muda untuk berlaga di ajang dua tahunan ini karena mungkin sudah menyadari betapa kurang bergengsinya ajang ini sehingga lebih memilih untuk memberikan jam terbang pada pemain mudanya agar bisa meningkatkan level permainan.

Masa depan Piala AFF dan piala regional lainnya masih akan terus cerah. Tapi memang, sesuai judul ini, peduli amat, sih, dengan Piala AFF. Tapi... tergantung siapa dulu yang memandang. Yang jelas bagi kita, Indonesia, Piala AFF tetap menjadi salah satu turnamen yang penting, setidaknya untuk bisa menunjukkan kekuatan kita pada negara-negara tetangga, sebelum meraih mimpi-mimpi lain yang lebih besar seperti juara Piala Asia, hingga bisa berlaga di Piala Dunia.

Karena ya gimana mau main di Piala Dunia kalau tetangga-tetangga aja belum bisa dikalahkan?

Komentar